Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi mengisi baterai mobil listrik (unsplash.com/chuttersnap)
ilustrasi mengisi baterai mobil listrik (unsplash.com/chuttersnap)

Intinya sih...

  • Baterai sodium memanfaatkan natrium yang melimpah, menekan biaya produksi hingga 30-40% dibanding baterai konvensional.

  • Performa stabil di suhu ekstrem dan keamanan maksimal, mampu mempertahankan kapasitas pengisian daya hingga di atas 90 persen meski berada pada suhu minus 20 derajat Celcius.

  • Baterai sodium menjadi alternatif ramah lingkungan tanpa ketergantungan lithium, ideal untuk kendaraan perkotaan dengan jarak tempuh yang lebih pendek.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Industri kendaraan listrik global kini berada di ambang transformasi besar seiring dengan kehadiran teknologi baterai berbasis sodium-ion. Selama bertahun-tahun, tingginya harga mobil listrik menjadi penghalang utama bagi masyarakat luas untuk beralih dari kendaraan konvensional, namun inovasi terbaru ini menjanjikan solusi yang jauh lebih ekonomis dan berkelanjutan.

Langkah berani ini dipelopori oleh kerja sama strategis antara pabrikan otomotif Changan dan raksasa baterai CATL, yang baru saja merilis model kendaraan listrik pertama di dunia dengan teknologi ini. Penemuan tersebut menandai berakhirnya ketergantungan mutlak pada lithium yang harganya fluktuatif, sekaligus membuka jalan bagi era transportasi bersih yang benar-benar bisa dijangkau oleh semua kalangan.

1. Keunggulan material melimpah dan harga yang kompetitif

Ilustrasi baterai mobil listrik (byd.com)

Berbeda dengan baterai lithium-ion yang mengandalkan logam langka, baterai sodium-ion memanfaatkan natrium yang bisa ditemukan hampir di mana saja, termasuk dalam garam meja. Kelimpahan material ini menjadi faktor kunci yang dapat menekan biaya produksi secara drastis. Laporan terkini dari portal berita Bloomberg NEF menyebutkan bahwa penggunaan sodium mampu memangkas biaya sel baterai hingga 30 hingga 40 persen dibandingkan dengan teknologi baterai konvensional saat ini.

Dengan biaya produksi yang jauh lebih rendah, produsen otomotif kini memiliki ruang yang lebih luas untuk memasarkan mobil listrik di segmen harga di bawah Rp200 juta. Hal ini sangat krusial untuk pasar negara berkembang seperti Indonesia, di mana daya beli konsumen sangat sensitif terhadap harga awal kendaraan. Sodium bukan lagi sekadar alternatif eksperimental, melainkan tulang punggung baru bagi industri massal yang selama ini tercekik oleh kelangkaan lithium global.

2. Performa stabil di suhu ekstrem dan keamanan maksimal

Baterai mobil listrik Suzuki e Vitara (marutisuzuki.com)

Selain faktor harga, keunggulan teknis baterai sodium terletak pada ketahanannya terhadap cuaca ekstrem. Baterai lithium sering kali mengalami penurunan performa drastis atau kehilangan daya jangkau saat suhu drop di bawah nol derajat. Sebaliknya, menurut rilis teknis dari CATL dalam peluncuran produk terbarunya, baterai sodium-ion tetap mampu mempertahankan kapasitas pengisian daya hingga di atas 90 persen meski berada pada suhu minus 20 derajat Celcius.

Keamanan juga menjadi aspek yang paling menonjol dari teknologi ini. Karakteristik kimia sodium cenderung lebih stabil dibandingkan lithium, sehingga risiko kebakaran akibat panas berlebih atau korsleting internal dapat dikurangi secara signifikan. Stabilitas ini memberikan rasa aman lebih bagi pengemudi harian yang sering menghadapi kondisi lalu lintas padat dengan suhu operasional mesin yang dinamis, tanpa perlu khawatir akan degradasi baterai yang cepat.

3. Masa depan ekosistem mobil listrik tanpa ketergantungan lithium

ilustrasi pengisian baterai mobil listrik (pexels.com/Mike Bird)

Meskipun saat ini baterai sodium memiliki kepadatan energi yang sedikit di bawah lithium, pengembangannya terus meningkat pesat untuk mencakup jarak tempuh yang lebih jauh. Artikel dari majalah teknologi MIT Technology Review menyoroti bahwa baterai ini sangat ideal untuk kendaraan perkotaan yang tidak membutuhkan jarak tempuh antarprovinsi dalam sekali pengisian. Penggunaan sodium secara massal akan menyeimbangkan permintaan pasar, di mana lithium bisa difokuskan untuk kendaraan berperforma tinggi atau perjalanan jarak jauh.

Transisi ini juga berdampak positif pada aspek lingkungan karena proses penambangan natrium jauh lebih ramah lingkungan dan tidak sekontroversial penambangan lithium atau kobalt. Dengan integrasi teknologi pengisian daya cepat yang terus disempurnakan, baterai sodium diprediksi akan menjadi standar baru bagi jutaan mobil listrik murah yang akan memenuhi jalanan kota di seluruh dunia dalam beberapa tahun ke depan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team