Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Mencampur Pertamax Turbo dengan Pertamax, Amankah Buat Mesin?
ilustrasi isi bensin di SPBU (pexels.com/Engin Akyurt)
  • Mencampur Pertamax Turbo dan Pertamax menghasilkan nilai oktan rata-rata sekitar 95, namun ketidakkonsistenan ini dapat memicu knocking dan membuat ECU bekerja lebih keras menyesuaikan pembakaran.
  • Perbedaan formula aditif antara kedua bahan bakar bisa menyebabkan reaksi kimia yang menimbulkan endapan, menyumbat injektor, serta menurunkan efisiensi pembakaran dan konsumsi bahan bakar.
  • Pencampuran jangka panjang mempercepat keausan busi, piston, dan sensor oksigen akibat suhu kerja tidak stabil serta meningkatkan penumpukan karbon yang berdampak pada performa mesin.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Praktik mencampur dua jenis bahan bakar dengan angka oktan berbeda sering dilakukan oleh pemilik kendaraan dengan harapan mendapatkan performa tinggi namun dengan biaya yang lebih ekonomis. Kombinasi antara Pertamax Turbo yang memiliki RON 98 dengan Pertamax yang memiliki RON 92 menciptakan campuran bahan bakar dengan nilai oktan baru yang berada di antara keduanya.

Meskipun terlihat sebagai solusi cerdas untuk menghemat pengeluaran, tindakan ini sebenarnya memiliki konsekuensi teknis terhadap kesehatan mesin jangka panjang. Fenomena kimia yang terjadi di dalam tangki tidak sesederhana sekadar menjumlahkan angka oktan, melainkan melibatkan interaksi zat aditif yang dapat memengaruhi efisiensi pembakaran secara keseluruhan.

1. Perubahan angka oktan dan ketidakstabilan pembakaran

Illustrasi mengisi bensin mobil (pexels.com/Engin Akyurt)

Saat Pertamax Turbo dicampur dengan Pertamax, hasil akhirnya adalah bahan bakar dengan angka oktan rata-rata yang bergantung pada perbandingan volume masing-masing cairan. Secara matematis, jika keduanya dicampur dengan perbandingan yang sama, maka akan didapatkan nilai oktan sekitar 95. Namun, mesin kendaraan modern biasanya dirancang secara spesifik untuk bekerja pada satu angka oktan tertentu sesuai dengan rasio kompresinya.

Ketidakkonsistenan nilai oktan ini dapat menyebabkan sistem Electronic Control Unit (ECU) pada mesin modern bekerja lebih keras untuk menyesuaikan waktu pengapian. Jika mesin dengan kompresi tinggi yang membutuhkan RON 98 dipaksa mengonsumsi campuran yang oktan-nya telah turun, risiko terjadinya pembakaran dini atau knocking tetap ada. Ketidakstabilan ini membuat ledakan di ruang bakar tidak seragam, yang pada akhirnya dapat mengurangi kehalusan suara mesin dan responsivitas tarikan gas saat akselerasi spontan.

2. Konflik zat aditif dan risiko tumpukan deposit

Ilustrasi mekanik mengecek kelistrikan mesin mobil (pexels.com/Gustavo Fring)

Bahan bakar merek Pertamax Turbo dan Pertamax diproduksi dengan formula kimia dan paket aditif yang berbeda meskipun berasal dari produsen yang sama. Pertamax Turbo biasanya dibekali dengan aditif pembersih mesin yang lebih kuat dan komponen anti-gesek yang lebih mutakhir untuk menahan suhu tinggi. Ketika dua formula ini bertemu, efektivitas dari masing-masing zat aditif tersebut bisa mengalami degradasi atau tidak bekerja secara optimal.

Salah satu risiko yang sering luput dari perhatian adalah potensi timbulnya endapan atau ampas kimia di dalam sistem bahan bakar. Zat aditif yang saling kontradiktif dapat memicu terbentuknya gum atau kotoran yang dapat menyumbat lubang mikroskopis pada injektor. Jika injektor mampet, semprotan bahan bakar ke ruang bakar menjadi tidak berkabut sempurna, yang berujung pada konsumsi bensin yang justru menjadi lebih boros meskipun harga campurannya lebih murah.

3. Efek jangka panjang terhadap usia pakai komponen mesin

ilustrasi mekanik sedang cek mesin mobil (pexels.com/Sergey Meshkov)

Mencampur bahan bakar secara terus-menerus dalam jangka panjang dapat merugikan komponen internal seperti busi, piston, dan sensor oksigen. Mesin yang sering mengalami penyesuaian ignition timing akibat fluktuasi oktan akan menghasilkan suhu kerja yang tidak stabil. Suhu yang tidak konsisten ini mempercepat keausan pada busi, ditandai dengan munculnya kerak berwarna cokelat atau kehitaman yang sulit dibersihkan.

Selain itu, pembakaran yang tidak sempurna dari hasil pencampuran ini meningkatkan emisi gas buang dan mempercepat penumpukan karbon di kepala piston. Kerak karbon yang menumpuk akan meningkatkan rasio kompresi secara semu, yang justru akan membuat mesin semakin "haus" akan oktan tinggi di masa depan. Oleh karena itu, konsistensi dalam menggunakan satu jenis bahan bakar sesuai rekomendasi pabrikan tetap menjadi pilihan paling bijak untuk menjaga keawetan mesin dan stabilitas performa kendaraan tanpa harus melakukan eksperimen berisiko di dalam tangki.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team