Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Perut Terasa Kembung Saat Riding Mudik, Ini Penyebabnya
Ilustrasi touring motor (unsplash.com/Ambitious Studio)
  • Perut kembung saat mudik naik motor disebabkan oleh aerofagia, yaitu udara berlebih yang tertelan akibat paparan angin kencang dan kebiasaan seperti merokok atau mengunyah permen karet.
  • Pola makan tidak tepat selama perjalanan, seperti konsumsi makanan berminyak, pedas, serta minuman bersoda atau berkafein, memperparah produksi gas di lambung dan menimbulkan rasa begah.
  • Posisi duduk statis dalam waktu lama memperlambat pergerakan usus dan menjebak gas; peregangan rutin setiap dua jam membantu melancarkan pencernaan serta mengurangi ketidaknyamanan di perut.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Menempuh perjalanan mudik menggunakan sepeda motor sering kali menyisakan cerita tentang kondisi fisik yang menurun sesampainya di tujuan. Salah satu keluhan yang paling sering dirasakan oleh para pengendara roda dua adalah rasa tidak nyaman pada bagian perut yang terasa penuh, kencang, dan terus-menerus ingin bersendawa.

Kondisi perut kembung ini bukan sekadar masalah pencernaan biasa, melainkan hasil dari kombinasi paparan lingkungan luar dan kebiasaan selama berkendara. Memahami pemicu terjadinya gas berlebih di dalam lambung sangat krusial agar perjalanan pulang ke kampung halaman tidak terganggu oleh rasa begah yang menyiksa sepanjang jalan.

1. Paparan angin kencang dan fenomena aerofagia pada pengendara

Ilustrasi rombongan touring motor (unsplash.com/Ambitious Studio)

Penyebab utama perut kembung saat mudik naik motor adalah masuknya udara berlebih ke dalam saluran pencernaan atau yang secara medis dikenal sebagai aerofagia. Pengendara motor terpapar langsung oleh hamparan angin kencang dari arah depan, terutama saat melaju dalam kecepatan tinggi di jalur terbuka. Tanpa disadari, saat bernapas atau berbicara di balik helm, banyak udara yang ikut tertelan dan menumpuk di dalam lambung.

Selain itu, kebiasaan mengunyah permen karet atau merokok saat sedang beristirahat sejenak di pinggir jalan juga memperparah kondisi ini. Udara yang terperangkap di dalam sistem pencernaan akan menciptakan tekanan ke atas yang memicu rasa mulas dan begah. Penggunaan jaket yang tidak mampu menahan angin dengan baik (windproof) juga membuat suhu di area perut menurun, sehingga otot-otot saluran cerna menjadi lebih kaku dan proses pembuangan gas alami tubuh menjadi terhambat.

2. Pola konsumsi makanan dan minuman yang tidak tepat saat istirahat

ilustrasi touring motor (pexels.com/Blaz Erzetic)

Selama menempuh perjalanan jauh, pemilihan menu makanan saat berhenti di warung pinggir jalan sangat memengaruhi kondisi lambung. Banyak pemudik motor cenderung memilih makanan cepat saji yang berminyak, pedas, atau mengandung kol yang tinggi serat kasar demi praktisnya waktu. Makanan berlemak memerlukan waktu lebih lama untuk dicerna, sehingga memberikan kesempatan bagi bakteri di usus untuk memproduksi lebih banyak gas yang memicu perut terasa buncit dan keras.

Minuman bersoda atau kopi yang sering dijadikan teman perjalanan juga merupakan kontributor utama gas di dalam perut. Karbonasi pada minuman kaleng secara langsung memasukkan gas karbon dioksida ke dalam lambung, sementara kafein dapat meningkatkan produksi asam lambung yang memicu sensasi kembung. Ditambah dengan kondisi tubuh yang mungkin sedang berpuasa atau baru saja berbuka dengan porsi besar secara mendadak, sistem pencernaan akan bekerja ekstra keras dan menghasilkan efek samping berupa perut kembung yang sangat mengganggu kenyamanan duduk di atas motor.

3. Kurangnya pergerakan tubuh dan posisi duduk yang statis

Ilustrasi rombongan touring motor (unsplash.com/Ambitious Studio)

Berada di atas jok motor selama berjam-jam memaksa tubuh berada dalam posisi duduk yang statis dan cenderung membungkuk. Posisi ini memberikan tekanan konstan pada area perut, yang dapat memperlambat gerakan peristaltik usus dalam mendorong makanan dan gas. Kurangnya mobilitas fisik selama perjalanan jauh membuat gas yang seharusnya bisa keluar dengan mudah justru terjebak di lipatan-lipatan usus, menciptakan rasa tidak nyaman yang menusuk di area ulu hati.

Getaran konstan dari mesin motor juga dapat memengaruhi saraf-saraf di sekitar area perut bagi sebagian pengendara yang sensitif. Untuk meminimalisir risiko kembung, sangat disarankan bagi pemudik motor untuk melakukan peregangan ringan setiap dua jam sekali. Berjalan kaki sejenak saat berada di rest area akan membantu melancarkan sirkulasi darah dan merangsang sistem pencernaan untuk mengeluarkan gas yang terperangkap, sehingga perut kembali terasa ringan dan perjalanan dapat dilanjutkan dengan fokus maksimal.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team