Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi rem motor (freepik.com/freepik)
Ilustrasi rem motor (freepik.com/freepik)

Intinya sih...

  • Air hujan mengurangi daya cengkeram pengereman, terutama pada rem tromol

  • Kampas rem lebih cepat terkontaminasi kotoran saat musim hujan

  • Suhu kerja rem sulit optimal di musim hujan, membuat karakter pengereman kurang konsisten

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Musim hujan kerap menjadi tantangan tersendiri bagi pengendara sepeda motor. Selain jarak pandang yang berkurang dan kondisi jalan yang lebih licin, satu aspek penting yang sering luput dari perhatian adalah penurunan performa sistem pengereman.

Padahal, rem menjadi komponen krusial yang menentukan keselamatan saat berkendara di kondisi cuaca basah. Banyak pengendara mengira rem motor tetap bekerja optimal selama masih berfungsi secara mekanis. Padahal, air hujan, lumpur, dan kelembapan tinggi, dapat memengaruhi efektivitas pengereman, baik pada motor dengan sistem cakram maupun tromol.

1. Air mengurangi daya cengkeram pengereman

Ilustrasi rem motor (wahanahonda.com)

Melansir berbagai sumber, saat hujan air dapat masuk ke area pengereman dan membentuk lapisan tipis di antara kampas rem dan piringan cakram atau tromol. Lapisan air ini mengurangi gesekan yang seharusnya terjadi, sehingga daya cengkeram rem menjadi tidak sekuat saat kondisi kering.

Pada rem cakram, air memang relatif cepat terbuang karena posisi piringan yang terbuka. Namun, pada saat awal pengereman, respons rem tetap bisa terasa lebih lambat. Sementara pada rem tromol, air cenderung terperangkap lebih lama di dalam rumah, membuat performa menurun lebih signifikan, terutama setelah menerjang genangan.

2. Kampas rem lebih cepat terkontaminasi kotoran

Ilustrasi kampas rem motor (wahanahonda.com)

Air hujan sering kali membawa kotoran, pasir halus, dan lumpur dari permukaan jalan. Material ini dapat menempel pada kampas rem maupun piringan cakram. Akibatnya, permukaan kampas menjadi tidak rata dan gesekan yang dihasilkan tidak optimal.

Dalam jangka panjang, kondisi ini tidak hanya menurunkan performa pengereman, tetapi juga mempercepat keausan kampas dan piringan rem. Jika dibiarkan, pengendara bisa merasakan gejala seperti rem terasa kasar, berbunyi, atau kurang pakem, meski tuas sudah ditekan lebih dalam.

3. Suhu kerja rem sulit optimal di musim hujan

ilustrasi rem motor BeAT Street, serta pakai roda 12 inci (IDN Times/Fadhliansyah)

Sistem pengereman bekerja optimal pada suhu tertentu. Saat musim hujan, air yang terus-menerus mengenai piringan atau tromol dapat menurunkan suhu kerja rem secara tiba-tiba. Perubahan suhu ini membuat karakter pengereman menjadi kurang konsisten.

Efeknya, pengendara bisa merasakan rem yang terasa normal di satu momen, lalu melemah. Kondisi ini menuntut pengendara untuk lebih waspada dan menjaga jarak aman, karena respons pengereman tidak selalu bisa diprediksi seperti saat cuaca cerah.

Editorial Team