Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ancaman Bell's palsy Saat Perjalanan Mudik, Apa Penyebabnya?
ilustrasi seorang perempuan membuka jendela mobil sambil menghirup udara segar (freepik.com/freepik)
  • Bell’s palsy dapat menyerang pemudik akibat paparan angin kencang dan suhu dingin yang memicu peradangan saraf wajah, menyebabkan kelumpuhan mendadak pada satu sisi wajah.
  • Gejala awalnya meliputi nyeri di belakang telinga, perubahan rasa pada lidah, hingga kesulitan menutup mata; penting dibedakan dari stroke yang juga memengaruhi anggota tubuh lain.
  • Pencegahan dilakukan dengan memakai helm full face, masker pelindung wajah, mengatur arah AC agar tidak langsung ke muka, serta menjaga stamina selama perjalanan mudik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Perjalanan mudik jarak jauh, terutama bagi pengendara sepeda motor, menyimpan risiko kesehatan yang sering kali terabaikan di balik antusiasme bertemu keluarga. Salah satu kondisi medis yang patut diwaspadai adalah Bell's palsy, yaitu kelumpuhan mendadak pada otot wajah yang menyebabkan salah satu sisi muka tampak melorot atau miring.

Kondisi ini sering kali dikaitkan dengan paparan angin kencang dan suhu dingin yang mengenai area wajah secara terus-menerus selama berjam-jam di jalan raya. Meskipun sering dianggap sebagai gejala stroke karena kemiripan bentuk wajah yang berubah, Bell's palsy memiliki penyebab dan penanganan yang berbeda namun tetap memerlukan tindakan cepat agar tidak menjadi permanen.

1. Hubungan paparan angin kencang dengan peradangan saraf wajah

ilustrasi seorang perempuan menatap keluar jendela mobil sambil memegang ponsel (freepik.com/zinkevych)

Bell's palsy terjadi akibat adanya peradangan atau pembengkakan pada saraf kranial ketujuh, yang berfungsi mengendalikan otot-otot ekspresi wajah. Bagi pemudik motor, paparan angin kencang yang langsung mengenai area belakang telinga atau pipi dalam waktu lama dapat memicu terjadinya penyempitan pembuluh darah di sekitar saraf tersebut. Suhu dingin yang ekstrem dari angin malam atau penggunaan pendingin ruangan (AC) mobil yang diarahkan langsung ke wajah juga menjadi pemicu utama terjadinya reaksi peradangan ini.

Ketika saraf tersebut membengkak di dalam saluran tulang yang sempit menuju wajah, transmisi sinyal dari otak ke otot wajah akan terganggu atau terhenti sepenuhnya. Akibatnya, pengendara mungkin menyadari bahwa salah satu sudut mulut tidak bisa diangkat, kelopak mata sulit tertutup rapat, atau dahi tidak bisa dikerutkan secara simetris. Gejala ini biasanya muncul secara mendadak, sering kali sesaat setelah pengemudi beristirahat atau bangun tidur setelah menempuh perjalanan panjang yang melelahkan.

2. Mengenali gejala awal untuk membedakannya dengan stroke

ilustrasi jendela mobil terbuka sedikit (pexels.com/cottonbro studio)

Sangat penting bagi pemudik untuk mengenali tanda-tanda awal Bell's palsy guna menghindari kepanikan berlebih namun tetap waspada. Gejala biasanya diawali dengan rasa nyeri di belakang telinga, perubahan indra perasa pada lidah bagian depan, hingga sensitivitas berlebih terhadap suara pada satu sisi telinga. Berbeda dengan stroke yang biasanya disertai dengan kelemahan pada lengan atau kaki serta bicara yang tidak jelas (pelo), Bell's palsy murni hanya menyerang otot-otot di area wajah saja.

Ketidakmampuan untuk menutup mata dengan sempurna merupakan risiko tambahan yang cukup serius bagi pemudik. Mata yang terus terbuka akan menjadi kering dan rentan terhadap iritasi debu jalanan, yang jika dibiarkan dapat merusak kornea. Jika mengalami gejala di mana separuh wajah terasa kaku atau air minum merembes keluar dari sudut bibir secara tidak terkendali, langkah terbaik adalah segera mencari fasilitas kesehatan terdekat di sepanjang rute mudik untuk mendapatkan diagnosa yang tepat.

3. Langkah preventif selama berkendara untuk melindungi saraf

ilustrasi jendela mobil (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Mencegah Bell's palsy jauh lebih mudah daripada mengobatinya yang memerlukan waktu pemulihan berminggu-minggu. Bagi pengendara motor, penggunaan helm full face dengan kaca yang tertutup rapat adalah perlindungan wajib untuk meminimalisir hantaman angin langsung ke saraf wajah. Selain itu, penggunaan balaclava atau masker kain yang menutupi area pipi hingga leher sangat disarankan untuk menjaga suhu di sekitar area saraf kranial tetap stabil dan hangat selama perjalanan malam.

Bagi pemudik yang menggunakan mobil, sangat penting untuk tidak mengarahkan lubang ventilasi AC langsung ke area wajah atau kepala dalam waktu lama. Mengatur sirkulasi udara agar merata di dalam kabin jauh lebih aman bagi kesehatan saraf wajah. Melakukan istirahat secara berkala untuk mengendurkan otot-otot wajah dan menjaga imunitas tubuh dengan nutrisi yang cukup juga sangat membantu, karena kondisi fisik yang drop akibat kelelahan mudik membuat saraf lebih rentan terhadap serangan virus atau peradangan akibat suhu ekstrem.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team