Toyota Hiace Premio dan Toyota Fortuner generasi terbaru merupakan dua kendaraan yang berbagi jantung mekanis serupa, yakni mesin diesel tangguh berkode 1GD-FTV dengan kapasitas 2.800 cc. Mesin ini telah dilengkapi dengan teknologi Common Rail Direct Injection dan Variable Nozzle Turbocharger (VNT) yang mampu menghasilkan torsi besar serta efisiensi tinggi. Namun, terdapat sebuah anomali menarik di lapangan di mana para pemilik Hiace cenderung lebih berani menggunakan bahan bakar jenis Biosolar, sementara pemilik Fortuner sangat diwajibkan menjauhi jenis bahan bakar tersebut.
Perbedaan perlakuan terhadap mesin yang identik ini memicu perdebatan mengenai daya tahan sistem injeksi terhadap kualitas bahan bakar rendah di Indonesia. Meskipun secara mekanis blok mesin dan silindernya sama, terdapat variabel teknis serta orientasi penggunaan yang membuat satu kendaraan lebih toleran terhadap residu sulfur dibandingkan yang lain. Memahami alasan di balik fenomena ini sangat penting agar tidak terjadi kesalahan fatal dalam perawatan jangka panjang yang dapat merusak komponen sensitif di dalam ruang bakar.
