Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Mengenal Sistem Pengereman Canggih Kereta Cepat Whoosh
Ilustrasi Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) Whoosh. (dok. KCIC)
  • Kereta Cepat Whoosh mengandalkan kombinasi rem regeneratif elektrik dan pneumatik untuk memastikan deselerasi halus, efisien, serta aman di kecepatan operasional hingga 350 kilometer per jam.
  • Sistem Anti-skid Brake Control dan Automatic Train Protection bekerja otomatis memantau kondisi roda serta lintasan, mencegah selip dan meminimalkan risiko akibat kesalahan manusia atau gangguan eksternal.
  • Pengereman darurat memutus daya motor dan mengaktifkan tekanan udara maksimal, dengan jarak berhenti sekitar 6,5 kilometer berkat material cakram rem tahan panas yang menjaga stabilitas dan keselamatan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Kereta Cepat Whoosh telah menjadi ikon baru transportasi modern di Indonesia dengan kecepatan operasional yang mencapai 350 kilometer per jam. Di balik kemampuan melesat bak peluru tersebut, terdapat sistem pengereman super canggih yang menjamin keselamatan ribuan penumpang setiap harinya dalam waktu tempuh yang sangat singkat.

Menghilangkan energi kinetik dari rangkaian kereta yang melaju sangat cepat memerlukan koordinasi teknologi yang presisi antara sistem mekanik dan elektronik. Keamanan menjadi prioritas mutlak, sehingga sistem pengereman Whoosh dirancang dengan berbagai lapisan perlindungan untuk menghadapi segala situasi darurat di lintasan Jakarta-Bandung.

1. Kolaborasi sistem rem elektrik dan pneumatik

PT Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC), Whoosh. (dok: kcic.co.id)

Sistem pengereman pada Kereta Cepat Whoosh menggunakan kombinasi cerdas antara rem regeneratif elektrik dan rem udara tekan (pneumatik). Saat masinis melakukan pengereman dalam kondisi normal, motor penggerak pada kereta akan berubah fungsi menjadi generator. Energi gerak kereta diubah kembali menjadi energi listrik yang kemudian dialirkan balik ke jaringan listrik, sehingga proses deselerasi terjadi secara halus sekaligus efisien.

Namun, mengutip informasi teknis dari PT KCIC (Kereta Cepat Indonesia China), jika sistem elektrik tidak mencukupi atau dalam kondisi darurat, rem pneumatik akan mengambil alih sepenuhnya. Sistem ini bekerja dengan menjepit cakram rem yang terletak pada poros roda menggunakan tekanan udara tinggi. Integrasi kedua sistem ini memastikan bahwa kereta dapat melambat secara bertahap tanpa menimbulkan guncangan hebat yang dapat mengganggu kenyamanan atau membahayakan stabilitas rangkaian.

2. Fitur perlindungan antiselip dan deteksi dini

ilustrasi kereta Whoosh (unsplash.com/usiswantoro)

Pada kecepatan 350 kilometer per jam, risiko roda terkunci atau selip di atas rel sangatlah tinggi, terutama saat kondisi cuaca buruk atau rel yang basah. Untuk mengatasi hal ini, Whoosh dilengkapi dengan sistem Anti-skid Brake Control yang bekerja mirip dengan teknologi ABS pada mobil modern. Sensor pada setiap roda akan memantau kecepatan putaran secara real-time dan mengatur tekanan rem secara otomatis agar roda tidak berhenti berputar sepenuhnya saat proses pengereman berlangsung.

Selain itu, berdasarkan ulasan dari laman Kementerian Perhubungan, Whoosh didukung oleh sistem Automatic Train Protection (ATP) yang sangat sensitif. Jika sensor mendeteksi adanya rintangan, gempa bumi, atau angin kencang di jalur, sistem komputer akan memberikan peringatan dan secara otomatis melakukan pengereman jika masinis tidak segera bereaksi. Teknologi ini memastikan bahwa faktor kesalahan manusia dapat diminimalisir melalui bantuan kecerdasan buatan yang memantau keamanan lintasan selama 24 jam.

3. Prosedur pengereman darurat dan jarak berhenti aman

Kereta Cepat Whoosh tiba di Stasiun Padalarang. (dok. KCIC)

Pengereman darurat pada Whoosh dirancang sebagai skenario perlindungan terakhir yang sangat kuat. Ketika tuas rem darurat diaktifkan, seluruh daya tarik motor akan diputus secara instan dan tekanan udara maksimal akan dialirkan ke seluruh sepatu rem pada setiap rangkaian. Meskipun sistem ini sangat bertenaga, kereta tetap membutuhkan jarak yang cukup jauh untuk berhenti total karena besarnya inersia yang dihasilkan oleh massa kereta yang sangat berat.

Menurut data terkait teknologi CR400AF (basis model Whoosh), jarak pengereman darurat dari kecepatan maksimal hingga berhenti total memerlukan ruang sekitar 6,5 kilometer. Jarak ini jauh lebih efisien dibandingkan teknologi kereta konvensional berkat material cakram rem berbahan keramik karbon atau paduan logam khusus yang mampu menahan panas ekstrem tanpa kehilangan daya cengkeram. Melalui sistem berlapis ini, Whoosh terbukti mampu mempertahankan standar keselamatan internasional tertinggi di industri perkeretaapian global.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team