ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto
Ini juga perlu dipahami oleh para investor. Saham gorengan biasanya tidak likuid alias susah dicairkan. Berbeda dengan saham lainnya, saham gorengan juga jarang aktif dalam perdagangan sehari-hari.
Selain itu, saham gorengan juga kerap bermasalah. Misalnya, terlilit utang, disuspensi Bursa Efek Indonesia, dan tidak terbuka pada publik. Kapitalisasi saham yang dimiliki juga jauh lebih kecil dibanding saham lainnya. Misalnya, saham B kapitalisasi Rp100 miliar, sementara saham C kapitalisasi Rp1 triliun.
Dikutip dari moneysmart.id, kapitalisasi pasar yaitu jumlah saham sebuah emiten yang beredar dikalikan dengan harga saham perusahaan tersebut. Misalnya, saham yang beredar emitem B mencapai 1.000.000.000 lembar. Harganya Rp100 per lembar saham. Itu artinya 1.000.000.000 lembar x Rp 100= Rp 100 miliar.
Para analis mengkategorikan emiten mana saja yang berkapitalisasi pasar besar, menengah, dan kecil. Untuk emiten berkapitalisasi besar yaitu nilainya di atas Rp4 triliun. Emiten berkapitalisasi menengah Rp2 triliun hingga Rp4 triliun. Dan untuk emiten berkapitalisasi kecil nilainya di bawah Rp1 triliun.
Nah, saham-saham yang berkapitalisasi kecil inilah yang kerap dibidik bandar untuk digoreng. Jadi, hati-hati ya sebelum berinvestasi!
Apa itu saham gorengan? | Saham gorengan adalah saham yang volumenya dipompa secara tidak wajar sehingga terlihat banyak dibeli atau dijual dalam waktu singkat, padahal tidak didukung oleh fundamental perusahaan yang kuat. Saham seperti ini sering manipulatif dan berisiko tinggi. |
Apa ciri-ciri saham gorengan? | Ciri-ciri saham gorengan biasanya termasuk volume perdagangan yang tiba-tiba melonjak drastis, harga yang bergerak tidak wajar tanpa berita fundamental, likuiditas rendah, dan sering dikaitkan dengan manipulasi pasar. |
Kenapa saham gorengan sering dikaitkan dengan kasus Jiwasraya dan Asabri? | Dalam kasus Jiwasraya dan Asabri, banyak investasi dana dilakukan pada saham yang bersifat gorengan, sehingga ketika harga saham anjlok, kerugian besar pun terjadi. Hal ini menjadi sorotan karena dana pensiun tercatat menempatkan investasi di saham high-risk yang menipu performa sebenarnya. |
Bagaimana cara membedakan saham gorengan dengan saham normal? | Saham normal biasanya memiliki fundamental perusahaan kuat, laporan keuangan yang jelas, serta volume perdagangan yang konsisten. Sebaliknya saham gorengan cenderung naik turun tajam tanpa alasan fundamental dan seringkali didukung oleh rumor atau spekulasi. |
Apakah aman berinvestasi di saham gorengan? | Investasi di saham gorengan berisiko sangat tinggi karena pergerakan harga yang tidak rasional dan mudah dimanipulasi. Investor pemula umumnya disarankan fokus pada saham dengan fundamental kuat dan strategi investasi jangka panjang. |