Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi mobil listrik (pexels.com/Jae P)
ilustrasi mobil listrik (pexels.com/Jae P)

Intinya sih...

  • Lonjakan volume penjualan dan dominasi kategori mobil listrikBerdasarkan data GAIKINDO, total penjualan kendaraan elektrik di tahun 2025 melesat menjadi 175.144 unit, meningkat tajam dari angka 103.228 unit pada tahun sebelumnya.

  • Penurunan pangsa pasar kendaraan bermesin pembakaran internalPada tahun 2025, angka penjualan mobil konvensional tercatat sebanyak 628.543 unit, atau setara dengan 78,2 persen dari total penjualan nasional.

  • Strategi pemasaran berbasis nilai dan penguatan komponen lokalFokus utama tidak lagi bisa hanya bertumpu pada isu lingkungan, melainkan harus beralih pada pemberian nilai tambah (value) bagi konsum

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Pasar otomotif Indonesia mencatatkan transformasi besar sepanjang tahun 2025 dengan lonjakan signifikan pada angka penjualan kendaraan elektrik. Data terbaru dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat terhadap mobilitas ramah lingkungan telah mendorong volume penjualan unit bertenaga listrik ke level tertinggi sepanjang sejarah.

Pertumbuhan ini tidak hanya mencerminkan perubahan gaya hidup masyarakat, tetapi juga menandakan pergeseran struktur industri otomotif nasional secara masif. Dari kategori mobil hibrida hingga kendaraan listrik berbasis baterai, seluruh lini menunjukkan tren positif yang mulai menggerus dominasi kendaraan bermesin pembakaran internal yang selama ini merajai jalanan tanah air.

1. Lonjakan volume penjualan dan dominasi kategori mobil listrik

mobil listrik hyundai (pexels.com/Hyundai motor group)

Berdasarkan data GAIKINDO, total penjualan kendaraan elektrik di tahun 2025 melesat menjadi 175.144 unit, meningkat tajam dari angka 103.228 unit pada tahun sebelumnya. Kenaikan ini sangat menonjol pada kategori Battery Electric Vehicle (BEV) yang penjualannya naik lebih dari dua kali lipat, mencapai 103.931 unit. Angka ini secara otomatis mendongkrak pangsa pasar kendaraan elektrik secara keseluruhan dari 11,9 persen menjadi 21,8 persen dalam waktu satu tahun saja.

Selain BEV, kategori Hybrid Vehicle (HEV) tetap menjadi pilihan populer dengan penjualan sebanyak 65.943 unit, disusul oleh lonjakan drastis pada Plug-in Hybrid Vehicle (PHEV) yang menyentuh angka 5.270 unit. Pertumbuhan ini sangat kontras jika dibandingkan dengan data tahun 2020 yang hanya mencatatkan penjualan 1.324 unit. Fenomena ini membuktikan bahwa ekosistem kendaraan listrik di Indonesia telah matang dan mulai mendapatkan kepercayaan penuh dari konsumen luas.

2. Penurunan pangsa pasar kendaraan bermesin pembakaran internal

ilustrasi mobil listrik (pexels.com/Philippe WEICKMANN)

Seiring dengan meroketnya minat terhadap mobil listrik, kendaraan dengan mesin pembakaran internal (ICE) mulai mengalami tren penurunan volume penjualan. Pada tahun 2025, angka penjualan mobil konvensional tercatat sebanyak 628.543 unit, atau setara dengan 78,2 persen dari total penjualan nasional. Meskipun secara volume masih mendominasi, angka ini menurun cukup signifikan dibandingkan tahun 2024 yang masih berada di level 762.495 unit dengan penguasaan pasar sebesar 88,1 persen.

Penyusutan pangsa pasar kendaraan konvensional dari hampir 100 persen pada tahun 2020 menjadi hanya 78 persen di tahun 2025 mengindikasikan adanya disrupsi teknologi yang nyata. Konsumen kini cenderung beralih ke pilihan yang lebih efisien dan modern, memaksa produsen otomotif untuk mengevaluasi kembali lini produk mereka agar tetap relevan di tengah ambisi pemerintah untuk menurunkan ketergantungan pada bahan bakar fosil.

3. Strategi pemasaran berbasis nilai dan penguatan komponen lokal

Mobil Listrik/Unsplash.com

Menghadapi perubahan tren ini, pakar otomotif menekankan pentingnya bagi perusahaan untuk merombak strategi pemasaran. Fokus utama tidak lagi bisa hanya bertumpu pada isu lingkungan, melainkan harus beralih pada pemberian nilai tambah (value) bagi konsumen, terutama terkait efisiensi biaya operasional dan kemanggungan teknologi. Strategi harga yang kompetitif menjadi kunci utama mengingat konsumen saat ini jauh lebih kritis dalam membandingkan manfaat fungsional antara mobil listrik dan mobil bensin.

Selain itu, penguatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) minimal 40 persen menjadi syarat mutlak bagi produsen untuk tetap kompetitif di pasar. Lokalisasi rantai pasok yang riil sangat diperlukan untuk memitigasi dampak kenaikan PPN menjadi 12 persen serta fluktuasi nilai tukar mata uang. Dengan rantai pasok yang efisien di dalam negeri, harga kendaraan elektrik diharapkan dapat semakin terjangkau, sehingga target transisi menuju mobilitas hijau di masa depan dapat tercapai lebih cepat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team