ilustrasi rupiah (unsplash.com/Mufid Majnun)
Selain PMN, KAI juga mengeluarkan kas internal PT KAI Commuter atau KCI sebesar Rp190 miliar untuk pengadaan kereta baru. Lalu, KAI juga mengajukan kredit sindikasi dengan tenor 15 tahun senilai Rp3,69 triliun. Adapun pengadaan KRL baru dibutuhkan, karena sebanyak 908 armada KRL Jabodetabek saat ini sudah memasuki usia 34 hingga 41 tahun. Dengan begitu, maka perlu adanya konservasi terhadap KRL berusia puluhan tahun tersebut.
Lebih lanjut, Bobby mengatakan hal ini terjadi karena kereta yang usianya sudah lebih dari 30 tahun ini merupakan kereta bekas. Di mana sebanyak 780 unit merupakan kereta bekas impor dari JR East Jepang yang kini telah berusia 34–41 tahun. Tak hanya itu, ada 128 unit KRL bekas impor dari Tokyo Metro yang usianya 34-41 tahun.
Adapun kereta baru yang telah dioperasikan KAI hanya 180 kereta yang terdiri dari kereta CRRC Sifang itu ada 132 unit atau 11 train set, dan INKA sebanyak 48 unit atau 4 train set.
"Ini menggambarkan dua kondisi, di mana kalau tanpa pengadaan sarana. Kalau tanpa pengadaan sarana maka di tahun 2030 itu akan terjadi lonjakan sampai 630 persen. Sedangkan kalau dengan pengadaan sarana baru itu ada 156 persen," tutur dia
Bobby mengatakan kondisi kepadatan penumpang KRL pada jam sibuk sudah berada di level mengkhawatirkan. Sebab, dalam satu gerbong KRL pada peak hour, jumlah penumpang bisa mencapai sekitar 300 orang. Dia menggambarkan, dengan ukuran gerbong sekitar 3 x 20 meter atau 60 meter persegi, berarti setiap satu meter persegi ditempati oleh sekitar lima orang.
"Ini menggambarkan kondisi kepadatan penumpang pada KRL di stasiun yang mengakibatkan penurunan tingkat kenyamanan penumpang dan peningkatan risiko terhadap keamanan penumpang," kata Bobby.