Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi Airbag Toyota Vios G TSS (toyota.astra.co.id)
Ilustrasi Airbag Toyota Vios G TSS (toyota.astra.co.id)

Intinya sih...

  • Debu putih adalah pelumas kering yang mencegah perlengketan material airbag, bukan asap dari api

  • Aroma kimia berasal dari reaksi kimia pemicu gas berkecepatan tinggi dan bersifat tidak beracun

  • Bubuk talek atau tepung jagung aman bagi manusia, dan munculnya debu dan bau kimia merupakan bagian normal dari prosedur keselamatan

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Momen ketika airbag atau kantong udara mengembang terjadi dalam hitungan milidetik yang sangat cepat dan penuh tekanan. Di tengah kepanikan pasca-benturan, sering kali terlihat kepulan seperti asap putih yang menyelimuti kabin kendaraan disertai aroma menyengat yang asing bagi indra penciuman.

Fenomena munculnya debu dan bau tersebut sering kali memicu kekhawatiran akan adanya kebakaran pada mesin atau korsleting listrik. Padahal, kemunculan material halus dan aroma khas tersebut merupakan bagian normal dari mekanisme kerja sistem keselamatan pasif yang justru menandakan bahwa perangkat pelindung bekerja dengan sempurna.

1. Fungsi pelumas untuk mencegah perlengketan material

ilustrasi airbag Suzuki Ertiga (auto.suzuki.co.id)

Debu putih yang memenuhi kabin saat airbag keluar bukanlah asap dari api, melainkan bubuk khusus yang sengaja dimasukkan oleh pabrikan ke dalam modul. Material yang paling umum digunakan adalah tepung jagung (cornstarch) atau bedak talek. Bubuk ini berfungsi sebagai pelumas kering yang menjaga agar kain nilon airbag tidak saling menempel atau lengket saat terlipat rapat di dalam kemudi atau dasbor selama bertahun-tahun.

Tanpa adanya lapisan bedak ini, gesekan antar-lipatan kain nilon saat dipicu oleh gas bertekanan tinggi dapat menyebabkan hambatan atau bahkan robekan kecil. Selain itu, debu ini membantu kantong udara meluncur keluar dengan mulus dan mengembang secara instan tanpa ada bagian yang tersangkut. Jadi, kepulan putih yang terlihat sebenarnya adalah partikel bedak yang terhempas ke udara akibat kecepatan luar biasa dari proses pengembangan kantong tersebut.

2. Sisa reaksi kimia pemicu gas berkecepatan tinggi

Ilustrasi 6 Buah Airbag Chery OMODA 5 GT (chery.co.id)

Selain debu putih, pengendara biasanya akan mencium aroma tajam yang sering dideskripsikan seperti bau kembang api atau bau hangus yang "hangat". Aroma ini berasal dari sisa reaksi kimia yang terjadi di dalam inflator airbag. Untuk mengembangkan kantong dalam waktu kurang dari 0,05 detik, sistem menggunakan bahan kimia padat, seperti natrium azida, yang dibakar oleh inisiator listrik guna menghasilkan gas nitrogen dalam jumlah besar secara mendadak.

Bau sangit tersebut adalah produk sampingan dari ledakan terkontrol yang diperlukan untuk menciptakan tekanan gas tersebut. Meskipun baunya mungkin terasa mengganggu atau membuat tenggorokan sedikit tidak nyaman, gas nitrogen yang dihasilkan sebenarnya bersifat tidak beracun karena merupakan unsur yang dominan di udara yang dihirup sehari-hari. Aroma panas ini akan segera menghilang begitu sirkulasi udara di dalam kabin kembali normal setelah jendela dibuka atau pintu kendaraan diakses.

3. Reaksi fisik yang normal dan tidak berbahaya

Ilustrasi airbag (Pexels/Dietmar Janssen)

Penting bagi setiap pemilik kendaraan untuk tetap tenang saat melihat debu putih tersebut menempel di pakaian atau kulit pasca-kecelakaan. Bubuk talek atau tepung jagung tersebut secara umum aman bagi manusia, meskipun pada beberapa individu yang sensitif dapat menyebabkan sedikit iritasi pada mata atau saluran pernapasan ringan. Disarankan untuk segera mencuci area kulit yang terkena bedak tersebut dengan air bersih guna menghindari rasa gatal atau kering.

Munculnya "asap" tiruan ini adalah bukti visual bahwa sistem keselamatan telah menjalankan tugasnya secara mekanis dan kimiawi. Selama indikator kerusakan tidak menyala sebelumnya, kepulan debu dan bau kimia ini merupakan bagian dari prosedur teknis yang telah diperhitungkan secara matang oleh para insinyur otomotif. Memahami bahwa hal ini bukan pertanda kebakaran dapat membantu korban kecelakaan untuk tetap fokus pada langkah evakuasi diri yang lebih penting tanpa harus terjebak dalam kepanikan yang tidak perlu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team