Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Reportase Jalur Pantura: Menjemput Ramadan di Rembang
Tim Jalan Pulang menelusuri jalur Pantura dari Jakarta hingga Surabaya (IDN Times/Dwi Agustiar)
  • Tim Jalan Pulang melanjutkan perjalanan dari Kudus menuju Surabaya melalui jalur Pantura sejauh 280 km, melewati kota-kota pesisir seperti Rembang, Tuban, Lamongan, dan Gresik.
  • Di Rembang, tim menyaksikan pemantauan hilal di Pantai Binangun, berziarah ke Makam RA Kartini, serta menjelajahi Lasem yang dikenal dengan harmonisasi budaya Jawa dan Tionghoa.
  • Malam Ramadan pertama diwarnai salat tarawih di Masjid Agung Rembang yang penuh khidmat sebelum perjalanan dilanjutkan menuju Surabaya dengan pemandangan laut sepanjang jalur pesisir.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Setelah menuntaskan rute Cirebon–Kudus, kini Tim Jalan Pulang bergerak menuju Surabaya. Kami melewati beberapa kota, seperti Rembang, Tuban, Lamongan, dan Gresik. Banyak cerita di lintasan ini, terutama di Rembang, tempat budaya Arab, Tiongkok, dan Jawa hidup berdampingan secara harmonis.

Jarak dari Kudus menuju Surabaya via Pantura sekitar 280 km dengan kondisi jalan yang cukup bervariasi. Kami menempuhnya dalam waktu sekitar 8 jam. Perjalanan ini cukup melelahkan tetapi juga mengasyikkan, sebab di jalur ini kami akhirnya bisa melihat laut persis di samping jendela mobil.

Nah, berikut reportase perjalanan kami dari Kudus hingga Surabaya.

1. Menuju Rembang, kota dengan tiga budaya

Tim Jalan Pulang menelusuri jalur Pantura dari Jakarta hingga Surabaya (IDN Times/Dwi Agustiar)

Dari Kudus, kami langsung menuju Surabaya. Kota pertama yang kami singgahi adalah Rembang, kota kecil yang tenang namun sarat sejarah. Banyak tempat yang kami kunjungi di kota ini, salah satunya Pantai Binangun yang berlokasi di Lasem. Pantai ini menjadi salah satu titik untuk melihat hilal Ramadan alias penentuan hari pertama puasa.

Kami berkesempatan melihat secara langsung proses pemantauan hilal melalui teleskop khusus. Cukup berkesan karena ini adalah pengalaman pertama kami menanti hilal. Sayangnya, bulan sabit muda tak tampak sore itu. Meski begitu, sunset di Pantai Binangun cukup indah, lengkap dengan warna-warni jingga dan siluet sampan nelayan yang berlenggak-lenggok digoyang ombak.

Kami kemudian menginap di Rembang sebelum berziarah ke Makam RA Kartini keesokan paginya. Jarak makam dari pusat kota Rembang tidak terlalu jauh, sekitar 20 menit berkendara. Jalannya pun cukup mulus. Pepohonan besar yang rimbun menyambut kami saat tiba di kompleks makam, memberikan keteduhan bagi para peziarah yang datang.

Membaca namanya yang terukir di nisan seperti memutar kembali ingatan tentang surat-surat yang dikirim Kartini ke sahabat penanya di Belanda. Surat-surat itu berisi kegelisahan Kartini melihat kondisi perempuan saat itu yang masih sulit mengakses pendidikan serta terbelenggu kawin paksa dan poligami. Dari surat-surat itu, kita juga tahu betapa pemikiran Kartini jauh melampaui zamannya.

Dari makam RA Kartini, tujuan kami berikutnya adalah Rumah Merah Heritage di Lasem. Jika Rembang adalah tubuh, maka Lasem adalah jiwanya. Rumah Merah dengan arsitektur Tionghoa yang megah dan warna merah dominan adalah bukti nyata betapa harmonisnya budaya Tionghoa dan Jawa di masa lalu.

Berjalan di lorong-lorong Lasem terasa seperti masuk ke dalam mesin waktu. Pintu-pintu kayu tinggi, tembok tebal berbahan kapur, dan ukiran-ukiran naga menciptakan atmosfer yang eksotis sekaligus melankolis. Tak mengherankan jika Lasem sering disebut sebagai Tiongkok Kecil.

3. Tarawih pertama di Masjid Agung Rembang

Tim Jalan Pulang menelusuri jalur Pantura dari Jakarta hingga Surabaya (IDN Times/Dwi Agustiar)

Ketika hari mulai sore, kami bergegas menuju Masjid Agung Rembang untuk melaksanakan salat tarawih pertama di tahun 2026. Masjid Agung Rembang terletak tepat di jantung kota. Desainnya cukup ikonik dengan arsitektur klasik Jawa yang megah. Saat memasuki pelataran masjid, ribuan warga lokal tumpah ruah dengan sarung dan mukena putih yang bersih. Suasana tarawih pertama selalu memiliki energi yang berbeda—penuh antusiasme dan haru.

Saat imam mulai membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an, suara gema mikrofon menyatu dengan desau angin malam pesisir. Di bawah pendar cahaya kuning hangat lampu-lampu gantung, saya merasakan kebersamaan yang tulus. Salat tarawih di sini rasanya bukan sekadar rutinitas ibadah, melainkan perayaan kembalinya bulan yang dinanti-nanti oleh seluruh umat Islam.

Setelah salam terakhir, aroma kopi dan jajanan pasar mulai menyeruak di sekitar alun-alun, menandai kehidupan malam Ramadan yang baru saja dimulai. Malam ini kami tutup dengan segelas wedang jahe di warung angkringan pinggir Alun-Alun Kota Rembang. Hangat dan syahdu.

4. Menuju titik akhir perjalanan

Tim Jalan Pulang menelusuri jalur Pantura dari Jakarta hingga Surabaya (IDN Times/Dwi Agustiar)

Keesokan harinya, perjalanan sesungguhnya dimulai lagi. Rute kali ini adalah Rembang menuju Surabaya. Ini adalah rute paling berkesan, sebab saat memasuki jalur Rembang–Tuban, kami langsung disambut deburan ombak. Laut terhampar persis di sisi kiri kami.

Jika pada jalur Jakarta–Cirebon dan Cirebon–Kudus kami hanya bisa melihat dinding-dinding kota, di sini laut terlihat langsung dari jendela mobil. Jalan raya seolah menempel di bibir pantai. Ombak kecil yang pecah di bebatuan hanya berjarak beberapa meter dari aspal. Birunya air Laut Jawa yang tenang dan sampan-sampan kecil nelayan seolah memberikan kesejukan visual di tengah teriknya matahari Pantura.

Setelah itu, Pantura kembali ke wajah aslinya: penuh truk, lubang, dan debu. Kami melewati Kota Lamongan dan Gresik sebelum akhirnya tiba di Surabaya. Setelah menempuh perjalanan sekitar 800 km, melintasi ranjau lubang yang tersebar di sepanjang rute, serta menghadapi barisan truk yang seolah tanpa akhir, rasanya lega sekali saat kami melihat Patung Sura dan Baya di pusat kota Surabaya.

Editorial Team