Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi touring motor (pexels.com/Yogendra Singh)
ilustrasi touring motor (pexels.com/Yogendra Singh)

Intinya sih...

  • Mekanisme kelelahan sensorik akibat kebisingan konstan

  • Penurunan kognitif dan perlambatan waktu reaksi

  • Mitigasi dan perlindungan jangka panjang bagi pengendara

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Paparan suara angin yang kencang dan terus-menerus saat berkendara sering kali dianggap sebagai kebisingan latar belakang yang lumrah. Namun, di balik frekuensi yang monoton tersebut, terdapat bahaya tersembunyi yang secara perlahan mengikis kemampuan otak untuk memproses informasi secara akurat.

Kecepatan tinggi menciptakan turbulensi udara yang menghasilkan tingkat desibel yang cukup untuk membebani sistem saraf pusat. Tanpa disadari, otak dipaksa bekerja ekstra keras untuk menyaring kebisingan ini, yang memicu rangkaian efek psikologis dan fisiologis yang membahayakan keselamatan di jalan raya.

1. Mekanisme kelelahan sensorik akibat kebisingan konstan

ilustrasi touring motor (pexels.com/Blaz Erzetic)

Saat mengemudi atau mengendarai motor dalam durasi lama, kebisingan angin menciptakan kondisi yang dikenal sebagai kelelahan sensorik. Otak manusia memiliki kapasitas terbatas dalam mengolah rangsangan suara. Ketika suara angin mencapai tingkat desibel yang tinggi secara konsisten, telinga mengirimkan sinyal terus-menerus ke korteks auditori.

Beban kerja yang berlebihan ini menyebabkan otak mengalami kejenuhan. Akibatnya, sistem saraf mulai memprioritaskan penyaringan suara bising tersebut dibandingkan memproses rangsangan visual atau taktil yang penting. Fenomena ini menciptakan semacam "kabut mental" di mana kesadaran terhadap situasi sekitar mulai memudar meskipun mata tetap menatap lurus ke depan.

2. Penurunan kognitif dan perlambatan waktu reaksi

ilustrasi touring naik motor (pexels.com/Zaur Takhgiriev)

Efek paling berbahaya dari paparan kebisingan ini adalah degradasi fungsi kognitif secara instan. Penelitian menunjukkan bahwa suara bising yang persisten dapat meningkatkan kadar kortisol, hormon stres yang mengganggu fungsi lobus frontal—bagian otak yang bertanggung jawab atas pengambilan keputusan dan konsentrasi.

Dalam kondisi ini, waktu reaksi pengendara akan melambat secara signifikan. Jika dalam keadaan normal otak membutuhkan waktu sepersekian detik untuk menginjak rem saat melihat hambatan, kelelahan sensorik dapat menggandakan waktu tersebut. Keterlambatan ini sering kali menjadi penentu antara keberhasilan menghindari kecelakaan atau terjadinya benturan fatal. Pengendara mungkin merasa tetap waspada, namun secara neurologis, kemampuan untuk mengeksekusi tindakan darurat telah menurun drastis.

3. Mitigasi dan perlindungan jangka panjang bagi pengendara

ilustrasi naik motor (pexels.com/Khoa Võ)

Menyadari bahwa kebisingan angin bukan sekadar gangguan suara, melainkan ancaman terhadap kecerdasan berkendara, langkah pencegahan menjadi sangat krusial. Penggunaan pelindung telinga atau earplug yang dirancang khusus untuk berkendara dapat membantu menyaring frekuensi angin yang berbahaya tanpa menghilangkan suara peringatan seperti sirine atau klakson.

Selain itu, desain helm yang aerodinamis dan penggunaan penahan angin (windshield) pada kendaraan dapat mengurangi turbulensi udara. Mengambil jeda istirahat secara berkala juga sangat disarankan untuk memberikan kesempatan bagi sistem saraf beristirahat dari bombardir sensorik. Dengan meminimalkan beban auditori, otak dapat tetap tajam, menjaga fokus tetap optimal, dan memastikan respons terhadap bahaya tetap berada pada tingkat puncaknya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team