Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi naik motor (pexels.com/Khoa Võ)
ilustrasi naik motor (pexels.com/Khoa Võ)

Intinya sih...

  • Mekanisme otak di balik terkuncinya fokus pada ancamanSaat menghadapi bahaya, amigdala memicu respons stres yang menyebabkan penglihatan terowongan. Sinkronisasi mata dan tangan kuat, membuat motor mengarah ke titik fokus.

  • Melatih otak untuk memprioritaskan jalan keluarLatihan kognitif intensif diperlukan untuk memutus rantai refleks alami. Pengendara harus memaksa pandangan mencari ruang kosong dan melatih otot leher dan mata.

  • Sinkronisasi kesadaran visual dan kendali motorik daruratKeberhasilan menghindari target fixation bergantung pada kemampuan pengendara tetap tenang secara emosional. Penguasaan teknik berkend

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Fenomena target fixation merupakan salah satu ancaman paling nyata namun sering kali tidak disadari oleh para pengendara sepeda motor. Kondisi psikofisik ini terjadi ketika otak secara tidak sadar memerintahkan tubuh untuk mengarahkan kendaraan menuju objek yang sedang dipandangi secara intens, terutama saat muncul rasa panik atau kecemasan mendadak di tengah jalan raya.

Secara mekanis, sepeda motor akan selalu bergerak mengikuti arah pandangan mata pengendaranya. Namun, dalam situasi darurat seperti melihat lubang besar, tumpahan oli, atau pembatas jalan, refleks manusia cenderung terkunci pada ancaman tersebut daripada mencari ruang kosong untuk menghindar. Kegagalan sistem saraf dalam memproses prioritas visual inilah yang sering kali berujung pada kecelakaan yang seharusnya bisa dihindari.

1. Mekanisme otak di balik terkuncinya fokus pada ancaman

Ilustrasi naik motor (Pexels/ Blaz Erzetic)

Saat menghadapi bahaya yang muncul tiba-tiba, amigdala di dalam otak memicu respons stres yang sangat kuat, menyebabkan fokus visual menyempit secara drastis atau sering disebut sebagai penglihatan terowongan (tunnel vision). Dalam kondisi ini, mata cenderung terpaku pada objek yang dianggap paling mengancam sebagai bentuk insting pertahanan diri yang primitif. Sayangnya, pada kendaraan roda dua, sinkronisasi antara mata dan tangan sangatlah kuat; ke mana mata melihat, ke situlah stang motor akan mengarah secara otomatis.

Masalah muncul ketika pengendara terus menatap rintangan sambil berpikir, "jangan sampai menabrak itu." Meskipun pikiran menolak, mata yang terkunci pada rintangan tersebut justru memberikan input koordinasi motorik kepada tangan untuk menuju titik tersebut. Fenomena psikofisik ini menjelaskan mengapa banyak kecelakaan terjadi di mana pengendara justru menabrak satu-satunya objek di jalan yang sangat luas, hanya karena mereka tidak mampu melepaskan pandangan dari objek berbahaya itu sejak awal deteksi bahaya muncul.

2. Melatih otak untuk memprioritaskan jalan keluar

ilustrasi naik motor (Pexels/Jhune Bleu)

Mengatasi target fixation membutuhkan latihan kognitif yang intensif guna memutus rantai refleks alami yang merugikan. Langkah pertama dalam melatih otak adalah dengan secara sadar memaksa pandangan mata untuk mencari "ruang kosong" atau jalan keluar di sekitar rintangan. Alih-alih menatap lubang, pengendara harus segera memindahkan titik fokus ke jalur aman di sebelah kiri atau kanan lubang tersebut. Pelatihan ini bertujuan untuk mengubah pola pikir dari "menghindari ancaman" menjadi "menuju target aman."

Salah satu teknik yang efektif adalah melatih otot leher dan mata untuk tetap bergerak aktif dalam situasi simulasi atau saat berkendara harian dalam kecepatan rendah. Otak perlu dibiasakan untuk tidak terpaku pada satu titik dalam waktu lama. Dengan membiasakan mata memandang jauh ke depan dan selalu mencari celah di antara objek, sistem saraf akan membentuk memori otot baru. Ketika situasi darurat yang sesungguhnya terjadi, otak secara otomatis akan memerintahkan mata untuk memindai jalan keluar tanpa harus melewati fase panik yang mengunci pandangan pada objek bahaya.

3. Sinkronisasi kesadaran visual dan kendali motorik darurat

ilustrasi naik motor (pexels.com/ Yogendra Singh)

Keberhasilan menghindari target fixation juga sangat bergantung pada kemampuan pengendara untuk tetap tenang secara emosional. Ketenangan memungkinkan bagian prefrontal cortex tetap berfungsi optimal dalam mengambil keputusan logis, daripada membiarkan amigdala mengambil alih kendali melalui rasa takut. Penguasaan teknik berkendara seperti counter-steering harus dipadukan dengan disiplin pandangan mata yang benar; dorongan tangan pada stang harus searah dengan mata yang sudah terlebih dahulu menemukan titik aman di kejauhan.

Pada akhirnya, keselamatan berkendara bukan hanya tentang kecanggihan rem atau kekuatan mesin, melainkan tentang kontrol atas persepsi visual sendiri. Melatih otak untuk "melihat melewati" ancaman adalah keterampilan mental tingkat tinggi yang membedakan pengendara ahli dengan pemula. Dengan menguasai arah pandangan mata, seorang pengendara memiliki peluang jauh lebih besar untuk selamat, karena motor tidak akan pernah menabrak apa yang tidak dilihat oleh pengendaranya sebagai tujuan akhir.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team