ilustrasi pengisian baterai mobil listrik (unsplash.com/michael_marais)
Daya tahan merupakan aspek krusial yang menjadikan teknologi ini sebagai nyawa masa depan otomotif. Baterai cair konvensional cenderung mengalami degradasi kapasitas setelah ribuan siklus pengisian. Sebaliknya, solid state battery memiliki ketahanan fisik yang lebih kuat terhadap degradasi, sehingga usia pakai baterai bisa mencapai belasan hingga puluhan tahun. Selain itu, dari sisi lingkungan, teknologi ini membuka peluang penggunaan bahan baku yang lebih melimpah dibandingkan kobalt atau nikel yang sulit ditambang.
Beberapa produsen otomotif global kini telah melangkah maju untuk mengimplementasikan teknologi ini di jalan raya. Nio, produsen EV asal Tiongkok, telah meluncurkan paket baterai semi-solid state 150 kWh pada model Nio ET7 yang mampu menempuh jarak lebih dari 1.000 km. Selain itu, IM Motors (dari grup SAIC) telah memperkenalkan sedan IM L6 yang dilengkapi baterai "Lightyear" dengan teknologi serupa.
Di awal tahun 2026 ini, gebrakan besar juga datang dari Verge Motorcycles yang meluncurkan Verge TS Pro, kendaraan produksi massal pertama di dunia yang menggunakan baterai all-solid-state sepenuhnya. Sementara itu, raksasa seperti Toyota dan Chery telah mengonfirmasi bahwa lini produksi massal mereka untuk baterai keadaan padat akan segera dimulai pada tahun 2026 ini hingga 2027. Meskipun saat ini biayanya masih tinggi, langkah merek-merek pionir tersebut membuktikan bahwa era baterai padat bukan lagi sekadar impian laboratorium, melainkan kenyataan yang siap mengubah cara dunia berkendara.