Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Jarak Tempuh vs Usia Kendaraan: Mana Paling Menurunkan Kondisi Baterai?
ilustrasi mobil listrik (pexels.com/Philippe WEICKMANN)
  • Studi Geotab menunjukkan usia kendaraan lebih berpengaruh terhadap degradasi baterai EV dibanding jarak tempuh, dengan rata-rata penurunan kapasitas hanya sekitar 1,8% per tahun.
  • Data lapangan membuktikan jarak tempuh tinggi tidak mempercepat kerusakan baterai, karena perbedaan tingkat SoH antara penggunaan intens dan ringan hanya sekitar 0,25% dalam empat tahun.
  • Durabilitas baterai sangat dipengaruhi manajemen suhu dan pola pengisian daya; menjaga suhu ideal serta mengisi di kisaran 20–80% membantu memperpanjang umur baterai EV.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
48 bulan

Riset menunjukkan bahwa dalam periode observasi selama 48 bulan, perbedaan degradasi baterai antara EV dengan jarak tempuh tinggi dan rendah hanya sekitar 0,25%.

kini

Laju penurunan kapasitas baterai EV modern tercatat sangat minim, rata-rata hanya 1,8% per tahun, menandakan masa pakai yang panjang dan stabil bagi kendaraan listrik saat ini.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Sebuah studi global meneliti faktor utama yang memengaruhi penurunan kondisi baterai mobil listrik, membandingkan pengaruh usia kendaraan dengan jarak tempuh terhadap tingkat degradasi baterai.
  • Who?
    Lembaga telematika internasional Geotab melakukan analisis terhadap data penggunaan 10.000 unit mobil listrik dari berbagai wilayah untuk mengukur tingkat penurunan kapasitas baterai.
  • Where?
    Analisis dilakukan secara global oleh Geotab, sementara hasilnya menjadi sorotan di Indonesia seiring meningkatnya adopsi kendaraan listrik di pasar domestik.
  • When?
    Penelitian ini dirilis baru-baru ini dan mencakup periode observasi selama 48 bulan terhadap performa baterai mobil listrik yang diuji.
  • Why?
    Tujuan penelitian adalah memberikan pemahaman ilmiah mengenai penyebab utama degradasi baterai agar konsumen tidak khawatir berlebihan terhadap penurunan performa kendaraan listrik mereka.
  • How?
    Geotab menganalisis data lapangan dan menemukan bahwa usia kendaraan lebih berpengaruh dibanding jarak tempuh, dengan rata-rata degradasi hanya sekitar 1,8% per tahun pada baterai EV modern.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Ada banyak mobil listrik sekarang. Orang-orang takut baterainya cepat rusak. Tapi peneliti bilang umur mobil lebih penting dari jarak jalannya. Kalau mobil sudah tua, baterainya bisa menurun sedikit tiap tahun, tapi tidak cepat. Mobil yang sering dipakai jauh juga tidak bikin baterai rusak cepat. Yang penting jangan panas dan isi dayanya dengan baik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Hasil riset yang diuraikan dalam artikel ini menunjukkan kemajuan signifikan pada teknologi baterai mobil listrik, dengan tingkat degradasi rata-rata hanya 1,8% per tahun. Fakta bahwa jarak tempuh tinggi tidak mempercepat penurunan performa menegaskan keandalan EV modern, sementara penerapan manajemen termal dan pola pengisian optimal semakin memperkuat daya tahan baterainya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Gelombang mobil listrik (EV) di tanah air kian tak terbendung, selaras dengan meningkatnya kesadaran konsumen akan efisiensi biaya operasional dan isu keberlanjutan. Kendati demikian, kekhawatiran mengenai masa pakai baterai—yang notabene merupakan komponen paling bernilai pada sebuah EV—masih menjadi momok utama serta bahan perdebatan sengit di kalangan calon konsumen.

Pertanyaan mendasar yang kerap muncul di meja redaksi adalah variabel mana yang paling bertanggung jawab atas penurunan State of Health (SoH) baterai: intensitas jarak tempuh atau murni faktor usia kendaraan secara kronologis. Membedah dinamika degradasi ini secara ilmiah sangat krusial guna memberikan edukasi yang tepat bagi para pemilik EV agar tidak dihantui kecemasan berlebih terkait penurunan performa.

1. Angka odometer ternyata tak begitu berpengaruh

ilustrasi mobil listrik (pexels.com/Gustavo Fring)

Berdasarkan studi komprehensif yang dirilis oleh lembaga telematika global, Geotab, setelah menganalisis data riil dari 10.000 unit EV, ditemukan fakta bahwa usia kronologis kendaraan memegang peran sedikit lebih dominan terhadap degradasi baterai ketimbang angka odometer. Fenomena ini mengonfirmasi bahwa sel lithium-ion akan mengalami penuaan alami (calendar aging) seiring berjalannya waktu, meskipun mobil lebih sering terparkir di dalam garasi atau memiliki catatan kilometer yang rendah.

Namun, hasil riset ini justru membawa angin segar bagi industri. Laju penurunan kapasitas baterai EV modern saat ini tercatat sangat minim, dengan rata-rata degradasi hanya berkisar di angka 1,8% per tahun. Dengan performa sedemikian stabil, paket baterai tersebut diproyeksikan memiliki masa pakai yang sangat panjang, bahkan berpotensi melampaui usia pakai dari struktur sasis maupun komponen mekanis kendaraan itu sendiri.

2. Mematahkan mitos penurunan performa akibat jarak tempuh tinggi

ilustrasi panel speedometer pada dasbor mobil (unsplash.com/Danny Sleeuwenhoek)

Stigma yang menyebut bahwa mobil dengan intensitas penggunaan tinggi akan mengalami kerusakan baterai lebih cepat, berhasil dipatahkan oleh data lapangan. Riset membuktikan bahwa unit EV yang dipacu untuk jarak jauh secara konsisten tidak menunjukkan perbedaan degradasi yang signifikan jika dibandingkan dengan kendaraan yang jarang digunakan. Selisih tingkat SoH antara kedua kategori penggunaan tersebut hanya terpaut 0,25% saja dalam kurun waktu observasi selama 48 bulan.

Temuan ini tentu meningkatkan kepercayaan diri bagi para pelaku bisnis transportasi maupun pengemudi komuter harian. Mengoperasikan kendaraan secara aktif dan berkala justru dinilai mampu menjaga stabilitas siklus pengisian daya sel kimia, ketimbang membiarkan baterai dalam kondisi statis tanpa daya dalam waktu lama. Oleh karena itu, faktor jarak tempuh tinggi seharusnya tidak lagi menjadi variabel yang menakutkan bagi konsumen dalam meminang mobil listrik.

3. Parameter krusial eksternal penentu durabilitas baterai

ilustrasi speedometer mobil (unsplash.com/CHUTTERSNAP)

Di luar perdebatan antara usia dan jarak tempuh, para insinyur otomotif sepakat bahwa manajemen termal dan perilaku pengisian daya memegang kendali penuh atas durabilitas baterai. Sel baterai yang kerap beroperasi pada suhu ekstrem akan mengalami degradasi termal yang jauh lebih agresif. Dalam hal ini, penggunaan sistem pendingin cairan (liquid cooling) terbukti jauh lebih superior dalam memitigasi panas berlebih dibandingkan sistem pendingin udara konvensional.

Langkah preventif lain yang disarankan untuk menjaga kesehatan baterai adalah dengan menerapkan pola pengisian daya di rentang batas aman, yakni antara 20% hingga 80% untuk kebutuhan harian. Membatasi frekuensi penggunaan fitur pengisian daya cepat (DC fast charging) juga sangat direkomendasikan, mengingat penetrasi arus tinggi secara terus-menerus dapat memicu stres termal pada sel baterai. Melalui kombinasi manajemen suhu yang ideal dan regulasi pengisian yang bijak, sebuah EV akan tetap menjadi aset jangka panjang yang andal.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team