Anggapan bahwa mobil berwarna merah lebih sering menjadi sasaran tilang polisi telah menjadi mitos yang berakar kuat di tengah masyarakat selama puluhan tahun. Warna merah yang mencolok sering kali diidentikkan dengan kecepatan, agresivitas, dan keberanian, sehingga muncul stigma bahwa pengemudi mobil merah secara otomatis dianggap lebih sering melanggar aturan lalu lintas oleh petugas di lapangan.
Namun, data statistik dan riset mengenai perilaku penegakan hukum menunjukkan realitas yang sangat berbeda dari persepsi populer tersebut. Menarik untuk dibedah apakah warna sebuah kendaraan benar-benar menjadi magnet bagi surat tilang, ataukah terdapat faktor-faktor lain yang jauh lebih logis di balik angka-angka pelanggaran lalu lintas yang tercatat di berbagai negara.
