Salah satu proyek infrastruktur konektivitas yang dibangun Hutama Karya. (dok. Hutama Karya)
Salah satu dari infrastruktur tersebut adalah Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) merupakan pengungkit utama ekonomi wilayah barat Indonesia. Jaringan ini terdiri dari 17 ruas sepanjang ±951,69 km yang melintasi delapan provinsi, dengan 14 ruas telah beroperasi dan 3 ruas dalam tahap konstruksi.
Ruas-ruas prioritas mempercepat arus barang, khususnya hasil perkebunan dan industri pengolahan, sekaligus menekan waktu tempuh. Misalnya, Pekanbaru–Dumai memangkas perjalanan sekitar empat jam menjadi ±1,5 jam, sedangkan Terbanggi Besar–Pematang Panggang–Kayu Agung 189,4 km menjadi koridor vital Lampung–Sumatera Selatan.
Pendekatan teknik diterapkan sesuai karakter geologi Sumatera, dari tanah lunak hingga kontur berbukit, agar hasil konstruksi aman, awet, dan efisien pemeliharaannya. Dengan jaringan arteri ini, rantai pasok regional menjadi lebih kompetitif, layanan publik lintas kabupaten/kota lebih mudah dijangkau, dan pelaku usaha lokal memperoleh akses pasar yang lebih luas.
Di luar Sumatra, Hutama Karya membangun dan/atau mengoperasikan infrastruktur strategis yang menghubungkan pusat ekonomi dan destinasi wisata. Pembangunan Jalan Tol Nusa Dua-Ngurah RaiBenoa Paket 3 oleh Hutama Karya, dan sekarang dikenal dengan nama Jalan Tol Bali–Mandara sepanjang 12,7 km ini mempermudah mobilitas wisatawan dan logistik pendukung pariwisata menjadi lebih lancar.
Tol Cawang–Priok menjadi penanda lompatan teknologi konstruksi perkotaan, Sebagai proyek tol pertama yang menggunakan teknologi Sosrobahu, tol sepanjang 15,66 kilometer ini menjadi pionir konstruksi jembatan tanpa mengganggu lalu lintas secara signifikan. Teknologi revolusioner ini kemudian diadopsi secara global dan menjadi kebanggaan Indonesia di mata dunia.
Hutama Karya juga mendukung Ibu Kota Nusantara (IKN) melalui paket-paket jalan strategis di Kalimantan Timur, yaitu proyek IKN 5B Segmen Jembatan Pulau Balang – Simpang Riko sepanjang 13,275 kilometer, IKN 3A (Hutama – Adhi – Abipraya, KSO) sepanjang 9,275 km, dan IKN 3A-2 (Adhi – Hutama – Nindya – Abipraya, KSO) sepanjang 4,125 km. Jaringan ini dirancang sebagai tulang punggung mobilitas orang dan logistik di ibu kota negara yang baru, sekaligus menghubungkan IKN dengan sentra ekonomi di sekitarnya.
Portofolio jembatan Hutama Karya menonjol pada bentang strategis yang menyatukan wilayah, memperlancar layanan publik, dan memantik aktivitas ekonomi baru. Setiap jembatan dirancang sesuai karakter geografis —dengan pilihan bentang dan metode konstruksi yang mempertimbangkan keselamatan, kenyamanan berkendara, dan keandalan struktur jangka panjang.
Jembatan Pulau Balang di Kalimantan Timur menjadi masterpiece teknologi Cable Stayed di Indonesia yang diresmikan pada 2024 lalu. Dengan bentang utama 804 meter, jembatan ini menghubungkan Pulau Balang dengan daratan utama Kalimantan Timur, mempercepat konektivitas antarkawasan dan menjadi simpul penting menuju kawasan strategis. Adapun Jembatan Suramadu menyatukan Jawa–Madura, membuka akses pasar dan layanan dasar yang lebih merata.
Menerapkan teknologi Arch Bridge, Jembatan Rumpiang di Kalimantan Selatan sepanjang 753 meter menghubungkan Marabahan dengan Cerbon menjadi landmark Kabupaten Barito Kuala dan simbol kemajuan infrastruktur Kalimantan Selatan. Adapun Jembatan Youtefa di Papua bukan hanya penghubung transportasi, tetapi juga ikon wisata baru, menumbuhkan kegiatan ekonomi lokal.
Komitmen pemerataan juga diwujudkan melalui peningkatan jalan nasional yang membuka keterisolasian dan menguatkan konektivitas antarkawasan. Di Papua Barat, ruas Muri–Kwartisore sepanjang ±16 km menghubungkan kampung terpencil ke jaringan transportasi utama sehingga akses layanan publik dan mobilitas barang menjadi lebih cepat. Di Kalimantan Timur, koridor Balikpapan– Samarinda memperkuat pergerakan orang dan logistik di jantung ekonomi provinsi, sekaligus menjadi simpul penting yang menghubungkan kawasan industri, pelabuhan, dan bandara.
Di Jawa Timur, peningkatan akses menuju destinasi seperti Jolosutro–Sendangbiru serta penguatan konektivitas Kalimujur–Jember–Lumajang mendorong pariwisata, distribusi hasil pertanian, dan layanan dasar lintas kabupaten.
Selain itu, pengalaman internasional juga dicatat melalui proyek di Timor Leste, antara lain pembangunan jalan di Oecusse dan Maliana Town Phase 2, yang mendukung konektivitas wilayah perbatasan dan memperkuat peran Indonesia dalam kerja sama infrastruktur kawasan. Secara historis, jejak kompetensi perkotaan Hutama Karya turut terlihat pada Simpang Susun Semanggi (1961–1962)— interchange yang menyatukan koridor Sudirman–Gatot Subroto dan menjadi tonggak pengembangan jaringan jalan modern di Jakarta.