Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi kredit mobil (freepik.com/xb100)
ilustrasi kredit mobil (freepik.com/xb100)

Intinya sih...

  • Mekanisme pembayaran balon

  • Keuntungan strategis bagi arus kas pendek

  • Risiko dan pertimbangan matang sebelum memilih

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Kepemilikan kendaraan pribadi kini semakin mudah berkat berbagai inovasi produk pembiayaan dari lembaga keuangan. Salah satu metode yang mulai populer bagi mereka yang menginginkan cicilan bulanan sangat rendah adalah skema balloon payment.

Meskipun menawarkan angsuran yang tidak memberatkan arus kas bulanan, sistem ini memiliki struktur pembayaran yang unik dan menantang di akhir masa tenor. Memahami mekanisme serta risiko di balik kemudahan tersebut merupakan langkah krusial sebelum memutuskan untuk menandatangani kontrak kredit.

1. Mengenal mekanisme dasar pembayaran balon

Ilustrasi Menghitung Cicilan Kredit Mobil (unsplash.com/Kelly Sikkema)

Secara harfiah, istilah balloon payment merujuk pada pembayaran tunggal dalam jumlah besar yang dilakukan pada akhir masa kredit. Dalam konteks kredit kendaraan, total utang tidak dibagi rata ke dalam seluruh bulan masa tenor. Sebagian besar pokok utang—biasanya berkisar antara 30% hingga 50%—ditangguhkan pembayarannya hingga bulan terakhir masa pinjaman.

Selama masa tenor berjalan, nasabah hanya membayar bunga dan sebagian kecil pokok utang. Hal inilah yang membuat angsuran bulanan terasa jauh lebih murah dibandingkan kredit konvensional. Ibarat balon yang ditiup, beban pembayaran tersebut "membengkak" secara masif tepat saat masa kredit akan berakhir.

2. Keuntungan strategis bagi arus kas pendek

Menghitung biaya kredit mobil (unsplash/Scott Graham)

Daya tarik utama dari skema ini adalah fleksibilitas finansial dalam jangka pendek. Bagi pekerja profesional atau pengusaha yang membutuhkan kendaraan untuk operasional namun ingin menjaga likuiditas tetap aman, balloon payment memberikan ruang bernapas yang cukup lega. Dana yang seharusnya digunakan untuk cicilan mobil yang tinggi dapat dialokasikan ke pos investasi lain atau modal kerja.

Selain itu, skema ini sering dimanfaatkan oleh individu yang memiliki rencana untuk mengganti kendaraan secara rutin. Sebelum jatuh tempo pembayaran besar tersebut tiba, kendaraan biasanya dijual kembali. Hasil penjualan tersebut kemudian digunakan untuk melunasi sisa utang "balon" sekaligus membayar uang muka untuk kendaraan baru berikutnya.

3. Risiko dan pertimbangan matang sebelum memilih

ilustrasi aplikasi kalkulator (pexels.com/Polina Tankilevitch)

Di balik ringannya cicilan, terdapat risiko besar jika perencanaan keuangan tidak matang. Masalah utama muncul ketika masa tenor habis dan nasabah tidak memiliki dana tunai yang cukup untuk melunasi pembayaran akhir yang besar tersebut. Jika gagal bayar, kendaraan terancam ditarik oleh pihak pembiayaan meskipun cicilan bulanan selama bertahun-tahun selalu dibayar tepat waktu.

Opsi melakukan pembiayaan ulang (refinancing) untuk sisa utang tersebut memang sering tersedia, namun hal ini berarti nasabah harus membayar bunga tambahan, sehingga total biaya kendaraan menjadi jauh lebih mahal. Selain itu, jika harga jual kembali kendaraan jatuh di bawah nilai sisa utang, nasabah harus merogoh kocek lebih dalam hanya untuk sekadar menutup pinjaman lama. Pemilihan skema ini memerlukan disiplin tinggi dalam menabung atau kepastian bahwa akan ada pemasukan besar di masa depan.

Apakah Anda ingin saya menghitung simulasi perbandingan biaya antara kredit konvensional dan balloon payment untuk tipe kendaraan tertentu?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team