Tim Jalan Pulang menelusuri jalur Pantura dari Jakarta hingga Surabaya (IDN Times/Dwi Agustiar)
Kebanyakan pemudik akan memilih jalan tol saat mudik dari Jakarta ke Cirebon. Sebab, lewat tol pasti lebih cepat. Jika kondisi lalu lintas lancar, jarak sekitar 200 km dari Jakarta ke Cirebon bisa ditempuh dengan waktu 3-3,5 jam saja. Sebaliknya, kalau lewat Pantura waktu tempuhnya bisa melar hingga 6-7 jam!
Selain itu, lewat tol juga bisa meminimalisasi risiko. Sebab, jalan tol dirancang sebagai jalur bebas hambatan. Pengendara tidak akan menemukan kendaraan dari lawan arah dan tidak ada warga yang tiba-tiba menyeberang. Kecepatan kendaraan pun rata-rata stabil pada 80-100 km/jam.
Kondisi Jalur Pantura justru sebaliknya: banyak motor melaju melawan arah, banyak warga yang menyeberang jalan, dan kecepatan kendaraan jarang sekali bisa menyentuh 100 km/jam karena padatnya jalur serta lubang yang bertebaran di sepanjang jalan.
Jadi pertanyaan, "Mengapa tidak lewat tol saja?" cukup relevan.
Tapi, meski jalan tol menawarkan begitu banyak kemudahan untuk para pemudik, Tim Jalan Pulang tahun ini tetap memutuskan lewat Pantura. Alasannya, kami ingin melihat situasi terkini di jalur ini: Benarkah jalur ini kini sepi setelah dibangunnya Tol Transjawa? Benarkah banyak restoran yang tutup karena ditinggal pemudik? Benarkah jalur Pantura kini mirip peyek yang bergelombang dan penuh lubang?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuat kami akhirnya memilih Jalur Pantura. Selain itu, ada satu alasan lagi kenapa kami memilih Jalur Pantura, yakni karena kami ingin mengenang perjalanan mudik saat kami kecil dulu, saat jalan tol Transjawa belum dibangun. Saat itu, Jalur Pantura adalah jalur utama para pemudik. Ribuan kendaraan, dari mobil pribadi, bus, truk, hingga sepeda motor tumplek-blek di jalur ini. Susana saat ini memang semrawut tapi nganeni.
Nah, susana itulah yang ingin kami kenang dengan menelusuri kembali Jalur Pantura. Kami memulai perjalanan dari Kantor IDN Times di Jakarta menuju Cirebon sebagai kota persinggahan pertama.