Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi pria naik motor
ilustrasi pria naik motor (pexels.com/cottonbro studio)

Intinya sih...

  • Cahaya putih mudah terpencar oleh air hujan

  • Efek pantulan dari permukaan jalan basah

  • Panjang gelombang cahaya memengaruhi visibilitas

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Saat hujan deras, banyak pengemudi merasa sorot lampu putih mobil justru seperti melemah. Padahal secara teknis, lampu masih menyala normal dan tidak bermasalah. Fenomena ini sering bikin jarak pandang menurun drastis dan terasa berbahaya.

Masalahnya bukan pada mata kamu atau kualitas lampu semata. Ada penjelasan ilmiah yang berkaitan dengan sifat cahaya dan air hujan. Inilah alasan kenapa lampu putih terasa “hilang” saat hujan deras.

1. Cahaya putih mudah terpencar oleh air hujan

ilustrasi sensor hujan otomatis (pexels.com/cottonbro)

Cahaya putih memiliki spektrum yang lebar dan mudah terpencar saat mengenai partikel air. Saat hujan deras, jutaan tetesan air di udara memantulkan cahaya ke berbagai arah. Akibatnya, cahaya tidak fokus ke jalan di depan.

Pemencaran ini membuat cahaya kembali ke mata pengemudi. Efeknya mirip kabut tipis yang menyilaukan. Jarak pandang pun terasa lebih pendek meski lampu terlihat terang.

2. Efek pantulan dari permukaan jalan basah

ilustrasi naik motor saat hujan (pexels.com/cottonbro studio)

Jalan yang basah berubah menjadi permukaan reflektif. Cahaya putih yang mengenai aspal akan memantul secara acak. Pantulan ini mengurangi kontras antara jalan dan lingkungan sekitar.

Kontras yang rendah membuat mata sulit membedakan objek. Marka jalan dan lubang jadi kurang terlihat. Inilah alasan kenapa jalan terasa “rata” dan samar saat hujan.

3. Panjang gelombang cahaya memengaruhi visibilitas

ilustrasi mobil kehujanan (pexels.com/KIM JINHONG)

Cahaya putih dan kebiruan memiliki panjang gelombang lebih pendek. Gelombang pendek lebih mudah tersebar saat melewati air dan kabut. Ini berbeda dengan cahaya kuning yang lebih stabil.

Karena itu, lampu kuning atau warm white sering terasa lebih tembus hujan. Mata manusia juga lebih nyaman menangkap spektrum ini. Hasilnya, visibilitas terasa lebih baik meski tidak seterang putih.

4. Mata manusia lebih cepat lelah di cahaya putih saat hujan

ilustrasi motor kehujanan (pexels.com/cottonbro studio)

Sorot lampu putih yang terpencar membuat mata bekerja lebih keras. Otak harus memfilter pantulan dan silau berlebih. Ini menyebabkan kelelahan visual lebih cepat.

Saat mata lelah, fokus dan reaksi ikut menurun. Inilah kenapa berkendara malam saat hujan terasa jauh lebih melelahkan. Bukan cuma faktor fisik, tapi juga neurologis.

5. Desain lampu modern belum selalu ideal untuk hujan ekstrem

ilustrasi motor kehujanan (pexels.com/Duy Nod)

Banyak lampu modern dirancang untuk kondisi kering dan jalan kota. Fokusnya pada efisiensi dan tampilan, bukan hujan deras ekstrem. Akibatnya, performa di hujan tidak selalu optimal.

Itulah kenapa beberapa mobil masih terasa lebih aman dengan lampu warm white. Bukan karena teknologinya ketinggalan, tapi karena karakter cahayanya lebih sesuai. Ini soal kecocokan, bukan sekadar mahal atau baru.

Fenomena “hilangnya” lampu putih saat hujan bukan mitos. Ini murni soal fisika cahaya, air, dan cara mata manusia bekerja. Memahami hal ini membantu kamu berkendara lebih sadar dan aman.

Kalau kamu sering berkendara di hujan deras, pertimbangkan jenis lampu dan pengaturannya. Kadang yang lebih nyaman bukan yang paling terang. Tapi yang paling tepat untuk kondisi jalan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team