Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi seorang pria sedang menyeberang di zebra cross (freepik.com/freepik)
ilustrasi seorang pria sedang menyeberang di zebra cross (freepik.com/freepik)

Lalu lintas modern tidak mungkin dipisahkan dari keberadaan garis hitam dan putih yang membentang di persimpangan jalan atau yang dikenal dengan sebutan zebra cross. Simbol keselamatan ini telah menjadi bahasa universal bagi pejalan kaki dan pengemudi di seluruh dunia untuk saling berbagi ruang jalan secara adil dan teratur.

Meskipun kini terlihat sederhana, evolusi zebra cross merupakan hasil dari eksperimen keselamatan jalan raya yang panjang demi menekan angka kecelakaan akibat meningkatnya volume kendaraan bermotor. Perjalanan sejarahnya melibatkan riset mendalam mengenai psikologi visual pengemudi hingga menjadi bagian tak terpisahkan dari infrastruktur transportasi global yang menyelamatkan jutaan nyawa.

1. Eksperimen awal di jalanan britania raya

ilustrasi zebra cross (pexels.com/Nout)

Akar sejarah zebra cross bermula di Inggris pasca Perang Dunia II, ketika jumlah kendaraan bermotor meningkat pesat dan angka kematian pejalan kaki melonjak tajam. Pada tahun 1940-an, otoritas transportasi Inggris melakukan berbagai uji coba untuk menandai area penyeberangan jalan. Awalnya, tanda yang digunakan hanyalah paku logam di aspal atau garis berwarna biru dan kuning, namun tanda-tanda tersebut terbukti sulit terlihat oleh pengemudi dari jarak jauh.

Pada tahun 1949, sebuah eksperimen dilakukan di seribu lokasi berbeda di Inggris untuk menemukan pola warna yang paling mencolok secara visual. Hasil riset menunjukkan bahwa pola garis-garis hitam dan putih memberikan kontras paling tajam terhadap warna aspal, sehingga sangat mudah dikenali oleh mata manusia bahkan dalam kondisi cuaca buruk. Nama "zebra" sendiri dikaitkan dengan Jim Callaghan, seorang politisi Inggris yang pada tahun 1948 secara spontan menyebut pola tersebut mirip dengan kulit zebra saat mengunjungi laboratorium riset jalan raya.

2. Peresmian secara hukum dan fenomena abbey road

ilustrasi zebra cross (pexels.com/Nout)

Setelah melalui masa uji coba yang panjang, zebra cross secara resmi diperkenalkan melalui peraturan lalu lintas Inggris pada 31 Oktober 1951. Pada awalnya, penyeberangan ini juga dilengkapi dengan lampu berwarna kuning yang berkedip di atas tiang bergaris hitam-putih, yang dikenal sebagai Belisha Beacons. Keberadaan lampu ini bertujuan untuk memberikan peringatan tambahan bagi pengemudi agar menurunkan kecepatan saat mendekati area penyeberangan pejalan kaki.

Popularitas zebra cross sebagai simbol budaya pop melonjak drastis pada tahun 1969 berkat grup band legendaris, The Beatles. Foto sampul album mereka yang berjudul "Abbey Road" memperlihatkan keempat anggotanya sedang berjalan menyeberangi zebra cross di depan studio rekaman mereka. Foto ikonik tersebut tidak hanya mengabadikan momen musikal, tetapi juga menjadikan zebra cross di Abbey Road sebagai situs warisan dunia dan lokasi wisata yang terus dikunjungi hingga hari ini oleh ribuan orang setiap tahunnya.

3. Evolusi teknologi dan standar keselamatan global

ilustrasi seseorang yang sedang menyeberang di zebra cross (freepik.com/nitayuko)

Seiring berjalannya waktu, zebra cross terus mengalami modifikasi teknologi untuk meningkatkan efektivitasnya. Di berbagai negara, material cat konvensional mulai digantikan oleh termoplastik yang mengandung butiran kaca reflektif agar garis tetap bersinar saat terkena sorot lampu depan mobil di malam hari. Selain itu, muncul variasi lain seperti "Pelican Crossing" yang menggunakan tombol lampu lalu lintas untuk pejalan kaki, serta desain penyeberangan tiga dimensi yang memberikan ilusi visual balok melayang untuk memaksa pengemudi melambat secara naluriah.

Standar internasional kini mewajibkan penempatan zebra cross melalui perhitungan jarak pandang dan arus lalu lintas yang ketat. Meskipun teknologi kendaraan otonom mulai berkembang, garis-garis putih di atas aspal ini tetap menjadi referensi visual utama bagi sistem kecerdasan buatan untuk mengenali area aman bagi pejalan kaki. Keberadaannya membuktikan bahwa solusi desain yang paling sederhana sering kali menjadi yang paling efektif dalam menjaga keteraturan dan keselamatan di tengah hiruk-pikuk peradaban manusia yang terus bergerak cepat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team