Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi mobil yang menaiki tanjakan (Unsplash/benjamin lehman)
ilustrasi mobil yang menaiki tanjakan (Unsplash/benjamin lehman)

Intinya sih...

  • Urutan berhenti yang benar: rem kaki, rem tangan, baru transmisi

  • Arahkan roda ke posisi aman: gunakan “kunci” dari pinggir jalan

  • Kebiasaan kecil yang sering dilupakan: jarak aman, wheel chock, dan cara berangkat

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Parkir di tanjakan curam sering bikin tegang, apalagi saat ruang sempit dan ada kendaraan lain di belakang. Padahal, kuncinya bukan “tenaga” atau “nekat”, tapi urutan langkah yang benar supaya mobil terkunci stabil.

Kalau kamu pernah merasa mobil seperti mau mundur sesaat setelah berhenti, itu hal yang umum dan bisa dicegah. Dengan kombinasi rem yang tepat, posisi roda yang aman, dan kebiasaan kecil yang konsisten, parkir di tanjakan bisa jadi rutinitas yang tenang dan aman.

1. Urutan berhenti yang benar: rem kaki, rem tangan, baru transmisi

ilustrasi menggunakan transmisi mobil (pexels.com/Mateusz Dach)

Langkah paling penting adalah membagi beban mobil ke rem tangan (parking brake), bukan langsung menumpu ke transmisi. Saat berhenti di tanjakan, injak rem kaki sampai mobil benar-benar diam. Setelah itu, tarik rem tangan sampai terasa kuat dan mantap. Baru kemudian, untuk mobil otomatis pindahkan tuas ke posisi P, sedangkan untuk mobil manual masukkan gigi 1 (atau gigi mundur jika posisinya menurun, tetapi untuk tanjakan umumnya gigi 1).

Trik sederhana agar mobil tidak “nendang” saat kamu lepas rem kaki: setelah rem tangan aktif, lepas rem kaki perlahan sampai terasa mobil “menempel” dan tertahan oleh rem tangan. Kalau sudah stabil, barulah lepaskan rem kaki sepenuhnya. Ini mengurangi risiko beban menekan pawl transmisi (mobil matic) dan membuat mobil lebih mudah dilepas saat mau jalan lagi.

2. Arahkan roda ke posisi aman: gunakan “kunci” dari pinggir jalan

ilustrasi ban mobil (unsplash.com/Hoyoun Lee)

Selain rem, arah roda bisa jadi lapisan pengaman tambahan. Kalau parkir di tanjakan dengan sisi jalan ada trotoar/kanstin, putar setir sehingga ketika mobil melorot sedikit (jika terburuk terjadi), roda akan mengunci ke kanstin dan menghentikan laju. Umumnya, putar roda menuju tepi jalan agar ban depan “menyandar” ke kanstin, bukan ke arah jalan terbuka.

Jika tidak ada kanstin, cari permukaan yang paling rata di area itu, dan pastikan ban depan tidak berada di atas kerikil atau permukaan licin. Hindari juga parkir dengan satu roda menggantung di lubang kecil karena itu bisa membuat mobil bergeser saat beban berpindah.

3. Kebiasaan kecil yang sering dilupakan: jarak aman, wheel chock, dan cara berangkat

ilustrasi ban mobil (unsplash.com/Mason Jones)

Saat parkir, sisakan jarak aman dengan kendaraan di depan dan belakang. Di tanjakan, mobil bisa bergerak beberapa sentimeter saat beban “settle”, jadi jangan parkir terlalu mepet. Kalau tanjakannya ekstrem atau kamu parkir lama, gunakan ganjal ban (wheel chock) sebagai pengaman ekstra, terutama untuk mobil bermuatan.

Ketika mau berangkat, lakukan kebalikan urutan yang aman. Untuk matic: injak rem kaki, pindah dari P ke D, baru turunkan rem tangan. Untuk manual: injak kopling dan rem, siapkan titik kopling (bite point), lalu turunkan rem tangan secara halus sambil menambah gas seperlunya. Dengan cara ini, mobil tidak akan mundur mendadak, dan kamu tetap punya kontrol penuh.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team