Di tengah derasnya arus teknologi dan otomatisasi, brand semakin mudah terdengar seragam. Banyak pesan pemasaran terasa rapi, cepat, dan efisien, tapi kehilangan denyut emosi yang biasanya membuat orang berhenti membaca. Di titik inilah copywriting humanis muncul sebagai pembeda, karena menempatkan rasa, empati, dan pengalaman manusia sebagai pusat cerita.
Ketika AI mampu memproduksi teks dalam hitungan detik, sentuhan manusia justru menjadi nilai langka yang dicari audiens. Copywriting humanis menghadirkan narasi yang terasa dekat, relevan, dan bernapas seperti percakapan nyata. Pendekatan ini membantu brand tetap hangat di tengah lanskap digital yang makin dingin dan mekanis. Yuk, pahami kenapa pendekatan humanis jadi senjata penting agar brand tetap hidup di era serba AI!
