Kecepatan di atas roda dua sering kali dianggap sebagai bentuk perilaku berisiko yang tidak rasional bagi sebagian besar orang. Namun, bagi para pengejar kecepatan, memacu motor hingga batas maksimal adalah pengalaman transendental yang melibatkan interaksi kompleks antara hormon, persepsi saraf, dan kebutuhan emosional untuk merasa hidup.
Sensasi yang muncul saat jarum spidometer bergerak naik bukan sekadar hasil dari reaksi mekanis mesin, melainkan sebuah simfoni kimiawi di dalam otak manusia. Ketagihan terhadap kecepatan merupakan fenomena psikologis yang mendalam, di mana kendali penuh atas tenaga besar memberikan pelarian sementara dari rutinitas hidup yang membosankan dan statis.
