Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi menjaga kebersihan dashboard mobil (pexels.com/ariyo)
ilustrasi menjaga kebersihan dashboard mobil (pexels.com/ariyo)

Interior mobil dengan material soft touch sering kali menjadi standar kemewahan yang membedakan kendaraan kelas atas dengan model ekonomis. Sentuhan empuk dan tekstur yang menyerupai kulit memberikan sensasi premium serta peredaman suara yang lebih baik di dalam kabin, menciptakan suasana berkendara yang jauh lebih eksklusif dan nyaman.

Namun, di balik estetika yang menawan tersebut, material ini menyimpan tantangan tersendiri dalam hal ketahanan jangka panjang. Banyak pemilik kendaraan yang baru menyadari bahwa panel soft touch jauh lebih rentan terhadap kerusakan dibandingkan material plastik keras, terutama jika sering terpapar kondisi lingkungan yang ekstrem atau perawatan yang tidak tepat.

1. Kerentanan terhadap suhu panas dan paparan ultraviolet

ilustrasi ac mobil (freepik.com/freepik)

Kelemahan paling mendasar dari dasbor soft touch adalah strukturnya yang sensitif terhadap suhu tinggi. Di negara tropis, sinar matahari yang menembus kaca depan dapat meningkatkan suhu kabin secara drastis, yang memicu kerusakan pada lapisan polimer penyusun material tersebut. Paparan sinar ultraviolet (UV) dalam jangka panjang menyebabkan penguapan kandungan minyak esensial yang menjaga elastisitas dasbor, sehingga material menjadi kaku dan rapuh.

Dampak yang paling sering terlihat adalah munculnya retakan halus di permukaan dasbor atau perubahan warna yang menjadi kusam. Pada kasus yang lebih parah, lapisan soft touch bisa mengalami degradasi kimiawi yang mengakibatkan permukaannya menjadi lengket atau "meleleh". Fenomena dasbor lengket ini sangat sulit diperbaiki dan biasanya memerlukan penggantian unit secara keseluruhan atau pelapisan ulang yang memakan biaya besar.

2. Risiko kerusakan akibat gesekan dan benda tajam

ilustrasi klakson pada setir mobil (pexels.com/Ammy K)

Berbeda dengan material plastik keras yang cenderung lebih tahan banting, dasbor soft touch memiliki lapisan luar yang cukup tipis dan lunak. Hal ini membuatnya sangat rentan terhadap goresan permanen yang disebabkan oleh benda-benda sederhana seperti kuku, gantungan kunci, atau aksesoris ponsel yang terpasang di dasbor. Sekali terjadi robekan atau goresan dalam, serat di dalamnya akan terlihat dan merusak seluruh estetika kemewahan interior.

Tekstur pori-pori pada material ini juga cenderung lebih mudah menyerap debu dan kotoran. Pembersihan yang dilakukan dengan cara menggosok terlalu kuat menggunakan kain yang kasar justru dapat mengikis lapisan pelindung teratasnya. Penggunaan bahan kimia pembersih yang mengandung alkohol atau pelarut keras juga sangat berisiko, karena dapat melarutkan lapisan perekat dan membuat material tersebut mengelupas secara perlahan dari rangka dasbor.

3. Masalah kelembapan dan pertumbuhan jamur pada lapisan busa

ilustrasi setir mobil (pexels.com/Erik Mclean)

Material soft touch umumnya terdiri dari beberapa lapis, termasuk lapisan busa di bagian bawah untuk memberikan efek empuk. Sifat busa yang higroskopis atau mudah menyerap kelembapan udara dapat menjadi masalah besar di area yang lembap. Jika kabin jarang dibersihkan atau memiliki sirkulasi udara yang buruk, kelembapan yang terjebak di bawah lapisan permukaan dapat memicu pertumbuhan jamur yang sulit dideteksi sejak dini.

Jamur ini tidak hanya menimbulkan bau tidak sedap di dalam kabin, tetapi juga merusak struktur busa dari dalam. Akibatnya, permukaan dasbor bisa menjadi bergelombang atau muncul tonjolan-tonjolan kecil yang tidak merata. Selain itu, kelembapan yang tinggi dapat melemahkan daya rekat lem antara lapisan busa dan kulit luar, yang menyebabkan dasbor terlihat "menggelembung" di beberapa titik, sehingga menghilangkan kesan mewah yang menjadi nilai jual utamanya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team