Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi airbag (Pexels/ Markus Spiske)
Ilustrasi airbag (Pexels/ Markus Spiske)

Intinya sih...

  • Perbandingan desibel airbag dan pesawat jet

  • Risiko trauma akustik pasca-tabrakan

  • Inovasi teknologi pelindung telinga sebelum benturan terjadi

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Kehadiran airbag dalam sistem keselamatan otomotif sering kali dianggap sebagai bantalan lembut yang muncul secara ajaib saat terjadi benturan. Namun, di balik kemampuannya melindungi tubuh dari benturan keras, tersimpan sebuah fakta teknis yang sering kali mengejutkan para korban kecelakaan: suara ledakannya yang luar biasa memekakkan telinga.

Banyak orang yang selamat dari tabrakan justru merasa lebih trauma dengan bunyi dentuman yang dihasilkan daripada benturan fisiknya sendiri. Suara ini bukan sekadar bunyi plastik yang pecah, melainkan hasil dari ledakan kimiawi terkontrol yang terjadi dalam hitungan milidetik untuk memastikan kantong udara mengembang tepat pada waktunya.

1. Perbandingan desibel yang melampaui suara pesawat jet

Ilustrasi Airbag Toyota Vios G TSS (toyota.astra.co.id)

Suara yang dihasilkan saat airbag mengembang berada pada level yang sangat ekstrem, yakni mencapai kisaran 160 hingga 170 desibel. Angka ini secara signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan suara mesin pesawat jet yang sedang lepas landas, yang biasanya berada di level 140 desibel jika didengar dari jarak dekat. Sebagai perbandingan tambahan, batas ambang nyeri bagi telinga manusia rata-rata dimulai pada 120 desibel, sehingga ledakan airbag sebenarnya sudah melampaui batas kenyamanan pendengaran manusia.

Intensitas suara yang begitu tinggi terjadi karena kebutuhan sistem untuk mengembangkan kantong udara dengan kecepatan tinggi, yakni sekitar 300 kilometer per jam. Ledakan kimiawi yang memicu gas nitrogen harus terjadi secara instan agar kantong sudah terisi penuh sebelum kepala atau dada pengemudi menghantam kemudi. Akibatnya, tekanan udara di dalam kabin yang tertutup rapat melonjak secara tiba-tiba, menciptakan gelombang kejut suara yang sangat kuat dan bisa dirasakan oleh seluruh saraf pendengaran.

2. Risiko trauma akustik dan gangguan pendengaran pasca-tabrakan

ilustrasi airbag Suzuki Ertiga (auto.suzuki.co.id)

Paparan suara yang mencapai 170 desibel, meskipun hanya berlangsung dalam sepersekian detik, memiliki potensi nyata untuk menyebabkan trauma akustik. Banyak korban kecelakaan melaporkan adanya sensasi telinga berdenging atau tinnitus, bahkan kehilangan pendengaran sementara tepat setelah airbag mengembang. Dalam beberapa kasus yang lebih jarang, tekanan suara yang begitu besar di dalam ruang kabin yang sempit dapat menyebabkan kerusakan pada gendang telinga atau gangguan pada tulang-tulang kecil di telinga tengah.

Risiko ini diperparah jika jendela mobil dalam keadaan tertutup rapat, karena tekanan udara tidak memiliki jalan keluar saat ledakan terjadi. Meskipun cedera pendengaran ini sering kali bersifat sementara dan membaik seiring berjalannya waktu, fakta ini menunjukkan bahwa sistem keselamatan airbag memang dirancang dengan prioritas utama untuk menyelamatkan nyawa dari cedera fatal pada kepala dan leher, sekalipun harus mengorbankan kenyamanan pendengaran pengendaranya.

3. Inovasi teknologi pelindung telinga sebelum benturan terjadi

Ilustrasi airbag (Pexels/Dietmar Janssen)

Menyadari adanya risiko gangguan pendengaran tersebut, beberapa produsen mobil mewah seperti Mercedes-Benz telah mengembangkan teknologi perlindungan proaktif yang dikenal sebagai Pre-Safe Sound. Sistem ini bekerja dengan cara yang sangat cerdas; ketika sensor kendaraan mendeteksi bahwa tabrakan tidak mungkin dihindari, sistem audio mobil akan mengeluarkan sinyal suara khusus yang disebut sebagai pink noise sesaat sebelum dentuman airbag terjadi.

Suara pink noise ini memiliki frekuensi tertentu yang dirancang untuk memicu refleks alami pada otot di telinga manusia, yang disebut sebagai refleks stapedius. Refleks ini secara otomatis mengontraksi otot di telinga tengah untuk mengurangi transmisi energi suara yang masuk ke telinga bagian dalam. Dengan kata lain, teknologi ini "menutup" telinga secara biologis sesaat sebelum ledakan keras terjadi, sehingga gendang telinga terlindungi dari tekanan suara yang memekakkan. Inovasi ini membuktikan bahwa perlindungan keselamatan modern kini tidak hanya fokus pada fisik luar, tetapi juga pada kesehatan organ sensorik pengendara.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team