Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi macet (vecteezy.com/khunkorn)
ilustrasi macet (vecteezy.com/khunkorn)

Intinya sih...

  • Fenomena permintaan yang terinduksi

  • Perubahan perilaku masyarakat dan rute perjalanan

  • Solusi alternatif melalui manajemen kebutuhan transportasi

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Paradoks Transportasi: Membangun jalan yang lebih lebar atau menambah lajur baru sering kali dianggap sebagai solusi paling logis untuk mengurai keruwetan lalu lintas di kota-kota besar. Namun, kenyataan di lapangan sering kali menunjukkan hasil yang sebaliknya, di mana jalan-jalan baru tersebut justru kembali dipenuhi oleh kendaraan dalam waktu yang relatif singkat setelah peresmiannya.

Fenomena ini merupakan sebuah anomali dalam perencanaan perkotaan yang membuktikan bahwa kapasitas aspal tidak pernah bisa mengejar pertumbuhan volume kendaraan secara linier. Alih-alih memberikan kelancaran permanen, penambahan infrastruktur jalan justru menciptakan siklus ketergantungan kendaraan pribadi yang semakin sulit untuk diputuskan tanpa adanya perubahan paradigma transportasi.

1. Munculnya fenomena permintaan yang terinduksi

ilustrasi macet perjalanan (pexels.com/Satoshi Hirayama)

Dalam dunia perencanaan transportasi, dikenal istilah Induced Demand atau permintaan yang terinduksi untuk menjelaskan mengapa pelebaran jalan justru mengundang lebih banyak kemacetan. Logikanya sederhana: ketika sebuah jalur jalan ditambah, waktu tempuh pada jalur tersebut awalnya akan menjadi lebih singkat dan perjalanan terasa lebih lancar. Kondisi ini mengirimkan sinyal kepada masyarakat bahwa menggunakan kendaraan pribadi di jalur tersebut kembali menjadi pilihan yang nyaman dan efisien.

Akibatnya, orang-orang yang sebelumnya memilih menggunakan transportasi umum, berangkat lebih awal, atau menggunakan jalur alternatif, akan berpindah kembali menggunakan jalur yang baru diperlebar tersebut. Dalam jangka menengah, pertumbuhan jumlah pengguna baru ini akan mengisi ruang kosong hasil pelebaran jalan hingga mencapai titik jenuh yang sama dengan kondisi sebelum perbaikan dilakukan. Pada akhirnya, jalan yang lebih lebar tetap akan macet, hanya saja dengan jumlah mobil yang jauh lebih banyak dari sebelumnya.

2. Efek peralihan rute dan perubahan perilaku masyarakat

ilustrasi macet perjalanan (pexels.com/pixabay)

Penambahan jalur jalan sering kali memicu perubahan pola perjalanan masyarakat secara luas yang bersifat instan. Pengemudi dari wilayah sekitarnya yang biasanya menghindari rute tertentu karena macet, akan segera beralih rute ke jalan yang baru dibuka tersebut untuk mencari keuntungan waktu. Tekanan lalu lintas dari jalur-jalur pendukung di sekitarnya akan terhisap menuju jalur utama yang baru diperbaiki, menciptakan beban yang tidak seimbang pada jaringan jalan secara keseluruhan.

Selain peralihan rute, kemudahan akses yang ditawarkan oleh jalan lebar juga mendorong perubahan pola pemukiman dan aktivitas ekonomi. Pengembang properti cenderung membangun pusat perbelanjaan atau perumahan baru di sepanjang koridor jalan yang lancar tersebut. Hal ini menciptakan titik-titik kepadatan baru yang semula tidak ada. Transformasi lahan ini secara permanen meningkatkan volume kendaraan harian yang harus ditampung oleh jalan tersebut, sehingga manfaat kelancaran dari penambahan jalur akan hilang dalam hitungan bulan atau tahun saja.

3. Solusi alternatif melalui manajemen kebutuhan transportasi

ilustrasi macet (pexels.com/Life of Pix)

Menyelesaikan kemacetan dengan menambah jalur ibarat mencoba mengatasi masalah obesitas dengan melonggarkan ikat pinggang. Solusi yang lebih berkelanjutan sebenarnya terletak pada manajemen kebutuhan transportasi atau Transport Demand Management (TDM). Alih-alih terus memperluas kapasitas untuk mobil, fokus seharusnya dialihkan pada perpindahan orang, bukan perpindahan kendaraan. Investasi pada sistem transportasi massal yang andal, aman, dan terintegrasi jauh lebih efektif dalam mengurangi jumlah kendaraan di jalan raya.

Penggunaan teknologi cerdas untuk mengatur lampu lalu lintas, penerapan tarif parkir yang tinggi di pusat kota, serta pembangunan jalur pedestrian dan pesepeda yang nyaman merupakan bagian dari strategi untuk menekan penggunaan kendaraan pribadi. Dengan memberikan alternatif mobilitas yang lebih baik, ketergantungan masyarakat terhadap jalan raya dapat dikurangi secara alami. Tanpa adanya kebijakan yang membatasi penggunaan kendaraan pribadi, penambahan jalur jalan berapapun besarnya hanya akan menjadi pemborosan anggaran yang berakhir pada kemacetan yang sama di masa depan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team