Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Alasan Ilmiah Menyetir Mobil Saat Hujan Deras Bikin Cepat Ngantuk
ilustrasi wiper mobil (freepik.com/pvproductions)
  • Suara rintik hujan berperan sebagai white noise yang menenangkan otak, menurunkan aktivitas gelombang otak, dan memicu rasa kantuk saat berkendara di tengah hujan deras.
  • Cahaya redup dan tekanan udara rendah saat hujan meningkatkan produksi hormon melatonin serta menurunkan kadar oksigen di kabin, membuat tubuh cepat lemas dan mengantuk.
  • Beban visual tinggi saat menyetir di bawah hujan menyebabkan kelelahan mental ekstrem, sehingga otak memberi sinyal kantuk sebagai bentuk perlindungan alami untuk beristirahat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Berkendara di tengah guyuran hujan deras menuntut kewaspadaan yang jauh lebih tinggi dibandingkan saat cuaca cerah. Pandangan yang terbatas, permukaan jalan yang licin, serta genangan air yang tidak terduga memaksa otak dan fisik untuk bekerja ekstra keras demi menjaga keselamatan berkendara.

Namun, sebuah fenomena unik yang sering kali dikeluhkan oleh para pengemudi adalah munculnya rasa kantuk yang luar biasa secara tiba-tiba saat hujan turun lebat. Bukannya merasa tegang karena situasi jalanan yang berbahaya, tubuh justru terasa rileks dan mata menjadi sangat berat untuk tetap terjaga, sebuah kondisi yang ternyata memiliki landasan ilmiah yang sangat kuat.

1. Pengaruh suara rintik hujan sebagai fenomena white noise

ilustrasi wiper mobil (suzuki.co.id)

Penyebab psikologis utama di balik rasa kantuk saat hujan deras adalah suara ketukan air yang mengenai atap dan kaca mobil secara konstan. Dalam dunia sains, jenis suara yang stabil, monoton, dan memiliki frekuensi yang merata ini dikenal dengan istilah white noise. Suara rintik hujan yang konstan bekerja layaknya sebuah terapi suara yang mampu menyamarkan suara-suara bising lain yang mengejutkan atau mengganggu dari luar kendaraan.

Ketika otak menangkap rangsangan berupa suara white noise ini, sistem saraf pusat akan mengartikannya sebagai sinyal bahwa lingkungan sekitar berada dalam kondisi yang aman dan tenang. Akibatnya, aktivitas gelombang otak mulai melambat dan beralih dari kondisi waspada tinggi menuju fase relaksasi. Perubahan gelombang otak ini memicu penurunan ketegangan saraf, sehingga pengemudi akan merasakan ketenangan mendalam yang secara otomatis mengundang rasa kantuk datang lebih cepat.

2. Penurunan kadar oksigen kabin dan produksi hormon melatonin

ilustrasi wiper pada mobil (pexels.com/M&W Studios)

Faktor lingkungan dan cuaca di luar mobil juga memicu perubahan biologis yang signifikan di dalam tubuh pengemudi. Saat hujan deras, langit akan tertutup awan mendung yang tebal, sehingga intensitas cahaya matahari berkurang drastis dan membuat suasana menjadi gelap. Kondisi minim cahaya ini memicu kelenjar pineal di dalam otak untuk memproduksi hormon melatonin dalam jumlah yang lebih banyak, yaitu hormon alami yang bertugas mengatur siklus tidur manusia.

Selain faktor hormon, penurunan tekanan udara di atmosfer saat hujan juga membuat kadar oksigen di udara sedikit berkurang. Ketika sistem sirkulasi udara di dalam kabin mobil terus berputar tanpa pasokan udara segar dari luar, kadar oksigen di dalam ruang kemudi dapat menurun secara perlahan. Kekurangan oksigen dalam skala mikro ini membuat suplai darah beroksigen ke otak berkurang, yang berujung pada rasa lemas, menguap secara konstan, dan penurunan konsentrasi yang akut.

3. Kelelahan mental akibat beban kerja otak yang meningkat

ilustrasi wiper pada mobil (pexels.com/Lucas Pezeta)

Meskipun tubuh terasa rileks akibat pengaruh suara dan hormon, di sisi lain, otak sebenarnya sedang mengalami kelelahan mental yang luar biasa akibat stres visual. Menyetir dalam kondisi hujan deras memaksa mata untuk terus fokus menembus lapisan air di kaca depan, memperhatikan lampu rem kendaraan di depan yang samar, serta mengantisipasi gejala aquaplaning. Beban kognitif yang tinggi ini membuat energi mental pengemudi terkuras jauh lebih cepat dibandingkan berkendara normal.

Ketika otak mengalami kelelahan ekstrem setelah dipaksa fokus dalam durasi tertentu, sistem pertahanan tubuh akan memberikan sinyal kelelahan berupa kantuk sebagai perintah untuk beristirahat. Kombinasi antara stimulasi lingkungan yang menenangkan dan kelelahan mental yang berat menciptakan efek kantuk yang sangat berbahaya. Guna menghindari risiko kecelakaan, menepikan kendaraan di tempat aman atau rest area untuk tidur sejenak menjadi satu-satunya solusi paling rasional yang harus diambil.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team