Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi mobil kehujanan
ilustrasi mobil kehujanan (pexels.com/McClean)

Intinya sih...

  • Biaya perawatan yang dianggap tinggi

  • Suku cadang tidak seluas mobil Jepang

  • Sensitif terhadap kualitas perawatan

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Mobil Eropa dikenal punya desain elegan, handling mantap, dan fitur premium. Tapi begitu masuk pasar mobil bekas, harganya sering turun jauh lebih dalam dibanding mobil Jepang atau Korea. Bahkan selisihnya bisa terasa “tidak masuk akal” untuk mobil dengan kelas yang sama.

Fenomena ini bukan tanpa alasan. Ada beberapa faktor logis yang membuat nilai jual mobil Eropa cepat merosot, terutama di pasar Indonesia. Berikut penjelasannya.

1. Biaya perawatan yang dianggap tinggi

ilustrasi mobil di bengkel (pexels.com/Malte Luk)

Alasan paling klasik adalah biaya perawatan. Mobil Eropa punya citra mahal dalam servis dan suku cadang. Walaupun tidak selalu benar, persepsi ini sudah terlanjur melekat di benak pasar.

Calon pembeli mobil bekas cenderung bermain aman. Mereka lebih memilih mobil yang “tinggal isi bensin dan ganti oli” tanpa banyak drama. Begitu mendengar kata mobil Eropa, banyak yang langsung mundur sebelum benar-benar riset.

2. Suku cadang tidak seluas mobil Jepang

ilustrasi mobil silver (pexels.com/Vitali Adutskevich)

Ketersediaan spare part sangat memengaruhi harga bekas. Mobil Jepang punya jaringan bengkel dan parts yang merata sampai kota kecil. Mobil Eropa masih kalah luas dalam hal ini.

Akibatnya, calon pembeli takut menunggu lama atau membayar lebih mahal saat ada komponen rusak. Risiko ini langsung tercermin pada harga jual yang ditekan lebih rendah.

3. Sensitif terhadap kualitas perawatan

ilustrasi mobil di bengkel (pexels.com/cottonbro studio)

Mobil Eropa umumnya dirancang dengan standar presisi tinggi. Mesin dan transmisinya terasa nyaman, tapi juga sensitif terhadap telat servis atau penggunaan oli yang salah.

Di pasar mobil bekas, riwayat perawatan sering tidak jelas. Pembeli memilih bermain aman dengan menawar rendah karena khawatir ada potensi masalah tersembunyi yang mahal di kemudian hari.

4. Konsumsi BBM dan pajak

ilustrasi isi bensin (pexels.com/RDNE Stock project)

Sebagian mobil Eropa menggunakan mesin besar atau teknologi turbo yang membuat konsumsi BBM terasa lebih boros di pemakaian harian. Ditambah lagi, pajak tahunan sering lebih tinggi dibanding mobil sekelas dari Jepang.

Bagi pembeli mobil bekas, biaya rutin bulanan sangat diperhitungkan. Kalau ongkos jalan dirasa berat, harga beli otomatis ditekan serendah mungkin agar tetap terasa masuk akal.

5. Pasar yang lebih sempit

ilustrasi mobil (pexels.com/Max Avans)

Mobil Eropa punya penggemar setia, tapi jumlahnya tidak besar. Artinya, pasar pembelinya lebih sempit dibanding mobil mainstream. Saat pemilik ingin menjual, waktu tunggu bisa lebih lama.

Semakin lama mobil sulit laku, semakin besar dorongan untuk menurunkan harga. Inilah yang membuat harga pasaran mobil Eropa bekas terlihat jatuh lebih tajam.

Pada akhirnya, harga jual mobil bekas Eropa merosot bukan tanpa sebab. Kombinasi persepsi biaya mahal, pasar terbatas, serta kekhawatiran soal perawatan membuat nilainya tertekan di pasar.

Namun di sisi lain, kondisi ini justru menguntungkan buat kamu yang paham. Dengan memilih unit bersejarah servis jelas dan perawatan tepat, mobil Eropa bekas bisa memberi rasa berkendara premium dengan harga yang jauh lebih rasional.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team