Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Mudik Saat Puasa, Ini Jam-jam Ngantuk yang Wajib Diwaspadai
Ilustrasi sopir sedang istirahat (Pexels/Sergi Montaner)
  • Perjalanan mudik saat puasa menuntut kewaspadaan ekstra karena perubahan ritme biologis dan risiko kantuk mendadak yang bisa membahayakan keselamatan di jalan.
  • Jam kritis pertama terjadi pukul 08.00–10.00 pagi akibat kurang tidur, disusul pukul 13.00–15.00 siang karena dehidrasi dan panas yang menurunkan konsentrasi pengemudi.
  • Menjelang berbuka, sekitar pukul 17.00–18.00, tubuh mencapai titik lelah maksimum sehingga emosi mudah terpancing dan risiko kecelakaan meningkat jika memaksakan kecepatan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Perjalanan mudik dalam kondisi berpuasa menuntut kewaspadaan ganda karena ritme biologis tubuh mengalami perubahan yang cukup signifikan. Ketika asupan nutrisi dan cairan terhenti selama belasan jam, otak harus bekerja lebih keras untuk menjaga fokus di tengah terik matahari dan kepadatan arus lalu lintas yang menguras emosi.

Bahaya terbesar yang mengintai para pemudik bukanlah sekadar kemacetan, melainkan serangan kantuk mendadak yang sering kali datang tanpa peringatan pada waktu-waktu tertentu. Memahami jam-jam kritis ini menjadi langkah preventif yang sangat krusial agar perjalanan pulang ke kampung halaman tetap aman dan berakhir dengan kebahagiaan bersama keluarga besar.

1. Serangan kantuk pasca-subuh akibat siklus tidur yang terpotong

ilustrasi sopir (pexels.com/UHGO)

Jam kritis pertama yang wajib diwaspadai adalah antara pukul 08.00 hingga 10.00 pagi. Pada rentang waktu ini, tubuh biasanya mengalami penurunan energi secara drastis karena siklus tidur yang terganggu untuk aktivitas sahur. Rasa kantuk yang muncul pada jam-jam ini sering kali terasa sangat berat karena tubuh sedang beradaptasi dengan hilangnya asupan kafein atau glukosa harian yang biasanya didapatkan saat sarapan di hari-hari biasa.

Bagi pengemudi yang memaksakan diri berangkat sesaat setelah salat Subuh, pukul 09.00 adalah titik di mana konsentrasi mulai memudar. Otak cenderung memasuki fase "mikrotidur" atau tertidur selama beberapa detik tanpa disadari. Jika merasakan kelopak mata mulai berat atau pandangan mulai tidak fokus pada jam ini, sangat disarankan untuk segera menepi di rest area terdekat. Tidur singkat selama 15 hingga 20 menit jauh lebih berharga daripada memaksakan diri melaju namun berisiko fatal bagi nyawa seluruh penumpang.

2. Penurunan konsentrasi di siang hari akibat dehidrasi dan panas terik

Ilustrasi sopir bus (Pexels/Lê Minh)

Memasuki pukul 13.00 hingga 15.00, tantangan bagi pemudik yang berpuasa mencapai puncaknya. Suhu udara yang panas di luar kendaraan serta paparan sinar matahari langsung melalui kaca depan dapat meningkatkan suhu tubuh dan mempercepat dehidrasi. Dehidrasi ringan saja sudah cukup untuk mengganggu fungsi kognitif, membuat respons refleks melambat, dan memicu rasa kantuk yang bersifat "hypnotic" karena kejenuhan menatap aspal yang monoton.

Pada jam-jam siang bolong ini, metabolisme tubuh melambat untuk menghemat sisa energi yang ada. Pengemudi motor menjadi pihak yang paling rentan karena terpapar angin dan panas secara langsung. Cara terbaik untuk menyiasati jam kritis ini adalah dengan membasuh muka menggunakan air dingin atau melakukan peregangan ringan di bahu jalan. Hindari memaksakan kecepatan tinggi hanya karena ingin cepat sampai, sebab pada jam-jam ini, kemampuan otak dalam memperkirakan jarak aman antar kendaraan sering kali menurun secara signifikan.

3. Fase kelelahan akumulatif menjelang waktu berbuka puasa

Ilustrasi sopir mengantuk (pexels.com/Adrien Olichon)

Satu jam sebelum waktu berbuka, yakni sekitar pukul 17.00 hingga 18.00, adalah waktu yang sangat rawan bagi para pemudik. Rasa tidak sabar untuk segera sampai atau mencari tempat berbuka sering kali memicu perilaku berkendara yang agresif. Ironisnya, pada jam ini kondisi fisik berada pada titik terendah setelah lebih dari 12 jam tidak mendapatkan asupan energi. Gula darah yang rendah membuat emosi lebih labil dan koordinasi saraf motorik menjadi kurang presisi.

Fenomena "ngebut" menjelang buka puasa adalah jebakan maut yang harus dihindari. Rasa kantuk mungkin tertutupi oleh adrenalin karena antusiasme mendekati waktu makan, namun kewaspadaan sebenarnya sedang berada di level yang sangat berbahaya. Sebaiknya, tentukan lokasi pemberhentian setidaknya 30 menit sebelum azan Magrib berkumandang. Beristirahat sejenak sambil mempersiapkan hidangan berbuka yang manis akan mengembalikan kadar glukosa otak, sehingga perjalanan setelah berbuka dapat dilanjutkan kembali dalam kondisi mental yang lebih segar dan stabil.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team