Kehadiran aplikasi peta digital seperti Google Maps telah mengubah cara masyarakat modern dalam bermobilitas di ruang publik. Kemampuannya dalam memotong waktu perjalanan dan mencarikan rute alternatif tercepat membuat teknologi ini menjadi andalan utama bagi pengemudi ojek daring, pelancong, hingga komuter harian di kota-kira besar.
Namun, di balik segala kecanggihannya, fenomena pengendara yang tersasar, masuk ke jalan setapak yang sempit, hingga terjebak di tebing curam masih sering menghiasi linimasa media sosial. Ketika situasi buruk ini terjadi, muncul perdebatan klasik mengenai siapa yang harus disalahkan: apakah sistem algoritma aplikasi yang keliru, ataukah murni karena gangguan jaringan internet di lapangan?
