Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Tesla Model 3 (do. Tesla)
Tesla Model 3 (do. Tesla)

Tesla Korea secara resmi memperkenalkan varian termurah dari Tesla Model 3 untuk pasar Korea Selatan, yang memicu diskusi luas mengenai strategi penetapan harga baru di Asia. Mobil listrik buatan Gigafactory Shanghai ini dibanderol dengan harga yang sangat kompetitif, yakni sekitar 41,99 juta won atau setara dengan Rp468 jutaan sebelum subsidi pemerintah.

Setelah mendapatkan suntikan subsidi, harga kendaraan ini diperkirakan jatuh di bawah angka Rp425 juta, menjadikannya harga Tesla baru yang paling terjangkau secara global saat ini. Kehadiran model ekonomis ini menandai pergeseran besar Tesla dalam menjangkau segmen pasar yang lebih luas, meski harus dibayar dengan pengurangan sejumlah fitur dan kemampuan teknis.

1. Penurunan drastis jarak tempuh dan performa mesin

New Tesla Model 3 Highland (tesla.com)

Konsekuensi paling mencolok dari label harga murah ini adalah penurunan kapasitas baterai yang berdampak langsung pada daya jelajah kendaraan. Tesla Model 3 versi hemat ini hanya memiliki jarak tempuh sejauh 382 kilometer, berkurang sekitar 200 kilometer dibandingkan versi Long Range Rear-Wheel Drive yang mampu mencapai 583 kilometer. Hal ini tentu menjadi catatan penting bagi calon pembeli yang sering melakukan perjalanan jarak jauh antar kota.

Tidak hanya dari sisi daya tahan baterai, performa akselerasi pun mengalami penyesuaian untuk menekan biaya produksi. Kemampuan melesat dari 0 hingga 100 km/jam kini membutuhkan waktu 6,2 detik, lebih lambat satu detik dibandingkan model standarnya yang mencatatkan waktu 5,2 detik. Selain itu, pembeli tidak memiliki kebebasan dalam memilih estetika roda karena Tesla hanya menyediakan satu opsi ukuran velg, yakni ring 18 inci.

2. Penyederhanaan interior dan hilangnya fitur otomatis

New Tesla Model 3 Highland (tesla.com)

Interior Tesla Model 3 varian "budget" ini mengalami banyak penghematan material untuk mengejar target harga rendah. Kabin mobil tidak lagi menggunakan material premium, melainkan beralih ke pelapis kain (cloth upholstery) yang hanya tersedia dalam pilihan warna hitam tunggal. Selain itu, sistem hiburan pada layar depan juga kehilangan fungsi radio, yang mungkin menjadi kendala bagi pengemudi yang masih mengandalkan siaran analog selama berkendara.

Perubahan paling signifikan terasa pada sisi ergonomi, di mana setir dan kursi depan kini harus diatur secara manual, bukan lagi menggunakan motor elektrik. Meski fitur penghangat kursi depan tetap dipertahankan, fitur ventilasi pendingin kursi telah dihilangkan sepenuhnya. Penumpang di baris belakang juga harus merelakan fitur penghangat kursi yang biasanya menjadi standar kenyamanan pada kendaraan listrik premium milik Tesla.

3. Sinyal perang harga Tesla di pasar Asia

Tesla Model 3 (tesla.com)

Peluncuran varian ini di Korea Selatan dipandang oleh banyak pengamat otomotif sebagai langkah awal Tesla untuk memperkuat dominasi di pasar Asia, terutama China. Karena mobil-mobil ini diproduksi di Shanghai, peluncuran model serupa di daratan Tiongkok diprediksi akan segera terjadi dalam waktu dekat. Jika masuk ke pasar China, harga jualnya diperkirakan bisa jauh lebih murah lagi karena hilangnya biaya logistik lintas negara.

Strategi ini menunjukkan bahwa Tesla siap bertarung langsung dengan produsen mobil listrik lokal yang menawarkan harga miring. Dengan memangkas fitur-fitur mewah dan memfokuskan pada fungsionalitas inti, Tesla berusaha menarik konsumen yang selama ini terhambat oleh harga tinggi untuk beralih ke ekosistem kendaraan listrik. Langkah ini kemungkinan besar akan memaksa kompetitor lain untuk meninjau kembali struktur harga mereka guna mempertahankan pangsa pasar di kawasan Asia.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team