Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Harga Dexlite Naik Lagi, Masih Rasional Beli Mobil Diesel?
Ilustrasi mobil diesel (pexels/Marek Piwnicki)
  • Harga Dexlite naik menjadi Rp26.000 per liter dan Pertamina Dex mencapai Rp27.900, memicu pertanyaan soal kelayakan membeli mobil diesel di tengah lonjakan harga bahan bakar nonsubsidi.
  • Meskipun harga naik, mesin diesel tetap unggul dalam efisiensi termal dan jarak tempuh, membuat biaya operasional tahunan masih kompetitif bagi pengguna dengan mobilitas tinggi.
  • Mobil diesel tetap diminati karena torsi besar, daya tahan mesin tinggi, serta nilai jual kembali yang stabil, menjadikannya pilihan rasional untuk kebutuhan beban berat dan perjalanan jauh.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Harga bahan bakar nonsubsidi kembali naik. Pemerintah pada Senin (4/5/2026) menaikkan harga Pertamax Turbo menjadi Rp 19.900 per liter dari semula Rp 19.400 per liter.

Kenaikan harga juga dialami Dexlite yang kini dibanderol Rp26.000 per liter dari sebelumnya Rp 23.600 per liter. Sementara harga Pertamina Dex naik dari Rp 23.900 per liter menjadi Rp 27.900 per liter.

Kenaikan harga yang cukup signifikan ini membuat banyak orang bertanya-tanya: apakah masih worth it membeli mobil bermesin diesel?

1. Efisiensi termal dan keunggulan jarak tempuh yang tetap stabil

ilustrasi mobil diesel (pexels.com/Alexandra Bakhareva)

Meskipun harga Pertamina Dex dan Dexlite melonjak, mesin diesel secara teknis tetap memiliki efisiensi termal yang jauh lebih tinggi dibandingkan mesin bensin. Karakteristik mesin diesel yang bekerja dengan rasio kompresi sangat tinggi memungkinkan setiap tetes bahan bakar dikonversi menjadi energi kinetik dengan lebih optimal. Dalam penggunaan jarak jauh atau perjalanan lintas kota, mobil diesel modern masih mampu mencatatkan angka konsumsi bahan bakar yang jauh lebih irit, sering kali mencapai rasio satu liter untuk 18 hingga 22 kilometer pada kondisi beban normal.

Keunggulan ini membuat total pengeluaran untuk energi dalam satu tahun mungkin masih bersaing atau bahkan lebih rendah dibandingkan mobil bensin kelas serupa yang membutuhkan oktan tinggi. Bagi pengendara dengan mobilitas tinggi yang menempuh jarak lebih dari 20.000 kilometer per tahun, efisiensi konsumsi bahan bakar diesel tetap memberikan keuntungan finansial meskipun harga per liternya sudah tidak lagi murah. Mesin diesel tetap menjadi "pelari maraton" yang sulit dikalahkan dalam hal daya jelajah per satu tangki penuh.

2. Nilai jual kembali dan daya tahan komponen internal

ilustrasi mobil diesel (pexels.com/Diego Rodriguez)

Salah satu alasan kuat mengapa mobil diesel tetap memiliki penggemar setia adalah nilai depresiasi yang cenderung lebih rendah dibandingkan mobil bensin. Di pasar mobil bekas, kendaraan diesel seperti SUV besar atau MPV keluarga memiliki permintaan yang sangat stabil karena reputasi mesinnya yang dianggap berumur panjang. Ketahanan material mesin diesel yang dirancang untuk menahan ledakan kompresi tinggi menjadikannya aset yang lebih bernilai untuk investasi jangka menengah maupun panjang.

Daya tahan mesin ini berarti biaya perbaikan besar atau overhaul cenderung terjadi lebih lama dibandingkan mesin bensin, asalkan perawatan rutin tetap terjaga. Kualitas bahan bakar seperti Pertamina Dex yang sudah memiliki angka setana tinggi dan kandungan sulfur rendah juga sangat membantu menjaga komponen injektor dan sistem common rail tetap awet. Kepercayaan pasar terhadap ketangguhan mesin diesel inilah yang membuat harga jual kembalinya tetap tinggi, sehingga kerugian akibat depresiasi nilai aset dapat diminimalisir secara signifikan.

3. Torsi melimpah untuk kebutuhan utilitas dan beban berat

ilustrasi mobil diesel (pexels.com/Erik Mclean)

Bagi sektor yang membutuhkan kendaraan untuk mengangkut beban berat atau sering melewati medan menanjak, mesin diesel tetap tidak tergantikan oleh mesin bensin dalam kelas kapasitas yang sama. Torsi besar yang sudah tersedia pada putaran mesin rendah memberikan kemudahan dalam berakselerasi tanpa harus membebani mesin secara berlebihan. Karakteristik ini membuat pengemudi tidak perlu sering menginjak pedal gas terlalu dalam, yang secara tidak langsung menjaga efisiensi berkendara tetap terjaga di medan yang sulit.

Keputusan membeli mobil diesel saat ini lebih bergeser dari sekadar mencari bahan bakar murah menuju pemenuhan kebutuhan fungsional yang spesifik. Jika kendaraan digunakan sebagai alat transportasi harian di medan yang menantang atau sering diisi muatan penuh, maka tenaga diesel tetap menjadi pilihan yang sangat masuk akal secara teknis maupun operasional. Pada akhirnya, mobil diesel masih sangat layak dibeli bagi mereka yang mengutamakan durabilitas, tenaga dorong yang kuat, dan nilai jual kembali yang terjaga di tengah fluktuasi harga energi global.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team