Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Motoran Saat Puasa Butuh Persiapan Ekstra, Begini Tipsnya!
Ilustrasi riding (Dok. AHM)
  • Ramadan mengubah pola makan dan tidur, membuat pengendara motor lebih cepat lelah serta kurang fokus, sehingga perlu persiapan ekstra sebelum berkendara.
  • Menjaga rute perjalanan, waktu istirahat, serta asupan sahur bergizi penting agar stamina dan konsentrasi tetap stabil selama puasa.
  • Penggunaan perlengkapan berkendara lengkap dan menjaga jarak aman menjadi langkah kunci mencegah risiko kecelakaan saat kondisi tubuh tidak prima.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Ramadan selalu membawa perubahan ritme hidup. Waktu makan bergeser, jam tidur berkurang, dan energi tubuh tidak lagi sama seperti hari biasa. Buat pengendara motor, kondisi ini sering terasa paling berat justru saat di jalan, mulai dari cepat lelah, kurang fokus, sampai rasa kantuk yang datang tiba-tiba.

Padahal berkendara merupakan aktivitas yang menuntut konsentrasi penuh.

“Keselamatan berkendara tidak hanya soal keterampilan mengendarai sepeda motor, tetapi bagaimana pengendara mempersiapkan diri sebelum berangkat dan tetap waspada selama di jalan," kata Head of Safety Riding Promotion PT Wahana Makmur Sejati, Agus Sani, Selasa (24/2/2026).

1. Perjalanan aman dimulai sebelum mesin menyala

Kegiatan dimulai dengan riding bareng (Wahana)

Banyak orang baru fokus saat sudah di jalan, padahal keselamatan justru dimulai sebelum berangkat. Mengatur rute perjalanan menjadi langkah sederhana tapi sangat berpengaruh, terutama saat puasa ketika emosi lebih mudah naik karena lapar dan lelah.

Dengan memilih jalur yang lebih lancar, pengendara bisa menghindari stres akibat kemacetan panjang. Kondisi mental tetap stabil, dan konsentrasi tidak cepat terkuras.

Selain itu, waktu istirahat juga harus diatur lebih disiplin. Ramadan sering membuat jam tidur terpotong karena sahur dan ibadah malam, sehingga tubuh rawan mengalami microsleep tanpa disadari. Kombinasi rute yang tepat dan tidur cukup jadi “tameng awal” sebelum menghadapi risiko di jalan.

2. Energi tubuh menentukan fokus berkendara

Para Jagoan Safety Riding Honda Adu Skill di AHSRIC 2025 (Dok. AHM)

Saat puasa, bahan bakar utama tubuh hanya berasal dari sahur. Melewatkannya atau makan asal kenyang justru membuat tubuh cepat drop di siang atau sore hari, waktu yang paling rawan kecelakaan karena konsentrasi menurun.

Asupan gizi seimbang dan cairan cukup membantu menjaga stamina lebih stabil. Rasa kantuk dan lemas pun bisa ditekan. Kalau tubuh terjaga, fokus berkendara ikut terjaga.

Karena pada akhirnya, banyak kecelakaan bukan karena tidak bisa mengendarai motor, tapi karena kondisi fisik yang tidak siap.

“Saat sudah merasa lelah, mengantuk, atau kurang fokus, sebaiknya jangan memaksakan diri. Menepi dan beristirahat sejenak adalah keputusan bijak," beber dia.

3. Perlengkapan dan jarak aman jadi penyelamat

Duta Asal Sumut Adu Skill di Ajang Nasional Safety Riding Camp 2025 (Dok. IDN Times)

Saat kondisi tubuh tidak seprima biasanya, risiko reaksi terlambat meningkat. Di sinilah perlengkapan berkendara berperan sebagai perlindungan terakhir.

Helm SNI, jaket, sarung tangan, celana panjang, dan sepatu bukan sekadar formalitas, tapi penentu tingkat cedera jika terjadi sesuatu.

Selain itu, menjaga jarak aman menjadi kebiasaan yang wajib diperketat selama puasa. Jarak yang cukup memberi waktu reaksi lebih panjang ketika terjadi pengereman mendadak. Dalam kondisi refleks melambat karena lapar atau lelah, ruang reaksi inilah yang sering jadi penyelamat.

Keselamatan di jalan bukan cuma soal diri sendiri, tapi juga kepedulian terhadap pengguna jalan lain. Dengan disiplin, perjalanan tetap bisa berakhir tenang meski energi tubuh sedang tidak maksimal.

Editorial Team