Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Hal tentang Regenerative Braking EV, Benarkah BIsa Hemat Energi?
ilustrasi mobil listrik (pexels.com/Holyson h)
  • Regenerative braking mengubah energi pengereman menjadi listrik yang disalurkan kembali ke baterai, membuat mobil listrik lebih efisien dibanding kendaraan konvensional.
  • Sistem ini paling efektif di lalu lintas padat karena seringnya deselerasi memungkinkan pemulihan energi lebih besar dibanding perjalanan stabil di jalan tol.
  • Selain meningkatkan efisiensi, teknologi ini memperpanjang usia rem mekanis dan memberi sensasi berkendara unik meski tetap memerlukan pengisian daya eksternal.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Mobil listrik semakin sering menjadi perbincangan karena dianggap lebih efisien dan modern dibanding kendaraan bermesin konvensional. Salah satu teknologi yang paling sering dibahas pada kendaraan listrik adalah regenerative braking, sebuah sistem pengereman yang disebut mampu menghemat energi selama mobil digunakan. Teknologi ini terdengar futuristis karena energi yang biasanya terbuang saat pengereman justru dapat dimanfaatkan kembali menjadi daya listrik.

Meski terdengar canggih, masih banyak orang yang belum benar-benar memahami cara kerja regenerative braking pada kendaraan listrik atau Electric Vehicle (EV). Sebagian menganggap teknologi ini hanya sekadar fitur tambahan, sementara yang lain percaya sistem tersebut sangat berpengaruh terhadap efisiensi baterai dan jarak tempuh kendaraan. Karena itu, menarik untuk memahami beberapa hal penting tentang regenerative braking agar gak sekadar ikut tren otomotif modern, yuk simak sampai akhir.

1. Regenerative braking mengubah energi pengereman menjadi listrik

ilustrasi baterai mobil listrik (unsplash.com/Markus Spiske)

Pada mobil konvensional, energi saat pengereman biasanya terbuang menjadi panas akibat gesekan antara kampas dan cakram rem. Namun pada kendaraan listrik, sistem regenerative braking bekerja dengan cara berbeda karena motor listrik ikut membantu memperlambat laju kendaraan. Ketika pedal gas dilepas atau rem digunakan, motor listrik berubah fungsi menjadi generator yang menghasilkan energi listrik.

Energi yang sebelumnya terbuang tersebut kemudian disalurkan kembali ke baterai untuk disimpan dan digunakan lagi. Proses inilah yang membuat kendaraan listrik terasa lebih efisien dibanding mobil biasa dalam kondisi tertentu. Semakin sering mobil melambat atau berhenti, semakin besar pula peluang sistem tersebut mengembalikan sebagian energi ke baterai kendaraan.

2. Efisiensinya paling terasa saat kondisi jalan padat

ilustrasi macet (pexels.com/Darya Sannikova)

Sistem regenerative braking sebenarnya paling efektif digunakan pada kondisi lalu lintas perkotaan yang padat. Situasi jalan yang sering membuat kendaraan berhenti dan berjalan perlahan memberi kesempatan lebih besar bagi sistem untuk memanen energi dari proses deselerasi. Karena itu, mobil listrik sering terasa lebih hemat saat digunakan di area perkotaan dibanding perjalanan panjang dengan kecepatan stabil.

Pada jalan bebas hambatan atau tol, manfaat sistem ini biasanya gak sebesar saat kendaraan digunakan di dalam kota. Hal tersebut terjadi karena mobil cenderung melaju stabil tanpa banyak pengereman atau pelepasan pedal akselerasi. Akibatnya, energi yang dapat dipulihkan kembali ke baterai juga menjadi lebih sedikit dibanding kondisi lalu lintas padat.

3. Sensasi berkendaranya terasa berbeda dari mobil biasa

ilustrasi mengemudi mobil listrik (unsplash.com/Michael Kahn)

Banyak pengguna mobil listrik merasa pengalaman berkendara kendaraan listrik terasa unik karena adanya regenerative braking. Saat pedal gas dilepas, mobil dapat langsung melambat tanpa harus terlalu sering menginjak rem seperti kendaraan konvensional. Sensasi ini sering disebut sebagai one pedal driving karena pengemudi dapat lebih banyak mengontrol laju kendaraan hanya melalui pedal akselerasi.

Pada awal penggunaan, sebagian orang mungkin merasa sistem tersebut agak aneh atau terlalu agresif saat mobil melambat. Namun setelah terbiasa, banyak pengguna justru merasa pengalaman berkendaranya lebih nyaman dan santai. Selain mengurangi penggunaan rem mekanis, sistem ini juga membuat pengendalian kendaraan terasa lebih halus pada situasi tertentu.

4. Sistem ini juga membantu usia rem lebih panjang

ilustrasi mobil listrik (pexels.com/David Viorel)

Karena proses perlambatan kendaraan sebagian dibantu motor listrik, penggunaan rem mekanis menjadi lebih ringan dibanding mobil biasa. Kampas dan cakram rem gak bekerja terlalu keras setiap kali kendaraan melambat sehingga tingkat keausannya dapat berkurang cukup signifikan. Hal tersebut menjadi salah satu keuntungan tambahan yang sering jarang disadari banyak pengguna kendaraan listrik.

Usia komponen rem yang lebih panjang tentu dapat membantu mengurangi biaya perawatan kendaraan dalam jangka panjang. Selain lebih efisien dari sisi energi, sistem ini juga memberi dampak positif terhadap daya tahan beberapa komponen penting kendaraan. Kombinasi efisiensi dan minimnya gesekan mekanis menjadi salah satu alasan teknologi ini dianggap cukup revolusioner di dunia otomotif modern.

5. Tetap gak bisa mengisi baterai secara penuh

ilustrasi baterai mobil listrik (unsplash.com/Priscilla Du Preez 🇨🇦)

Meski mampu mengembalikan energi ke baterai, regenerative braking bukan berarti dapat mengisi daya kendaraan secara penuh tanpa pengisian listrik eksternal. Energi yang berhasil dipulihkan sebenarnya hanya sebagian kecil dari total kebutuhan daya kendaraan saat digunakan. Karena itu, sistem ini lebih tepat disebut sebagai teknologi pendukung efisiensi dibanding sumber daya utama mobil listrik.

Banyak orang salah paham dan menganggap kendaraan listrik dapat terus berjalan hanya dengan memanfaatkan pengereman. Padahal pada praktiknya, baterai tetap membutuhkan pengisian dari sumber listrik agar kendaraan dapat digunakan secara optimal. Kehadiran regenerative braking lebih berfungsi memperpanjang efisiensi penggunaan energi daripada menggantikan proses pengisian daya utama.

Teknologi regenerative braking menjadi salah satu inovasi menarik yang membuat kendaraan listrik terasa lebih modern dan efisien. Sistem ini membuktikan bahwa energi yang sebelumnya terbuang ternyata masih dapat dimanfaatkan kembali untuk membantu performa kendaraan. Meski belum mampu menjadi solusi utama pengisian baterai, keberadaan teknologi tersebut tetap memberi kontribusi besar terhadap efisiensi dan pengalaman berkendara mobil listrik masa kini.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorAgsa Tian