Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
pengelolaan sampah
ilustrasi pengelolaan sampah (Pexels.com/Robert So)

Intinya sih...

  • Waste to energy (WtE) adalah proses pengolahan sampah menjadi energi yang bisa dimanfaatkan kembali, baik dalam bentuk listrik maupun panas.

  • Terdapat beberapa metode utama dalam proses waste to energy, seperti insinerasi, gasifikasi, pirolisis, landfill gas (LFG) hingga anaerobic digestion (AD).

  • Manfaat WtE antara lain menghasilkan energi alternatif, menekan emisi gas rumah kaca, mengurangi ketergantungan pada TPA konvensional, serta dorong investasi dan lapangan kerja baru.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Istilah waste to energy (WtE) mungkin masih asing di telinga banyak orang di Indonesia. Padahal, konsep ini sudah lama diterapkan di berbagai negara sebagai solusi untuk mengatasi persoalan sampah yang meresahkan.

Selama ini, sampah masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Pada salah satu langkah yang hendak dicoba, pemerintah kini menginisiasi program Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL). Guna mendukung alternatif ini, Danantara kemudian berencana melakukan investasi untuk proyek waste to energy (WtE) dengan teknologi mutakhir.

Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara turut mengungkap tingginya minat investor domestik dan global terhadap proyek WtE. Bersama skema baru yang dirancang lebih efisien, pemerintah menargetkan peletakan batu pertama (groundbreaking) pembangunan fasilitas di 33 kota dimulai serentak pada Maret 2026.

Lantas, sebenarnya apa itu waste to energy? Simak ulasan lengkapnya di artikel ini.

1. Apa itu waste to energy?

ilustrasi truk sampah (Unsplash.com/Zibik)

Waste to energy (WtE) adalah proses pengolahan sampah menjadi energi yang bisa dimanfaatkan kembali, baik dalam bentuk listrik maupun panas. Melalui proses tertentu, volume sampah dapat dikurangi secara signifikan sekaligus menghasilkan energi yang berguna.

WtE ini juga disebut sebagai metode efektif dalam pengelolaan limbah terkendali, lebih baik jika dibandingkan dengan metode penimbunan atau daur ulang.

Secara umum, waste to energy bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada TPA konvensional. Metode ini juga bisa menghasilkan emisi gas rumah kaca (GRK) lebih rendah dibandingkan metode pengelolaan limbah lainnya.

Meski begitu, WtE bukan sumber energi yang sepenuhnya bersih, karena proses pengangkutannya tetap menghasilkan emisi karbon dan partikulat udara lainnya.

2. Metode dan cara kerja waste to energy

ilustrasi tempat pembuangan sampah (Unsplash.com/Nathan Cima)

Terdapat beberapa metode utama dalam proses waste to energy. Namun, ada satu metode yang paling umum digunakan, yakni insinerasi.

Insinerasi

Singkatnya, insinerasi ini berupa pembakaran sampah pada suhu tinggi untuk menghasilkan panas. Nah, panas tersebut kemudian digunakan untuk menghasilkan uap yang menggerakkan turbin pembangkit listrik. Berikut contoh penerapannya:

  • Sampah diangkut ke fasilitas WtE dengan ketentuan setiap bahan yang bisa didaur ulang dipisahkan.

  • Proses mengaduk limbah dengan alat, lalu memindahkannya ke ruang pembakaran.

  • Sampah dibakar di suhu tinggi. Nantinya, panas yang dihasilkan akan mengubah air menjadi uap.

  • Tekanan uap yang muncul dapat memutar bilah pada generator, lalu menghasilkan listrik.

Gasifikasi

Selain insinerasi, terdapat juga metode gasifikasi. Gasifikasi ini adalah pengolahan termokimia yang mengubah sampah menjadi gas yang mudah terbakar dengan suhu tinggi dan jumlah oksigen, uap yang terkontrol. Hasilnya berupa gas alam yang disebut syngas. Kegunaannya dapat menggantikan bensin sebagai alternatif biofuel.

Pirolisis

Kemudian, ada lagi pirolisis. Metode ini mengekspos limbah organik ke suhu tinggi tanpa oksigen yang kemudian memulai dekomposisi dan disintegrasi material. Produk sampingan umumnya seperti biochar dan gas yang mudah terbakar. Beberapa gas itu bisa dikondensasi menjadi cairan yang mudah terbakar seperti bio oil atau bio crude.

Landfill Gas (LFG)

Metode ini berupa pemanfaatan gas metana yang dihasilkan dari timbunan sampah di TPA untuk dijadikan sumber energi. LFG sendiri bisa terdiri dari metana, karbon dioksida dan sejumlah kecil senyawa non-metana. Hasilnya bisa diolah dan digunakan sebagai bahan bakar untuk keperluan industri hingga kendaraan. Prosesnya juga menjadi salah satu metode untuk mengurangi emisi metana dari TPA.

Anaerobic Digestion (AD)

Ada lagi Anaerobic Digestion (AD). Metode biokimia non-termal ini mengurai limbah organik tanpa oksigen menggunakan mikroorganisme untuk menghasilkan biogas (mengandung metana dan CO2) dan digestate (pupuk). Prosesnya bisa dijadikan solusi untuk mengolah sampah organik menjadi energi terbarukan.

3. Manfaat waste to energy

ilustrasi pengelolaan sampah (Pexels.com/Shvets Production)

Waste to energy memiliki banyak manfaat apabila dibandingkan dengan pengelolaan limbah biasa. Berikut di antaranya:

1. Mengurangi volume limbah

Pada pemakaiannya, waste to energy disebut mampu memangkas volume sampah secara signifikan, terutama melalui metode insinerasi. Hal ini akan sangat membantu mengurangi beban tempat pembuangan akhir (TPA) yang selama ini menjadi masalah utama di Indonesia.

2. Menghasilkan energi alternatif

Sampah yang diolah melalui waste to energy bisa diubah menjadi listrik, panas, atau bahan bakar alternatif. Hasilnya itu dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga maupun industri, sehingga mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

3. Menekan emisi gas rumah kaca

Sampah yang menumpuk di TPA terbukti menghasilkan gas metana, salah satu gas rumah kaca paling berbahaya. Nah, dengan pengelolaan menjadi energi, emisi metana bisa ditekan sekaligus membantu upaya mitigasi perubahan iklim.

4. Mengurangi ketergantungan pada TPA konvensional

Waste to energy bisa menjadi solusi bagi daerah yang memiliki keterbatasan lahan TPA. Sampah tidak lagi sepenuhnya dibuang, melainkan diolah dan dimanfaatkan.

5. Dorong investasi dan lapangan kerja baru

Pembangunan fasilitas waste to energy membutuhkan tenaga kerja terampil dan dukungan industri teknologi. Hal ini berpotensi membuka lapangan kerja baru serta menarik investasi di sektor pengelolaan sampah dan energi terbarukan.

6. Meningkatkan kebersihan dan kualitas lingkungan

Pengelolaan sampah yang lebih modern melalui waste to energy dapat mengurangi pencemaran tanah, air, dan udara akibat limbah. Dampaknya akan sangat positif pada kesehatan masyarakat di sekitarnya.

4. Tantangan penerapan waste to energy

ilustrasi pengelolaan sampah (Unsplash.com/Nareeta Martin)

Meski memiliki banyak manfaat, penerapan waste to energy tidak lepas dari tantangan. Salah satunya adalah biaya investasi awal yang relatif tinggi, terutama untuk pembangunan fasilitas dan teknologi pengolahan. Selain itu, masih ada kekhawatiran masyarakat terkait emisi dan dampak lingkungan jika pengelolaannya tidak dilakukan dengan standar yang ketat.

Sistem waste to energy juga kerap disorot aktivis lingkungan karena metodenya tidak menghambat produksi sampah. Sebagian menganggap WtE berada di garis batas antara sirkularitas dan penggunaan sumber daya secara linear. Lalu, WtE juga membutuhkan pembuangan sampah berskala besar dan sistem pengelolaan sampah padat agar dapat berfungsi dalam skala komersial.

Tantangan lainnya adalah kesiapan sistem pengelolaan sampah itu sendiri. Waste to energy membutuhkan pasokan sampah yang terpilah agar prosesnya efisien. Tanpa dukungan pemilahan sampah dari hulu, kinerja fasilitas WtE bisa menjadi kurang optimal.

5. Negara mana yang sudah menerapkan waste to energy?

ilustrasi cerobong asap (Pexels.com/Shox Art)

Penggunaan waste to energy sudah banyak ditemukan di negara padat penduduk dengan lahan terbatas. Sebagai contoh, ada Jepang yang dikenal sebagai salah satu negara paling maju dalam penerapannya. Negeri Sakura telah mengandalkan insinerator modern untuk mengolah sampah perkotaan menjadi listrik dan panas, tentunya dengan standar emisi yang sangat ketat.

Selain Jepang, negara Asia lain yang ikut menerapkannya adalah Singapura, Korea Selatan hingga China. Melalui perencanaan strategis yang cerdas, mereka mampu mengubah limbah sampah menjadi sumber energi listrik bagi kehidupan warganya.

Beralih ke Eropa, WtE juga banyak digunakan, termasuk Swedia. Mereka menjadikan waste to energy sebagai bagian penting dari sistem energinya. Sebagian besar sampah domestik diolah menjadi energi dan dimanfaatkan untuk membantu bergeraknya sejumlah sektor. Selain Swedia, ada nama lain seperti Denmark, Jerman, hingga Belanda.

Di Timur Tengah, ada Uni Emirat Arab memiliki salah satu fasilitas waste to energy terbesar di dunia. Pengoperasiannya telah terbukti membantu pengelolaan limbah dan menjadikannya bermanfaat untuk berbagai sektor.

Demikian tadi ulasan mengenai apa itu waste to energy yang bisa diketahui. Semoga informasinya bisa bermanfaat dan menambah wawasanmu, ya!

FAQ seputar waste to energy

Apa yang dimaksud dengan waste to energy?

Waste to energy (WtE) adalah proses pengolahan sampah menjadi energi yang bisa dimanfaatkan kembali, baik dalam bentuk listrik maupun panas.

Apa saja manfaat penerapan waste to energy?

Ada banyak manfaat dari waste to energy. Di antaranya termasuk mengurangi volume limbah secara signifikan, menghasilkan energi alternatif, menekan emisi gas rumah kaca hingga meningkatkan kebersihan dan kualitas lingkungan.

Negara mana yang sudah menerapkan waste to energy?

Saat ini, ada banyak negara di dunia yang sudah menerapkan waste to energy. Di Asia, ada Jepang, Korea Selatan, Singapura hingga China. Sementara di Eropa ada nama seperti Swedia, Jerman, Denmark hingga Belanda.

Editorial Team