Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi motor
ilustrasi motor (pexels.com/Quang Nguyen Vinh)

Intinya sih...

  • Biaya servis di bengkel resmi dinilai lebih tinggi, terutama setelah motor berusia lebih dari 3 tahun.

  • Akses dan waktu yang kurang fleksibel di bengkel resmi membuat pemilik motor memilih bengkel umum yang lebih praktis.

  • Persepsi bahwa standar pabrikan tidak lagi wajib setelah garansi habis, membuat pemilik motor mencari alternatif servis yang di luar bengkel resmi.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Setelah masa garansi motor berakhir, banyak pemilik kendaraan yang mulai mempertimbangkan kembali pilihan tempat servis rutin. Jika sebelumnya mereka cenderung patuh untuk melakukan perawatan di bengkel resmi untuk menjaga klaim garansi, justru saat ini keputusannya dipengaruhi oleh pertimbangan biaya, kenyamanan, hingga kebutuhan pribadi.

Perubahan pola ini memang tidak selalu berarti pemilik motor mengabaikan perawatan, melainkan berusaha mencari alternatif yang dianggap lebih sesuai dengan kondisi keuangan dan situasi sehari-hari. Oleh karena itu, simaklah beberapa alasan berikut ini mengapa banyak orang enggan servis motor di bengkel resmi usai garansinya berakhir.

1. Biaya servis dinilai lebih tinggi

ilustrasi bengkel motor (pexels.com/ali huzeyfe ermiş)

Salah satu alasan utama adalah karena anggapan bahwa biaya servis di bengkel resmi biasanya jauh lebih mahal jika dibandingkan di bengkel umum. Tarif jasa yang sudah ditetapkan, penggunaan suku cadang yang orisinal, hingga saluran operasional yang cukup ketat kerap kali membuat total pengeluaran terasa jauh lebih besar.

Pada saat motor sudah berusia lebih dari 3 tahun dan memerlukan penggantian pada beberapa komponen, maka selisih biayanya akan terasa semakin besar. Banyak pemilik motor yang pada akhirnya memilih opsi yang lebih hemat, walau hal ini harus mengorbankan sebagian standar layanan yang telah diberikan oleh bengkel resmi.

2. Akses dan waktu yang kurang fleksibel

ilustrasi bengkel motor (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Bengkel resmi pada umumnya menerapkan sistem antrian atau pemesanan terlebih dahulu, sehingga pemilik motor harus menyesuaikan jadwal servis dengan waktu yang tersedia. Bagi mereka yang memang memiliki aktivitas cukup padat, maka proses ini mungkin dinilai kurang praktis karena memerlukan perencanaan dan waktu tunggu yang tidak sebentar.

Sebaliknya, bengkel umum kerap melayani tanpa sistem pemesanan yang rumit, sehingga pelanggan pun bisa langsung datang dan menunggu proses pengerjaan. Fleksibilitas inilah yang menjadi daya tarik tersendiri, terutama ketika servis dilakukan secara mendadak karena munculnya kendala teknis yang mungkin dialami.

3. Persepsi bahwa standar pabrikan tidak lagi wajib

ilustrasi bengkel motor (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Setelah masa garansi habis, maka sebagian pemilik motor mungkin merasa tidak lagi terikat dengan aturan bahwa perawatan harus ditentukan dengan standar pabrikan. Mereka baru beranggapan bahwa selama motor masih berfungsi dengan baik, maka perawatan di bengkel umum bisa tetap menjaga performa kendaraan secara lebih memadai.

Pandangan ini kerap diperkuat oleh pengalaman pribadi atau rekomendasi dari teman yang memang merasa cukup puas dengan hasil servis di luar bengkel resmi. Walau demikian, perbedaan kualitas suku cadang dan prosedur teknis kerap menjadi aspek penting yang harus diperhatikan sebelum mengambil keputusan yang ada.

4. Keinginan menghemat pengeluaran rutin

ilustrasi rangka motor (unsplash.com/Mick Haupt)

Dalam kondisi ekonomi yang menuntut pengelolaan keuangan yang lebih ketat, maka wajar apabila pengeluaran untuk servis kendaraan bisa menjadi salah satu pos yang berusaha ditekan. Memilih bengkel dengan tarif yang lebih rendah bisa dianggap sebagai langkah realistis untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan transportasi dengan anggaran bulanan yang ada.

Keputusan ini sebaiknya bisa dipertimbangkan melalui kualitas pengerjaan dan juga keaslian dari suku cadang yang digunakan agar tidak sampai menimbulkan kerusakan lanjutan. Penghematan jangka panjang yang tidak disertai dengan perhitungan matang justru hanya akan berujung pada perbaikan yang jauh lebih besar di kemudian hari.

Keengganan servis motor di bengkel resmi setelah garansi usai pada umumnya didorong oleh faktor biaya, fleksibilitas, hingga persepsi kebutuhan. Untuk memastikan bahwa keputusan yang diambil tetap bijak, maka pemotor harus mempertimbangkan soal keuntungan dan juga risiko secara lebih seimbang. Pastikan performa dan keselamatan kendaraan tetap terjaga dalam jangka panjang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorAgsa Tian