Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Helm Punya Masa Kedaluwarsa, Wajib Diganti Meski Gak Pernah Jatuh
ilustrasi helm (pexels.com/Anastasia Shuraeva)
  • Banyak pengendara salah kaprah menganggap helm aman dipakai terus selama tidak jatuh, padahal material dalamnya punya usia pakai terbatas yang menurun seiring waktu.
  • Penelitian menunjukkan lapisan gabus putih (EPS) di dalam helm bisa rusak akibat paparan keringat, minyak rambut, suhu ekstrem, dan ozon, hingga kehilangan 30% kemampuan meredam benturan setelah lima tahun.
  • Helm kedaluwarsa berisiko gagal melindungi kepala saat kecelakaan karena lapisan peredamnya mengeras dan tak mampu menyerap energi benturan; ahli menyarankan penggantian tiap 3–5 tahun.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Ternyata helm bisa rusak sendiri walau gak pernah jatuh. Di dalamnya ada bahan putih kayak gabus yang lama-lama jadi keras dan rapuh karena panas, keringat, dan udara. Kalau sudah tua, helm itu gak bisa jaga kepala dengan baik lagi. Jadi orang harus ganti helm tiap beberapa tahun biar tetap aman.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Artikel ini menampilkan sisi positif dari kemajuan ilmu pengetahuan dan riset keselamatan yang semakin mendalam. Melalui studi laboratorium terhadap lapisan EPS, masyarakat kini memperoleh pemahaman ilmiah yang lebih akurat tentang pentingnya masa pakai helm. Informasi ini membantu pengendara membuat keputusan lebih bijak demi perlindungan diri yang optimal di jalan raya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Banyak pengendara sepeda motor merasa aman dan enggan mengganti pelindung kepala mereka selama kondisi fisiknya masih terlihat mulus. Tolok ukur keselamatan sebuah helm sering kali hanya dinilai dari tampilan batok luar yang bebas dari baret atau fakta bahwa helm tersebut belum pernah mengalami benturan besar akibat kecelakaan. Alasan ekonomis dan rasa sayang terhadap barang kesayangan membuat pelindung kepala ini terus digunakan hingga bertahun-tahun lamanya.

Namun, dunia sains material dan keselamatan transportasi memiliki pandangan yang sangat bertolak belakang mengenai ketahanan peranti ini. Anggapan bahwa helm dapat digunakan selamanya selama tidak pernah terjatuh ternyata hanyalah sebuah mitos yang membahayakan nyawa. Sebuah studi laboratorium yang mendalam berhasil mengungkap bahwa bagian paling krusial di dalam helm memiliki batas usia biologis yang akan habis dengan sendirinya seiring berjalannya waktu.

1. Proses degradasi tersembunyi pada lapisan peredam bagian dalam helm

ilustrasi helm (pexels.com/MIXU)

Sebuah penelitian ilmiah komprehensif yang berfokus pada ketahanan material pelindung kepala tertuang dalam studi berjudul Degradation of Expanded Polystyrene (EPS) Liners in Aging Helmets. Studi yang bergerak di bidang material dan polimer ini berfokus menguji performa lapisan peredam bagian dalam yang sering dikenal sebagai gabus putih atau Expanded Polystyrene (EPS). Hasil riset laboratorium tersebut mengungkap fakta mengejutkan bahwa kerusakan struktur justru terjadi di area yang tidak kasat mata.

Meskipun cangkang luar helm yang keras tampak masih sangat kokoh dan mengilap, lapisan EPS di bawahnya terus mengalami penurunan kualitas struktural secara konstan. Lapisan gabus putih ini bukanlah material yang abadi; strukturnya sangat sensitif terhadap kontaminasi zat kimia dan kondisi lingkungan sekitar. Tanpa disadari oleh pengendara, proses pembusukan kualitas material ini terus berjalan di dalam kabin helm setiap harinya sejak pertama kali produk tersebut keluar dari pabrik pembuatnya.

2. Efek paparan zat alami dan fluktuasi suhu terhadap ketahanan gabus putih

ilustrasi helm (pexels.com/Anastasia Shuraeva)

Fakta unik dari riset laboratorium ini membuktikan bahwa musuh utama dari ketahanan lapisan EPS bukanlah benturan, melainkan hal-hal sederhana yang melekat pada aktivitas berkendara harian. Lapisan gabus putih di dalam helm secara ilmiah mengalami penurunan kualitas akibat paparan konstan dari minyak rambut alami, keringat yang bersifat asam, fluktuasi suhu udara di dalam bagasi atau kabin motor, serta gas ozon di udara bebas. Zat-zat ini meresap ke dalam pori-pori EPS dan merusak ikatan polimer di dalamnya.

Akibat dari paparan zat kimia alami dan perubahan cuaca tersebut, struktur mikro dari gabus putih akan mengeras, menjadi rapuh, dan kehilangan elastisitas alaminya. Riset membuktikan bahwa setelah lima tahun masa pemakaian, kemampuan lapisan EPS untuk mengembang dan menyerap energi benturan melosot drastis hingga mencapai 30%. Kehilangan sepertiga kemampuan proteksi ini terjadi secara perlahan tanpa mengubah bentuk luar helm sedikit pun, sehingga sering kali mengecoh perhatian dari para pemiliknya.

3. Konsekuensi fatal menggunakan helm kedaluwarsa saat terjadi kecelakaan

Ilustrasi wanita memakai helm (freepik.com/freepik)

Penurunan performa lapisan peredam hingga 30% tersebut membawa dampak yang sangat mematikan ketika risiko buruk di jalan raya benar-benar terjadi. Helm yang sudah memasuki masa kedaluwarsa tidak akan mampu lagi menjalankan fungsi utamanya untuk mendistribusikan dan meredam energi kinetik akibat hantaman. Secara ilmiah, energi benturan yang gagal diredam oleh gabus putih yang sudah mengeras tersebut akan langsung disalurkan ke tengkorak kepala dengan tingkat kekerasan yang jauh lebih tinggi.

Kondisi ini meningkatkan risiko terjadinya cedera otak fokal, gegar otak parah, hingga keretakan tulang tengkorak meskipun pengendara menggunakan helm dari merek premium sekalipun. Oleh karena itu, para ahli keselamatan transportasi sangat merekomendasikan untuk mengganti helm secara berkala setiap 3 hingga 5 tahun sekali demi menjaga efektivitas perlindungan. Mematuhi batas usia pakai pelindung kepala ini adalah keputusan mutlak yang tidak bisa ditawar demi menjaga keselamatan nyawa di atas aspal.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article