Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Analis Sebut Pasar Lakukan Detox, Waktunya Serok Saham Fundamental
Ilustrasi IHSG. (IDN Times/Aditya Pratama)

Intinya sih...

  • Analis minta investor tidak panik

  • OJK menyiapkan rencana aksi dalam 4 klaster

  • Transparansi dan sinergitas harus terus diperkuat

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Senin ini (2/2/2026) dibuka melemah hingga penutupan. Meski begitu, saham-saham dengan fundamental kuat justru menunjukkan performa positif dan terakumulasi.

Praktisi Pasar Modal Hans Kwee menyebutkan, pelemahan pasar lebih terkonsentrasi pada saham-saham yang terkena dampak kebijakan Morgan Stanley Capital International (MSCI) dan upaya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam percepatan reformasi integritas pasar modal.

“Nampaknya, pelaku pasar ritel sedang melakukan market detox dengan menjual saham-saham yang terimbas kebijakan MSCI dan perbaikan cepat yang akan dilakukan oleh OJK dan SRO,” ujar Hans dalam keterangan resminya di Jakarta, Senin (2/2/2026).

1. Analis minta investor tidak panik

ilustrasi investor saham pemula (unsplash.com/joshua mayo)

Dia pun mengingatkan agar investor tidak panik. Sebaliknya, ini adalah saat yang tepat bagi pelaku pasar ritel untuk melakukan akumulasi saham-saham yang memiliki fundamental bagus.

Sebelumnya OJK bersama pemerintah dan stakeholder terkait menegaskan komitmennya untuk mempercepat reformasi pasar modal secara menyeluruh. Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan kredibilitas pasar modal Indonesia dan membuatnya lebih menarik bagi investor.

"Ada delapan rencana aksi yang disusun untuk memastikan pasar modal Indonesia semakin kredibel dan mampu memberikan dukungan optimal bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia," ujarnya.

2. OJK menyiapkan rencana aksi dalam 4 klaster

Ilustrasi IHSG. (IDN Times/Aditya Pratama)

Ia menjelaskan, OJK sudah menyiapkan rencana aksi tersebut dikelompokkan dalam empat klaster: kebijakan baru free float, transparansi, tata kelola dan enforcement, serta sinergitas.

Klaster pertama adalah kebijakan baru terkait free float. OJK berencana menaikkan batas minimum free float emiten menjadi 15 persen, lebih tinggi dari ketentuan saat ini yang hanya 7,5 persen. Kebijakan ini akan dilakukan secara bertahap. Untuk perusahaan yang melakukan IPO, ketentuan 15 persen ini akan diterapkan langsung, sementara emiten yang sudah lama akan diberi waktu transisi.

3. Transparansi dan sinergitas harus terus diperkuat

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 14,52 poin atau 0,29 persen ke posisi 5.053,66 (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)

Kemudian klaster kedua adalah transparansi, dengan fokus pada transparansi atas ultimate beneficial owner (UBO). OJK akan memperkuat regulasi terkait transparansi kepemilikan dan afiliasi pemegang saham untuk meningkatkan kredibilitas pasar dan menarik lebih banyak investor.

"Untuk klaster ketiga, OJK akan menguatkan data kepemilikan saham dengan klasifikasi sub-tipe investor, mengacu pada praktik global. Data tersebut akan disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk dipublikasikan agar lebih transparan," ucapnya.

Tata kelola juga akan diperkuat, termasuk dengan demutualisasi Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk mengurangi konflik kepentingan. Selain itu, OJK berencana menegakkan hukum yang lebih tegas terkait pelanggaran di pasar modal, seperti manipulasi saham dan penyebaran informasi menyesatkan.

Klaster terakhir adalah sinergitas. OJK, bersama Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Bank Indonesia (BI), dan stakeholder lainnya, akan melakukan pendalaman pasar modal melalui sinergi untuk memperkuat peran pasar modal sebagai sumber pembiayaan jangka panjang. Dengan reformasi ini, OJK berharap pasar modal Indonesia bisa menjadi lebih efisien dan dapat memberikan dukungan penuh bagi pertumbuhan ekonomi nasional.

Editorial Team