Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Malaysia Mulai Garap Baterai Mobil Listrik, Bidik Pasar ASEAN
ilustrasi mobil listrik (pexels.com/Hyundai Motor Group)
  • Malaysia memulai produksi baterai mobil listrik berbasis lithium-ion dengan teknologi graphene untuk memperkuat industri lokal dan posisi dalam rantai pasok kendaraan listrik ASEAN.
  • NanoMalaysia mengembangkan baterai berteknologi graphene yang diklaim memiliki kapasitas energi tiga kali lipat serta mendukung pengisian cepat dan kepadatan energi tinggi.
  • Pabrik di Sepang menargetkan produksi skala MWh pada 2026, sambil menjalin kemitraan strategis dengan Indonesia sebagai pemasok nikel utama.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Malaysia lagi bikin pabrik baterai baru buat mobil listrik. Namanya NanoMalaysia yang kerja sama dengan pemerintah. Mereka pakai bahan namanya graphene biar baterainya kuat dan bisa jalan jauh. Pabriknya ada di Sepang dan sudah dapat pesanan pertama. Nanti Malaysia juga mau kerja sama sama Indonesia buat bahan nikel supaya baterainya bisa terus dibuat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Malaysia bersiap memasuki babak baru dalam industri kendaraan listrik dengan memulai produksi baterai mobil listrik berbasis lithium-ion yang memanfaatkan teknologi graphene. Langkah ini menjadi bagian dari strategi negara tersebut untuk membangun industri baterai lokal sekaligus memperkuat posisinya dalam rantai pasok kendaraan listrik di kawasan ASEAN.

Selama ini, sebagian besar negara di Asia Tenggara masih bergantung pada impor baterai maupun komponen utama kendaraan listrik. Dengan hadirnya fasilitas produksi dalam negeri, Malaysia berharap mampu meningkatkan daya saing industri otomotif nasional sekaligus membuka peluang menjadi salah satu pusat manufaktur baterai di kawasan.

1. Malaysia bangun pabrik baterai lokal pertama

Mobil Listrik/Unsplash.com

Produksi baterai terbaru ini dikembangkan oleh NanoMalaysia melalui anak usahanya, Gigafactory Malaysia. Perusahaan yang berada di bawah Kementerian Sains, Teknologi, dan Inovasi (MOSTI) Malaysia tersebut telah menginvestasikan sekitar RM20 juta atau setara sekitar Rp89 miliar untuk membangun fasilitas produksi baterai berbasis teknologi lokal.

Chief Executive Officer (CEO) NanoMalaysia, Rezal Khairi Ahmad, mengatakan proyek tersebut menjadi tonggak penting bagi industri kendaraan listrik Malaysia. Ia menyatakan, "Kami hampir mengoperasikan pabrik produksi teknologi baterai lokal pertama di Malaysia." Menurut Rezal, fasilitas tersebut juga berpotensi menjadi yang pertama di kawasan ASEAN yang memproduksi baterai menggunakan teknologi hasil pengembangan dalam negeri.

2. Teknologi graphene diklaim tingkatkan performa

Ilustrasi Mobil Listrik (https://pixabay.com/id/illustrations/kecerdasan-buatan-keganjilan-7768524/)

Baterai yang akan diproduksi mengusung teknologi lithium-ion dengan kimia nikel mangan kobalt (NMC). Berbeda dengan baterai konvensional, NanoMalaysia menggunakan graphene sebagai pengganti grafit pada elektroda negatif. Penggunaan material tersebut diklaim mampu meningkatkan kapasitas penyimpanan energi hingga tiga kali lipat dibandingkan baterai lithium-ion yang masih menggunakan grafit.

Selain kapasitas energi yang lebih besar, baterai ini juga disebut mampu memberikan jarak tempuh hingga sekitar 640 kilometer dalam sekali pengisian daya. Meski demikian, perusahaan belum mengungkapkan kapasitas baterai yang digunakan dalam pengujian maupun jenis kendaraan listrik yang menjadi acuan klaim tersebut. NanoMalaysia juga menyebut baterai ini telah mendukung teknologi pengisian cepat dan memiliki kepadatan energi di atas 200 Wh/kg, sehingga diharapkan mampu bersaing dengan produk-produk global.

3. Bidik pasar ASEAN dan gandeng Indonesia

ilustrasi mobil listrik (pexels.com/Philippe WEICKMANN)

Pada tahap awal, produksi akan dilakukan di fasilitas seluas sekitar 15.000 kaki persegi yang berada di Kawasan Industri Suria, Sepang. NanoMalaysia mengungkapkan bahwa pihaknya telah menerima pesanan baterai berkapasitas 25 kWh dari sebuah organisasi lokal, sementara sejumlah kerja sama lain masih berada dalam tahap finalisasi.

Perusahaan menargetkan kapasitas produksi meningkat menjadi skala megawatt-jam (MWh) paling cepat pada September 2026. Saat fasilitas beroperasi penuh, pabrik tersebut diperkirakan mampu menghasilkan sekitar satu MWh kapasitas baterai setiap tahun atau setara dengan sekitar 92.000 sel baterai. Meskipun harga resmi baterai belum diumumkan, NanoMalaysia optimistis produksi lokal akan membantu menekan harga kendaraan listrik karena biaya impor, logistik, dan penyimpanan dapat dikurangi secara signifikan.

Untuk mendukung keberlanjutan produksi, NanoMalaysia juga berencana menjalin kemitraan strategis dengan Indonesia sebagai pemasok nikel, salah satu bahan baku utama baterai kendaraan listrik. Kerja sama tersebut dinilai saling menguntungkan karena Indonesia merupakan salah satu produsen nikel terbesar di dunia, sementara Malaysia memperkuat kemampuan manufaktur dan pengembangan teknologinya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article