Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi mobil listrik (pexels.com/Hyundai Motor Group)
ilustrasi mobil listrik (pexels.com/Hyundai Motor Group)

Intinya sih...

  • Karakteristik pengujian CLCT yang cenderung optimistisStandar China Light-Duty Vehicle Test Cycle (CLTC) menghasilkan angka jarak tempuh mobil listrik yang fantastis, namun kurang mempertimbangkan penggunaan AC atau gaya berkendara di jalan tol.

  • Standar WLTP sebagai tolok ukur yang lebih mendekati realitasWorldwide Harmonized Light Vehicles Test Procedure (WLTP) mencatatkan angka jauh lebih konservatif, memberikan gambaran yang lebih aman bagi pemilik mobil saat merencanakan perjalanan jarak jauh.

  • Faktor eksternal yang memengaruhi efisiensi baterai 50 kwhPerforma baterai 50 kWh di lapangan sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan kebiasaan pengemudi

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Saat melihat brosur mobil listrik, kamu mungkin terkejut saat melihat jarak tempuh mobil tersebut. Padahal angka yang tertera di brosur belum tentu sesuai dengan realitanya. Misalnya pada sebuah brosur mobil listrik tertulis jarak tempuhnya mencapai 440 km dalam sekali pengisian daya hingga penuh.

Namun pada situs berita disebutkan mobil tersebut hanya bisa menempuh 350 km. Mana klaim jarak tempuh yang benar? Nah, untuk itu kamu harus memahami dulu metode pengukuran jarak tempuhnya. Yuk, kita bahas!

1. Karakteristik pengujian CLCT yang cenderung optimistis

Ilustrasi baterai mobil listrik (byd.com)

Standar China Light-Duty Vehicle Test Cycle atau CLTC merupakan metode pengujian yang dikembangkan khusus untuk pasar otomotif di China. Pada varian mobil listrik dengan baterai 50 kWh, hasil uji CLTC sering kali menunjukkan angka yang sangat menggiurkan, yakni mencapai 440 km. Angka ini terlihat besar karena metodologi CLTC lebih banyak menyertakan skenario berkendara di jalanan perkotaan yang padat dengan kecepatan rendah serta banyak aktivitas berhenti dan jalan (stop and go).

Karakteristik mobil listrik yang justru sangat efisien saat melaju pelan dan mampu memanen energi melalui pengereman regeneratif membuat pengujian model CLTC menghasilkan angka jarak tempuh yang fantastis. Namun, perlu dicatat bahwa standar ini kurang mempertimbangkan penggunaan AC yang ekstrem atau gaya berkendara di jalan tol dengan kecepatan tinggi yang stabil. Oleh karena itu, bagi masyarakat yang tinggal di wilayah dengan lalu lintas macet, angka CLTC mungkin terasa lebih relevan, meskipun tetap sulit dicapai secara konsisten dalam penggunaan harian yang dinamis.

2. Standar WLTP sebagai tolok ukur yang lebih mendekati realitas

Ilustrasi baterai mobil listrik (byd.com)

Berbeda dengan standar dari China, Worldwide Harmonized Light Vehicles Test Procedure atau WLTP merupakan standar internasional yang digunakan secara luas di Eropa dan banyak negara lainnya. Untuk varian baterai 50 kWh yang sama, WLTP mencatatkan angka yang jauh lebih konservatif, yakni sekitar 345 km. Perbedaan sekitar 95 km ini terjadi karena WLTP menggunakan siklus pengujian yang lebih ketat, durasi yang lebih lama, serta variasi kecepatan yang lebih tinggi dan realistis.

Uji WLTP mencakup simulasi berkendara di jalan pinggiran kota hingga jalan tol, di mana hambatan angin dan beban kerja motor listrik jauh lebih besar. Karena menyertakan variabel beban kendaraan dan kondisi lingkungan yang lebih beragam, angka 345 km dari WLTP dianggap sebagai panduan yang lebih jujur bagi pengemudi. Meskipun angka ini terlihat "lebih sedikit" di atas kertas, nilai tersebut memberikan gambaran yang lebih aman bagi pemilik mobil saat merencanakan perjalanan jarak jauh agar terhindar dari risiko kehabisan daya di tengah jalan.

3. Faktor eksternal yang memengaruhi efisiensi baterai 50 kwh

Baterai mobil listrik Suzuki e Vitara (marutisuzuki.com)

Terlepas dari apakah sebuah mobil menggunakan label 440 km (CLTC) atau 345 km (WLTP), performa baterai 50 kWh di lapangan tetap akan sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan kebiasaan pengemudi. Penggunaan suhu pendingin kabin yang terlalu rendah di cuaca panas Indonesia, beban muatan penumpang yang penuh, hingga tekanan ban yang tidak ideal dapat menggerus daya tahan baterai dengan cepat. Baterai berkapasitas menengah ini menuntut manajemen energi yang lebih bijak dibandingkan dengan varian baterai besar yang mencapai 70 kWh ke atas.

Memahami bahwa angka di brosur hanyalah hasil pengujian di laboratorium sangatlah penting. Sangat disarankan bagi setiap pemilik kendaraan listrik untuk selalu menyisakan cadangan daya sekitar 10 hingga 20 persen sebagai langkah antisipasi. Dengan mengetahui perbedaan antara 440 km dan 345 km tersebut, pemilihan strategi pengisian daya dapat dilakukan secara lebih matang, sehingga kenyamanan berkendara tetap terjaga tanpa harus merasa khawatir berlebihan mengenai sisa energi yang tersedia di dalam baterai.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team