Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Reportase Lengkap Jalur Pantura: Beneran Worth It Buat Mudik?
Tim Jalan Pulang menelusuri jalur Pantura dari Jakarta hingga Surabaya (IDN Times/Dwi Agustiar)
  • Tim Jalan Pulang IDN Times menelusuri Jalur Pantura dari Jakarta ke Surabaya selama 12 hari, merekam kondisi jalan, lalu lintas, kuliner, dan wisata di sepanjang rute.
  • Jalur Pantura dipenuhi lubang dan truk besar yang mendominasi jalan, membuat perjalanan lebih lambat, berisiko bagi kendaraan kecil, serta kurang nyaman karena debu dan panas.
  • Meski tanpa biaya tol, mudik lewat Pantura tidak jauh lebih hemat karena potensi kerusakan kendaraan dan konsumsi bahan bakar tinggi; namun tetap menarik bagi pemudik berbudget terbatas.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Tim Jalan Pulang IDN Times kembali ke jalan. Kali ini kami menelusuri Jalur Pantai Utara (Pantura) untuk mereportase jalur mudik 2026. Perjalanan kami mulai dari Kantor IDN HQ di Jakarta menuju Surabaya melalui Cirebon, Semarang, Demak, Rembang, dan Gresik. Perjalanan memakan waktu 12 hari, mulai 13 hingga 24 Februari 2026.

Total jarak sekitar 2.200 km, karena di sela perjalanan kami sempat melipir ke Candi Borobudur di Magelang dan Yogyakarta, sebelum kembali ke Jalur Pantura. Kami tak hanya merekam kondisi jalan dan situasi lalu lintas, tapi juga kuliner dan tempat-tempat wisata religi yang tersebar di sepanjang Jalur Pantura.

Ada dua unit mobil yang kami gunakan dalam perjalanan ini, yakni Toyota Corolla Cross Hybrid dan Daihatsu Terios. Kedua mobil ini memiliki karakter dan rasa berkendara yang berbeda, masing-masing dengan keunggulan dan kekurangannya yang akan kami bahas pada artikel berikutnya.

So, setelah menuntaskan perjalanan berhari-hari yang melelahkan, kini saatnya menjawab pertanyaan apakah Jalur Pantura layak dilewati saat mudik dan benarkah bisa lebih hemat dibandingkan mudik lewat tol Transjawa?

1. Lubang tersebar di sepanjang jalan

Tim Jalan Pulang menelusuri jalur Pantura dari Jakarta hingga Surabaya (IDN Times/Dwi Agustiar)

Sebelum memutuskan mudik lewat Jalur Pantura, sebaiknya kamu harus menyadari jalur legendaris ini penuh lubang. Dari pantauan kami, lubang-lubang jalan tersebar hampir secara merata, mulai dari Cirebon hingga Surabaya. Lubang-lubang ini, selain bikin perjalanan mudik jadi gak nyaman, juga sangat berbahaya karena bisa menyebabkan kecelakaan.

Jadi, buat kamu yang mudik naik motor, harus ekstra waspada kalau lewat Jalur Pantura. Hindari perjalanan mudik pada malam hari karena lubang sering tak terlihat saat gelap. Sementara buat kamu yang mudik naik mobil, pastikan ground clearance mobilmu cukup tinggi. Oya, lubang jalan juga bisa membuat kaki-kaki mobil rusak, lho.

Dan jujur saja, kami tidak merekomendasikan mudik lewat Pantura naik mobil sedan atau hatchback. Sebab ground clearance yang rendah berpotensi membuat mobil sedan dan hatchback gasruk saat melibas lubang.

Selain lubang yang berserakan di sepanjang jalan, Jalur Pantura juga penuh debu dan pasir halus. Debu beterbangan selain karena embusan angin juga lantaran gesekan ban mobil truk dengan permukaan jalan yang rusak. Selain itu, asap hitam dari truk yang melintas sering kali juga mengganggu kenyamanan berkendara.

Faktor lain yang harus kamu pertimbangkan juga cuaca dan suhu yang relatif panas. Situasi ini membuat istirahat di pinggir jalan atau di rest area menjadi kurang nyaman.

2. Truk mendominasi jalan

Tim Jalan Pulang menelusuri jalur Pantura dari Jakarta hingga Surabaya (IDN Times/Dwi Agustiar)

Tak keliru kalau Jalur pantura sering diidentikan dengan truk. Sebab, saat kami melintas di jalur ini, deretan truk memang tak ada habisnya. Setelah menyalip satu truk, ada lagi truk di depannya, begitu terus sampai kami lelah sendiri. Uniknya, kebanyakan truk melaju anteng di jalur kanan. Sehingga sering kali kami harus mengambil jalur kiri untuk menyalip.

Sebenarnya supir truk punya alasan sendiri kenapa mereka lebih suka melaju di jalur kanan. Sebab, truk biasanya membawa muatan yang cukup berat. Jika mereka berhenti karena terhalang mobil atau motor, maka truk akan membutuhkan effort besar untuk berakselerasi dari awal. Itu sebabnya, truk lebih suka berjalan di jalur kanan yang lebih bebas hambatan dibandingkan jalur kiri. Buat mereka lebih baik jalan pelan tapi konstan dibandingkan cepat tapi harus stop and go.

Oya, ada fakta unik yang kami temukan di Pantura, yakni populasi bus yang sangat minim. Sepanjang melintasi Jalur Pantura, tidak banyak bus yang kami temukan. Sangat mungkin bus kini lebih memilih lewat jalan Tol Transjawa yang lebih cepat dan lebih bebas hambatan.

3. Warung makan kini sepi pembeli

Tim Jalan Pulang menelusuri jalur Pantura dari Jakarta hingga Surabaya (IDN Times/Dwi Agustiar)

Keputusan para supir bus untuk lewat Tol Transjawa ternyata berdampak serius pada perekonomian di sekitar Jalur Pantura. Sebab, bus biasanya membawa penumpang untuk singgah di rumah makan. Dari para penumpang itulah rumah-rumah makan bisa bertahan. Kini, setelah bus tak lagi lewat pantura, rumah-rumah makan pun kehilangan konsumen utama mereka.

Di sepanjang jalan, terutama dari Cikampek hingga Cirebon, banyak warung yang tutup. Bangunan-bangunan warung makan itu terlihat menyedihkan. Parkiran luas di depan rumah makan yang biasanya disesaki bus, kini ditumbuhi rerumputan tinggi. Bahkan beberapa warung makan yang dulu ramai kini hanya tinggal kenangan.

Meski begitu, masih ada warung-warung makan kecil yang tetap bertahan. Warung-warung ini menjadi tempat beristirahat para sopir truk, baik untuk rebahan atau sekadar makan dan ngopi. Kami sempat mampir ke salah satu warung ini dan menemukan ada makanan yang dijual dengan harga Rp500 perak. Sangat murah bahkan untuk ukuran warung kecil.

Meski tak banyak lagi warung makan, namun pemudik tetap bisa leluasa mencari tempat beristirahat, salah satunya di SPBU atau masjid yang banyak tersebar di sepanjang jalan. Pilihan lainnya adalah beristirahat di restoran di kota-kota besar, seperti Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang, atau Kudus. Jarak antarkota-kota tersebut tidak begitu jauh, kok.

4. Benarkah lewat Jalur Pantura lebih hemat?

Tim Jalan Pulang menelusuri jalur Pantura dari Jakarta hingga Surabaya (IDN Times/Dwi Agustiar)

Sebelumnya kami menganggap perjalanan mudik lewat Pantura pasti lebih murah dibandingkan lewat Tol Transjawa. Sebab, kami tak harus membayar biaya tol yang bisa tembus hingga Rp950 ribu untuk perjalanan sekali jalan dari Jakarta menuju Surabaya.

Namun, setelah dihitung-hitung, ternyata selisih pengeluaran secara keseluruhan tidak jauh berbeda. Sebab, meski tak harus membayar biaya tol, namun kami harus mempertimbangkan untuk servis kaki-kaki mobil selepas mudik lantaran begitu banyak lubang yang kami hajar di sepanjang perjalanan.

Biaya cek kaki-kaki mobil, termasuk spooring and balancing, tentu saja tidak murah. Belum lagi kalau ada komponen kaki-kaki yang rusak dan harus diganti, seperti pelek pecah atau peyang. Sangat mungkin biaya servis dan perbaikan kaki-kaki mobil justru lebih mahal dibandingkan biaya tol.

Selain itu, lewat Pantura ternyata juga tidak lebih irit bahan bakar dibandingkan melalui jalan Tol Transjawa. Ini, antara lain, karena kami tidak bisa melaju secara langsam di sepanjang Jalur Pantura. Banyak rintangan di sepanjang jalan, seperti lampu merah, pasar tumpah, truk yang seolah tak ada habisnya, lalu-lalang sepeda motor, hingga mobil parkir.

Situasi ini mengharuskan kami berkendara secara stop and go, membuat konsumsi bahan bakar menjadi lebih boros. Bandingkan dengan perjalanan lewat jalan tol yang bebas hambatan. Mobil bisa melaju dengan kecepatan yang konstan sehingga konsumsi bensin jadi lebih irit.

Pengeluaran lain yang cukup besar ada di makanan. Memang sih harga makanan dan minuman di Pantura tidak begitu mahal, tapi frekuensi waktu makannya lebih sering. Sebab, waktu tempuh lewat Pantura jauh lebih lama dibandingkan lewat Tol Transjawa.

Selain itu, durasi perjalanan lewat Pantura jauh lebih lama dibandingkan lewat Tol Transjawa. Jika lewat Tol Transjawa, waktu tempuh dari Jakarta menuju Surabaya dengan kecepatan rata-rata 100 km/jam sekitar 9-10 jam perjalanan. Ditambah 2 jam untuk beristirahat, total waktu mungkin tembus hingga 12 jam. Jika lewat pantura, waktu tempuh dari Jakarta menuju Surabaya bisa mencapai 18-20 jam perjalanan. Jangan lupa, time is money!

Meski ternyata tidak lebih ekonomis dari Tol Transjawa, jalur Pantura tetap menjadi pilihan bagi mereka yang ingin menekan pengeluaran tunai secara langsung di perjalanan. Jalur ini memberikan fleksibilitas untuk memilih warung makan rakyat dengan harga yang jauh lebih murah dan porsi yang lebih manusiawi dibandingkan makanan di rest area tol yang cenderung mahal.

So, bagi pemudik yang tidak terburu-buru, selisih biaya tol tersebut bisa dialihkan menjadi anggaran belanja oleh-oleh atau uang saku untuk keluarga di kampung halaman. Jadi, hemat atau tidaknya jalur ini sangat bergantung pada kesabaran kamu dalam menghadapi dinamika jalanan dan kemampuan menjaga ritme berkendara agar tetap efisien.

Editorial Team