Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi baterai mobil listrik (byd.com)
Ilustrasi baterai mobil listrik (byd.com)

Intinya sih...

  • Praktik berbahaya dan modus operandi bengkel rahasiaInvestigasi mengungkapkan bengkel ilegal membongkar sel baterai secara kasar, lalu menjualnya kembali. Sel yang rusak dihancurkan tanpa perlindungan diri.

  • Keuntungan ekonomi yang melumpuhkan industri resmiBengkel ilegal menawarkan harga beli 30 persen lebih tinggi, menyebabkan perusahaan resmi kekurangan bahan baku dan investasi teknologi canggih menjadi sia-sia.

  • Ancaman lingkungan dan langkah regulasi baru 2026Dampak lingkungan rendahnya pemulihan logam, penggunaan sel rekondisi berisiko kebakaran. Pemerintah Tiongkok akan memberlakukan regulasi baru

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Industri kendaraan listrik di Tiongkok kini tengah menghadapi sisi gelap yang mengancam keberlanjutan lingkungan. Laporan terbaru mengungkapkan bahwa sekitar 75 persen baterai kendaraan listrik (EV) bekas di negara tersebut berakhir di tangan bengkel-bengkel ilegal tak berizin, alih-alih diproses oleh fasilitas daur ulang resmi yang memenuhi standar keselamatan.

Pasar "abu-abu" ini berkembang pesat karena menawarkan keuntungan finansial yang sangat menggiurkan bagi para pelakunya, namun dengan mengabaikan risiko keselamatan pekerja dan pencemaran lingkungan. Fenomena ini menjadi tantangan besar bagi pemerintah Tiongkok di saat gelombang besar baterai EV mulai memasuki masa pensiun dalam skala masif.

1. Praktik berbahaya dan modus operandi bengkel rahasia

Baterai mobil listrik Suzuki e Vitara (marutisuzuki.com)

Berdasarkan investigasi yang dilansir dari carnewschina.com, bengkel-bengkel ilegal ini biasanya beroperasi secara tersembunyi tanpa papan nama dan dengan pengawasan ketat. Di lokasi tersebut, ratusan paket baterai dibongkar secara kasar menggunakan alat sederhana seperti bor dan mesin pemotong. Sel baterai yang masih memiliki kapasitas di atas 50 persen akan "dipercantik" dengan lapisan baru untuk dijual kembali sebagai unit rekondisi.

Sel-sel hasil rekondisi ini biasanya menyasar pasar kendaraan roda dua, roda tiga, hingga perangkat penyimpanan energi (power bank). Sementara itu, sel yang rusak akan dihancurkan untuk diambil logam berharganya seperti nikel, kobalt, dan litium. Proses ini sering kali dilakukan tanpa alat pelindung diri, sehingga serpihan logam dan bahan kimia berbahaya berisiko tinggi melukai pekerja serta mencemari tanah di sekitarnya.

2. Keuntungan ekonomi yang melumpuhkan industri resmi

ilustrasi stasiun pengisian baterai mobil listrik (pexels.com/philippe weickmann)

Salah satu alasan utama mengapa pasar abu-abu ini mendominasi adalah kemampuan mereka menawarkan harga beli yang jauh lebih tinggi. Bengkel ilegal dapat memberikan penawaran hingga 30 persen lebih mahal dibandingkan perusahaan resmi yang masuk dalam "daftar putih" pemerintah. Dengan modal awal yang rendah, sebuah bengkel kecil mampu meraup keuntungan sekitar 10.000 yuan atau setara Rp22,2 juta (kurs 1 yuan = Rp2.222) per satu unit kendaraan listrik.

Kesenjangan harga ini menyebabkan perusahaan daur ulang resmi mengalami krisis bahan baku. Meskipun Tiongkok memiliki kapasitas daur ulang nominal hingga 3,8 juta ton, tingkat pemanfaatan fasilitas resmi tercatat kurang dari 18 persen. Akibatnya, banyak investasi teknologi canggih milik perusahaan besar seperti CATL menjadi sia-sia karena pasokan baterai bekas terus dicegat oleh para pengepul ilegal di lapangan.

3. Ancaman lingkungan dan langkah regulasi baru 2026

ilustrasi mengisi baterai mobil listrik (unsplash.com/chuttersnap)

Dampak lingkungan dari praktik ilegal ini sangat mengkhawatirkan karena rendahnya tingkat pemulihan logam. Perusahaan resmi mampu memulihkan litium hingga di atas 90 persen, sedangkan bengkel kecil hanya melakukan pembongkaran dasar yang menghasilkan limbah "bubuk hitam" yang mencemari lingkungan. Selain itu, penggunaan sel baterai rekondisi dengan kapasitas yang tidak seragam sangat berisiko memicu kebakaran atau ledakan pada perangkat elektronik konsumen.

Menghadapi situasi ini, pemerintah Tiongkok akan memberlakukan regulasi baru mulai April 2026 untuk memperkuat sistem keterlacakan baterai. Mengingat volume baterai yang pensiun diprediksi menembus 1 juta ton pada tahun 2030, pengawasan terhadap rantai "produksi–daur ulang–regenerasi" menjadi harga mati. Kementerian Ekologi dan Lingkungan Tiongkok pun terus menggencarkan ribuan inspeksi untuk memberantas bengkel ilegal demi menjamin keamanan aset serta kelestarian ekosistem otomotif masa depan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team