Tim Jalan Pulang menelusuri jalur Pantura dari Jakarta hingga Surabaya (IDN Times/Dwi Agustiar)
Ada satu pemandangan melankolis yang kami lihat saat melintas di Pantura, yakni deretan bangunan rumah makan yang sepi pembeli. Bahkan banyak rumah makan yang terlihat tutup dengan kondisi bangunan mengenaskan. Lahan parkir luas di depan rumah makan yang pernah menampung bus-bus antarkota kini kosong melompong, hanya menyisakan tumpukan debu dan rumput liar yang tumbuh di antara kisi-kisi konblok.
Sepinya rumah-rumah makan sebanding dengan jarangnya bus antarkota yang melintas di Pantura. Sepanjang pengamatan kami, hanya satu-dua bus yang terlihat. Sangat mungkin bus-bus yang dulu menjadi raja jalanan di Pantura kini telah beralih ke Tol Transjawa. Sebab, para penumpang bus tentu lebih ingin cepat sampai tujuan, sesuatu yagn tidak bisa diberikan oleh Jalur Pantura.
"Restoran-restoran di Pantura itu sangat mengandalkan penumpang bus. Sekarang, hampir semua bus sudah lewat tol, jadi tidak ada lagi penumpang mampir di restoran. Itu sebabnya banyak restoran di Pantura yang tutup," kata Adi, pemilik warung di Pantura, saat kami berbicang dengan kami.
Kehadiran Tol Transjawa ternyata memang berdampak sangat signifikan terhadap eksistensi rumah-rumah makan di sepanjang Jalur Pantura, setidaknya di jalur Jakarta-Cirebon. Beberapa warung makan memang masih eksis, namun tak seramai ketika tol Transjawa belum dibangun. Kebanyakan warung makan yang masih buka biasanya adalah langganan sopir truk.
Dan memang Jalur Pantura kini lebih didominasi truk. Dari Cikampek hingga Cirebon, truk tak pernah hilang dari pandangan kaca depan mobil kami. Mereka berjalan beriringan di kanan jalur. Sehingga, aturan menyalip dari kanan tak berlaku di Pantura, karena hampir semua truk berjalan di jalur kanan. Jika ingin menyalip, gunakan jalur kiri. Tapi hati-hati, sebab sering kali ada pemotor yang melawan arus di trotoar!
Untungnya, salah satu mobil yang kami gunakan adalah Toyota Cross hybrid. Dengan mobil ini, urusan salip-menyalip truk jadi menyenangkan karena tarikan mesinnya yang cukup responsif.