Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
SpaceX Melantai di Bursa, Kekayaan Elon Musk Bakal Segera Terkerek?
ilustrasi perusahaan SpaceX (pexels.com/SpaceX)
  • SpaceX resmi ajukan IPO di Nasdaq dengan target pendanaan hingga 80 miliar dolar AS, berpotensi menjadikan Elon Musk mendekati status triliuner berkat kepemilikan mayoritasnya.
  • Laporan keuangan menunjukkan Starlink jadi sumber pendapatan utama meski SpaceX masih rugi besar akibat belanja modal tinggi untuk infrastruktur AI dan ekspansi bisnis global.
  • Di tengah gugatan hukum dan restrukturisasi xAI, SpaceX tetap fokus pada pengembangan Starlink, teknologi AI, serta uji peluncuran roket generasi baru Starship sebagai prioritas jangka pendek.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Perusahaan antariksa SpaceX resmi mengajukan rencana penawaran umum perdana (IPO) di pasar saham Amerika Serikat (AS) pada Rabu (20/5/2026). Langkah ini diperkirakan menjadi salah satu IPO terbesar dalam sejarah Wall Street dan berpotensi mengerek kekayaan bersih Elon Musk yang menurut laporan Forbes mencapai 807 miliar dolar AS (setara Rp14.256 triliun).

Berdasarkan prospektus yang dipublikasikan perusahaan, SpaceX berencana mencatatkan saham di bursa Nasdaq dengan kode SPCX paling cepat bulan depan, sekitar 12 Juni 2026. Melalui aksi korporasi tersebut, perusahaan membidik pendanaan baru hingga 80 miliar dolar AS (setara Rp1.413 triliun).

Dokumen terbaru itu juga memperlihatkan valuasi SpaceX yang kini menaungi perusahaan kecerdasan buatan (AI) xAI dan platform media sosial X berada di kisaran 1,25 triliun hingga 1,75 triliun dolar AS (setara Rp22.087 triliun hingga Rp30.922 triliun). Kepemilikan saham mayoritas Musk di SpaceX membuat nilai kekayaannya ikut terdorong seiring rencana IPO tersebut.

1. Starlink menopang pendapatan utama SpaceX

Elon Musk dan masa depan neuralink (Steve Jurvetson, CC BY 2.0, via Wkimedia Commons)

Laporan keuangan Space Exploration Technologies atau SpaceX menunjukkan perusahaan masih mencatat pembakaran dana besar untuk ekspansi bisnis. Dalam prospektus terbaru, SpaceX membukukan pendapatan sekitar 18,6-18,7 miliar dolar AS (setara Rp328 triliun hingga Rp330 triliun) sepanjang tahun lalu, namun tetap mengalami rugi bersih sebesar 4,9 miliar dolar AS (setara Rp86,5 triliun).

Pada kuartal pertama (K1) 2026, perusahaan mencatat penjualan 4,7 miliar dolar AS (setara Rp83 triliun) dengan kerugian bersih di kisaran 4,2-4,3 miliar dolar AS (setara Rp74,2 triliun hingga Rp76 triliun). Di sisi lain, SpaceX masih memiliki aset senilai 102 miliar dolar AS (setara Rp1.802 triliun), termasuk armada roket dan perlengkapan operasional, sementara total utangnya mencapai 60,5 miliar dolar AS (setara Rp1.069 triliun).

Layanan internet satelit Starlink menjadi sumber pemasukan terbesar perusahaan. Segmen konektivitas itu menghasilkan lebih dari 3,2 miliar dolar AS (setara Rp56,5 triliun) pada K1 2026 dan menyumbang 11,4 miliar dolar AS (setara Rp201 triliun) sepanjang 2025.

Tingginya kerugian perusahaan dipicu belanja modal yang besar untuk pengembangan infrastruktur AI. Sepanjang tahun lalu, SpaceX mengeluarkan lebih dari 20 miliar dolar AS (setara Rp353 triliun) guna membangun pusat data di orbit bumi demi mendukung operasional AI mereka.

2. SpaceX menghadapi gugatan hukum dan restrukturisasi AI

ilustrasi hukum (pexels.com/Sora Shimazaki)

Dokumen IPO SpaceX turut memuat sejumlah risiko hukum, termasuk penyediaan dana lebih dari setengah miliar dolar AS (setara lebih dari Rp8,8 triliun) untuk menyelesaikan berbagai tuntutan. Salah satu kasus yang disorot berkaitan dengan dugaan penyalahgunaan chatbot Grok milik xAI untuk membuat konten deepfake seksual yang merugikan perempuan dan anak perempuan.

Di tengah persoalan tersebut, Musk disebut berencana membubarkan xAI sebagai perusahaan terpisah dan menggabungkan seluruh pengembangan AI ke dalam struktur manajemen SpaceX. Dokumen pengajuan itu juga mengungkap kerja sama bisnis besar dengan perusahaan AI Anthropic.

Dilansir BBC, Anthropic disebut sepakat membayar 15 miliar dolar AS per tahun (setara Rp265 triliun) untuk menyewa akses pusat data SpaceX di wilayah selatan AS. Kesepakatan itu dibuat untuk mendukung operasional xAI setelah SpaceX mengakuisisi perusahaan infrastruktur terkait pada Februari lalu.

Meski memasukkan OpenAI dan Anthropic sebagai pesaing utama di sektor AI, SpaceX menyatakan bisnis roket serta layanan Starlink mereka masih belum memiliki tandingan global. Di sisi lain, kabar IPO muncul setelah Musk kalah dalam sidang melawan OpenAI dan Direktur Utamanya, Sam Altman.

Juri federal menolak seluruh gugatan yang diajukan Musk terkait perubahan status OpenAI dari organisasi nirlaba menjadi perusahaan komersial. Gugatan yang diajukan pada 2024 itu dinyatakan kedaluwarsa atau terlambat diajukan.

3. SpaceX memprioritaskan Starlink dan Starship

ilustrasi peluncuran roket SpaceX (pexels.com/SpaceX)

Dalam prospektus perusahaan, SpaceX menegaskan misi utamanya tetap berfokus pada pengembangan teknologi luar angkasa. Perusahaan menjelaskan visi jangka panjangnya.

“Membangun sistem dan teknologi yang diperlukan untuk menjadikan kehidupan multiplanet, memahami hakikat sebenarnya alam semesta, dan memperluas cahaya kesadaran ke bintang-bintang,” ujarnya, The Guardian.

Meski target pengiriman manusia ke Mars masih dipertahankan, SpaceX menyebut prioritas jangka pendek perusahaan saat ini tertuju pada perluasan jaringan Starlink dan penguatan infrastruktur komputasi AI. Fokus tersebut berjalan bersamaan dengan pengembangan teknologi peluncuran generasi baru mereka.

Roket raksasa Starship dijadwalkan menjalani uji peluncuran pada minggu ini. Agenda itu tetap dilaksanakan saat SpaceX menghadapi pengawasan otoritas terkait soal regulasi keselamatan pekerja di fasilitas produksi perusahaan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team