Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Mobil Warna Gelap Lebih Berisiko Kecelakaan: Hasil Riset
ilustrasi mobil hitam (unsplash.com/André Mašek)
  • Riset Monash University menunjukkan mobil berwarna hitam memiliki risiko kecelakaan 12% lebih tinggi dari mobil putih, bahkan meningkat hingga 47% saat kondisi cahaya rendah seperti fajar atau senja.
  • Warna perak dan abu-abu juga berisiko karena efek kamuflase dengan aspal atau kabut, membuat kendaraan sulit terlihat dan meningkatkan potensi tabrakan di kondisi cuaca mendung atau hujan.
  • Warna putih dinilai paling aman karena visibilitasnya tinggi; pengemudi mobil gelap disarankan menyalakan lampu siang hari untuk meningkatkan keterlihatan dan mengurangi risiko kecelakaan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Pemilihan warna mobil sering kali didasari oleh faktor estetika, selera pribadi, atau nilai jual kembali di masa depan. Warna-warna gelap seperti hitam, abu-abu, dan perak kerap dianggap sebagai simbol kemewahan dan profesionalisme yang tidak lekang oleh waktu bagi banyak pemilik kendaraan di seluruh dunia.

Namun, di balik tampilan yang elegan tersebut, terdapat risiko keselamatan yang sangat nyata dan sering kali luput dari perhatian para calon pembeli. Studi mendalam yang dilakukan oleh Monash University Accident Research Centre (MUARC) mengungkapkan bahwa warna eksterior kendaraan memiliki korelasi yang sangat kuat dengan tingkat visibilitas serta probabilitas terjadinya kecelakaan di jalan raya.

1. Dominasi warna hitam dan lonjakan risiko kecelakaan

ilustrasi mobil hitam (unsplash.com/André Mašek)

Berdasarkan riset yang dilakukan oleh para ahli di MUARC, mobil berwarna hitam menempati urutan tertinggi dalam daftar kendaraan paling berisiko. Data menunjukkan bahwa pada siang hari yang terik sekalipun, mobil hitam memiliki risiko kecelakaan 12% lebih tinggi dibandingkan dengan mobil berwarna putih. Hal ini disebabkan oleh sifat warna hitam yang menyerap cahaya dan cenderung menciptakan kontras yang rendah terhadap lingkungan sekitar, sehingga pengendara lain membutuhkan waktu lebih lama untuk menyadari keberadaannya.

Situasi menjadi jauh lebih berbahaya ketika memasuki waktu transisi seperti fajar atau senja. Angka risiko kecelakaan bagi mobil hitam melonjak drastis hingga 47% dibandingkan dengan kendaraan berwarna terang. Pada jam-jam kritis tersebut, cahaya matahari yang minim membuat bentuk fisik kendaraan gelap hampir menyatu dengan bayangan dan lingkungan yang meredup. Kurangnya visibilitas ini sering kali mengakibatkan keterlambatan reaksi dari pengemudi lain saat melakukan manuver seperti berpindah jalur atau berbelok di persimpangan jalan.

2. Bahaya kamuflase pada mobil warna perak dan abu-abu

Ilustrasi BWM Seri 1 (Pexels/bmw.co.id)

Selain warna hitam, riset tersebut juga memberikan peringatan serius bagi pemilik mobil berwarna perak (silver) dan abu-abu. Meskipun warna perak sering dianggap cukup terang, secara statistik warna ini tetap memiliki risiko kecelakaan yang lebih tinggi dibandingkan mobil putih atau kuning. Masalah utama pada warna abu-abu dan perak adalah kecenderungannya untuk "menyatu" secara visual dengan warna permukaan aspal jalanan atau kondisi kabut di pegunungan.

Efek kamuflase ini membuat mata manusia sulit membedakan antara badan kendaraan dengan latar belakang jalanan, terutama saat kondisi cuaca sedang mendung atau hujan gerimis. Mobil abu-abu sering kali kehilangan profil dimensinya di mata pengendara lain karena tidak adanya kontras warna yang mencolok. Ketidakmampuan mata untuk menangkap keberadaan objek secara cepat ini merupakan faktor pemicu kecelakaan beruntun yang sering terjadi akibat jarak pandang yang terbatas di lintasan cepat atau jalan tol.

3. Pentingnya visibilitas warna sebagai fitur keamanan pasif

Ilustrasi BWM Seri 3 (Pexels/bmw.co.id)

Hasil riset dari Monash University menegaskan bahwa warna putih adalah warna yang paling aman dan memiliki visibilitas terbaik dalam berbagai kondisi pencahayaan. Warna terang mampu memantulkan cahaya dengan maksimal, sehingga posisi kendaraan dapat terdeteksi oleh mata manusia dari jarak yang lebih jauh. Hal ini memberikan waktu tambahan bagi pengendara lain untuk memberikan respons atau melakukan pengereman secara tepat jika terjadi situasi darurat di depan mereka.

Bagi pemilik kendaraan berwarna gelap, sangat disarankan untuk lebih proaktif dalam meningkatkan visibilitas demi meminimalisir risiko yang ditemukan dalam riset tersebut. Menyalakan lampu utama atau lampu daytime running lights (DRL) sepanjang waktu, bahkan di siang hari, dapat membantu kendaraan lebih terlihat oleh pengguna jalan lainnya. Pemilihan warna mungkin tampak seperti urusan gaya hidup, namun data ilmiah membuktikan bahwa keputusan tersebut bisa menjadi faktor penentu keselamatan jiwa di tengah padatnya lalu lintas jalan raya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team