Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi mengganti oli motor (Istimewa)
Ilustrasi mengganti oli motor (Istimewa)

Intinya sih...

  • Interval penggantian oli bergantung pada jenis oli

  • Perubahan warna oli tidak selalu menandakan kualitas buruk

  • Berganti merek oli aman jika sesuai spesifikasi motor

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Perawatan motor tidak pernah jauh-jauh dari mengganti oli mesin. Dengan banyaknya informasi yang beredar, tentu ada saja mitos tentang oli motor yang sayangnya belum tentu berlandaskan fakta teknis yang benar. Mitos tersebut bisa muncul karena beberapa faktor, misalnya persaingan merek dagang, pengalaman pribadi yang belum tentu relevan bagi orang lain, atau opini liar yang berkembang.

Pemahaman yang keliru mengenai oli, bisa menyebabkan seseorang salah mengambil keputusan. Mulai dari pemborosan biaya, salah pilih kekentalan oli, hingga kerusakan mesin yang fatal. Untuk itu, mari bongkar mitos apa saja tentang oli motor yang mungkin pernah kamu dengar, dan bisa menyesatkan para pengendara.

1. Semua jenis oli motor wajib diganti setiap 2.000 kilometer

Ilustrasi motor sedang ganti oli (freepik.com/andranik.h90)

Mitos ini sering menjadi patokan mutlak bagi banyak pengendara motor, tidak perduli jenis oli yang digunakan atau bagaimana kondisi berkendara sehari-hari. Angka 2.000 km memang anjuran standar bagi oli mineral tertentu, namun angka ini tidak bisa digeneralisasi untuk semua tipe oli yang berbeda. Kepercayaan ini bisa membuat orang melakukan penggantian oli lebih cepat, yang dampaknya adalah boros biaya perawatan.

Interval penggantian oli sangat bergantung pada spesifikasi oli itu sendiri, terutama jenis oil seperti mineral, semi-sintetik, atau full-sintetik. Oli full-sintetik dirancang agar memiliki molekul yang lebih stabil dan aditif yang lebih canggih sehingga mampu menjaga performa pelumasan lebih lama, bahkan hingga 5.000 km atau lebih dalam kondisi berkendara normal. Selalu pastikan jenis oli apa yang digunakan pada motor, untuk mengetahui interval penggantian yang paling akurat.

2. Warna oli gelap, artinya harus segera diganti

Ilustrasi oli motor (wahanahonda.com)

Ketika oli motor yang tadinya bening berubah menjadi hitam pekat, ada anggapan bahwa itu adalah tanda kualitas oli sudah tidak layak pakai. Anggapan ini membuat orang akan terburu-buru mengganti oli, padahal masa pakainya belum tentu habis. Mitos ini tidak tepat, karena perubahan warna oli adalah proses alami yang terjadi selama mesin bekerja.

Perubahan warna oli justru adalah tanda bahwa oli sedang berfungsi normal. Terdapat deterjen pada oli yang fungsinya mengikat dan membersihkan kotoran, sisa pembakaran, serta partikel karbon di dalam mesin. Ketika kotoran-kotoran ini terikat, warna oli akan menghitam, yang artinya partikel tersebut tidak mengendap dan merusak komponen mesin. Jangan langsung ambil kesimpulan bahwa oli menghitam itu kualitasnya sudah tidak layak, tetap gunakan jarak tempuh dan waktu pakai sebagai penanda penggantian oli.

3. Mengganti oli dengan merek yang berbeda itu berbahaya

ilustrasi mengganti oli motor (suzuki.co.id)

Ada anggapan bahwa mengganti merek oli atau yang berbeda dari yang biasa dipakai, bisa menyebabkan gangguan perfoma karena mesin harus beradaptasi lagi. Anggapan ini bisa membuat orang enggan mencoba merek oli lain karena khawatir formulasi kimianya tidak cocok.

Meskipun setiap merek oli punya formula aditif yang sedikit berbeda, kebanyakan oli motor yang beredar di pasaran dibuat dengan standar yang sama, yaitu standar JASO MA/MB atau API. Berganti oli ke merek lain, dengan catatan tetap mematuhi anjuran kekentalan dan jenis oli yang sesuai dengan spesifikasi motor, umumnya aman untuk diterapkan.

4. Oli lebih kental pasti lebih baik untuk mesin tua

Ilustrasi oli dan mesin (freepik.com/artemegorov)

Para pemilik motor lawas sering disarankan untuk menggunakan oli dengan kekentalan yang lebih pekat, misalnya dari 10W-40 menjadi 20W-50, karena dianggap bisa mengatasi keausan mesin. Ada teori liar yang menjelaskan bahwa oli lebih kental akan mengisi celah keausan mesin tua dan memberikan perlindungan yang lebih maksimal dari gesekan antar komponen logam. Mitos ini biasanya diyakini untuk mengompensasi mesin yang sudah ngobos atau berasap.

Alih-alih melindungi, oli lebih kental melebihi anjuran spesifikasi mesin, justru bisa memberikan dampak negatif pada mesin. Oli yang terlalu kental akan membuat kinerja pompa oli lebih berat dan memerlukan waktu lebih lama untuk melumasi seluruh komponen, terutama saat mesin masih dingin. Hal ini bisa menyebabkan peningkatan gesekan saat start up awal, tarikan mesin berat, dan mesin lebih cepat panas.

5. Oli murah pasti kualitasnya buruk

Ilustrasi warna oli mesin (freepik.com/love_the_wind)

Mitos ini membuat banyak orang merasa harus selalu membeli oli yang paling mahal. Banyak yang percaya bahwa semakin mahal harganya, semakin baik kualitas aditif dan bahan dasarnya. Akibatnya, pemilik motor merasa wajib mengeluarkan uang lebih untuk oli yang sebenarnya memiliki spesifikasi serupa dengan produk yang harganya lebih terjangkau.

Harga oli tidak selalu mencerminkan kualitas inti, Banyak faktor yang membuat harganya mahal, seperti biaya pemasaran dan nama besar sebuah brand. Yang paling penting dari oli adalah spesifikasinya, seperti tingkat kekentalan serta standar JASO dan API. Daripada terpaku pada harga, fokuslkan pertimbangan pada label spesifikasi oli dan pastikan oli yang dipilih sesuai dengan kebutuhan motor.

Memastikan kebenaran mitos tentang oli motor sangat penting agar motor tetap sehat dalam jangka panjang. Jangan mudah percaya pada informasi yang tidak didukung data teknis, hasil pengujian, atau rekomendasi pabrikan. Kamu bisa menggunakan buku manual kendaraan sebagai panduan utama dalam menentukan kebutuhan oli motor yang paling tepat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team