Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi balapan Formula 1 (pexels.com/Botond Dobozi)
ilustrasi balapan Formula 1 (pexels.com/Botond Dobozi)

Lintasan balap Formula 1 bukan sekadar panggung adu kecepatan mesin, melainkan medan tempur yang menguji batas absolut ketahanan fisik manusia. Di balik kemudi jet darat yang melaju lebih dari 300 km/jam, seorang pebalap harus bertarung melawan hukum fisika yang berusaha meremukkan tubuh mereka di setiap tikungan.

Setiap detik dalam balapan adalah kombinasi antara presisi mental yang tajam dan kekuatan otot yang luar biasa. Fenomena fisik yang terjadi di dalam kokpit sempit tersebut sering kali tidak terlihat oleh penonton, namun dampaknya terhadap anatomi tubuh pebalap setara dengan beban yang dipikul oleh atlet elit di cabang olahraga paling ekstrem sekalipun.

1. Dehidrasi ekstrem dalam tungku berjalan

potret Fernando Alonso dalam salah satu balapan Formula 1 (pexels.com/ Jonathan Borba)

Kondisi di dalam kokpit Formula 1 jauh dari kata nyaman karena suhu udara bisa melonjak hingga 50°C. Kombinasi antara panas mesin yang berada tepat di belakang punggung, suhu aspal yang membara, dan penggunaan baju balap nomex berlapis-lapis menciptakan efek sauna yang menyiksa. Dalam durasi balapan sekitar 90 menit, seorang pebalap bisa kehilangan berat badan antara 3 hingga 4 kg hanya melalui keringat.

Kehilangan cairan sebanyak ini bukan sekadar angka di timbangan; ini adalah dehidrasi berat yang dapat menurunkan fungsi kognitif dan waktu reaksi secara drastis. Jika seorang manusia biasa kehilangan persentase berat badan yang sama dalam waktu singkat, mereka mungkin akan pingsan atau mengalami kram hebat. Namun, pebalap F1 harus tetap mampu mengoperasikan ratusan tombol di setir dengan akurasi milimeter meski tubuh mereka sedang mengalami penyusutan massa cairan secara masif.

2. Pertempuran otot leher melawan gaya gravitasi

Formula 1 (yamaha-motor.com)

Salah satu aspek paling brutal dari balapan adalah tekanan G-Force atau gaya gravitasi saat mobil melibas tikungan dengan kecepatan tinggi. Pebalap sering kali mengalami tekanan hingga 5G-6G. Secara sederhana, beban ini membuat berat kepala dan helm meningkat lima hingga enam kali lipat dari berat aslinya. Hal ini setara dengan menahan beban sekitar 25-30 kg yang mencoba menarik kepala ke samping secara paksa.

Tanpa latihan otot leher yang spesifik dan intens, seorang pebalap bisa mengalami cedera saraf atau kehilangan kendali atas arah pandangannya. Itulah alasan mengapa atlet F1 memiliki lingkar leher yang jauh lebih besar dibandingkan pria dewasa pada umumnya. Mereka harus memastikan tulang belakang dan otot leher tetap stabil di bawah tekanan ribuan Newton agar tetap bisa melihat titik pengereman dengan tepat.

3. Jantung yang berpacu di ambang batas maksimal

ilustrasi penyakit jantung (vecteezy.com/Thatphichai Yodsri)

Meski terlihat hanya duduk diam di dalam kursi karbon, sistem kardiovaskular seorang pebalap bekerja dengan intensitas yang mencengangkan. Sepanjang balapan, detak jantung rata-rata bertahan di angka 170-190 BPM (detak per menit). Level ini setara dengan seseorang yang sedang berlari maraton dengan kecepatan penuh, namun dilakukan dalam posisi duduk diam dengan tekanan mental yang luar biasa tinggi.

Kondisi ini dipicu oleh lonjakan adrenalin, panas yang menyengat, serta kebutuhan oksigen yang besar bagi otot-otot yang menegang. Jantung harus memompa darah dengan sangat efisien ke seluruh tubuh untuk melawan gaya gravitasi yang mencoba menarik darah menjauh dari otak. Ketahanan jantung ini menjadi fondasi utama agar pebalap tidak kehilangan kesadaran (blackout) saat menghadapi akselerasi dan deselerasi ekstrem yang terjadi berulang kali dalam 50 hingga 70 putaran.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team