Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi mual saat terkena ac mobil (freepik.com/freepik)
ilustrasi mual saat terkena ac mobil (freepik.com/freepik)

Fenomena pengendara yang melakukan pelanggaran namun justru memberikan reaksi lebih galak saat ditegur telah menjadi pemandangan umum yang memicu konflik di jalan raya. Perilaku ini sering kali membingungkan masyarakat karena secara logika, pihak yang melakukan kesalahan seharusnya menunjukkan sikap penyesalan atau setidaknya menerima masukan dengan tenang.

Namun, di balik reaksi agresif tersebut, terdapat kompleksitas psikologis yang melibatkan ego, rasa malu, hingga insting bertahan hidup yang terdistorsi. Jalan raya bukan sekadar lintasan transportasi, melainkan sebuah ruang sosial yang penuh tekanan di mana identitas dan harga diri seseorang sering kali ikut dipertaruhkan dalam setiap interaksi antar-pengguna jalan.

1. Mekanisme pertahanan diri dan penghindaran rasa malu

ilustrasi kemarahan (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Secara psikologis, reaksi galak dari orang yang bersalah sering kali merupakan bentuk mekanisme pertahanan diri yang disebut dengan defensiveness. Ketika seseorang ditegur atas kesalahannya di ruang publik, otak akan mempersepsikan teguran tersebut sebagai ancaman terhadap citra diri atau ego. Rasa malu yang muncul secara tiba-tiba akibat tertangkap basah melanggar aturan menciptakan ketidaknyamanan emosional yang intens, sehingga kemarahan digunakan sebagai "tameng" untuk menutupi rasa malu tersebut.

Kemarahan berfungsi sebagai pengalih perhatian agar fokus perdebatan bergeser dari kesalahan yang dilakukan menjadi konfrontasi personal. Dengan bersikap lebih galak, pelaku pelanggaran berusaha untuk mendominasi situasi dan mengintimidasi pihak yang menegur agar mereka merasa mundur. Dalam kondisi ini, logika sering kali tertutup oleh emosi primitif yang bertujuan untuk mempertahankan harga diri di depan orang asing, meskipun tindakan awal yang dilakukan jelas-jelas menyalahi aturan lalu lintas.

2. Bias kognitif dan persepsi superioritas di jalan raya

ilustrasi pria marah kepada bawahannya (freepik.com/katemangostar)

Banyak pengendara terjebak dalam bias kognitif yang disebut sebagai illusory superiority, di mana mereka merasa memiliki kemampuan atau hak yang lebih tinggi dibandingkan orang lain di jalan raya. Ketika seseorang merasa bahwa gaya berkendaranya sudah benar atau merasa memiliki urgensi yang lebih tinggi daripada pengguna jalan lain, mereka akan menganggap teguran sebagai bentuk gangguan atau penghinaan. Mereka membenarkan kesalahan sendiri dengan alasan situasional, seperti sedang terburu-buru, namun sangat kritis terhadap kesalahan orang lain.

Ketidakmampuan untuk melakukan introspeksi secara instan di bawah tekanan stres jalan raya membuat pelaku merasa sebagai "korban" dari teguran yang dianggap kasar atau tidak perlu. Akibatnya, mereka merasa memiliki hak moral untuk membalas dengan nada yang lebih tinggi. Persepsi bahwa jalanan adalah milik bersama sering kali luntur dan digantikan oleh sikap teritorial, di mana teguran dari orang asing dianggap sebagai invasi terhadap otoritas pribadi mereka atas kendaraan dan tindakan mereka sendiri.

3. Dampak deindividuasi dan anonimitas di dalam kendaraan

ilustrasi macet (pexels.com/Anastasiia Chaikovska)

Kendaraan sering kali dianggap sebagai ruang privat yang bergerak, yang menciptakan efek deindividuasi atau hilangnya rasa tanggung jawab individual saat berada dalam kelompok atau massa. Saat berada di dalam mobil atau di balik helm, pengendara merasa memiliki anonimitas tertentu yang membuat mereka berani berperilaku lebih agresif daripada jika mereka berinteraksi secara tatap muka di ruang tenang. Batasan fisik berupa logam dan kaca menciptakan jarak psikologis yang membuat pengendara merasa lebih terlindungi untuk meluapkan emosi.

Tekanan lingkungan seperti kemacetan, suhu udara yang panas, dan kelelahan fisik juga menurunkan ambang batas kesabaran seseorang. Ketika semua faktor lingkungan ini bertemu dengan teguran yang memicu konflik, ledakan emosi menjadi sulit terbendung. Sikap galak tersebut merupakan akumulasi dari rasa frustrasi yang kemudian dilampiaskan kepada orang pertama yang berani mengusik kenyamanan semu mereka. Tanpa adanya kontrol emosi yang baik, jalan raya akan terus menjadi medan tempur bagi ego yang terluka daripada menjadi sarana transportasi yang aman dan tertib.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team