Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
APBN Tertekan, Ekonom Minta Pemerintah Tinjau Ulang Program Prioritas
Policy and Program Director Prasasti, Piter Abdullah dalam diskusi di Jakarta. (IDN Times/Triyan).
  • Pemerintah diminta meninjau ulang seluruh pos anggaran dan memprioritaskan program yang mendesak untuk menjaga kesehatan fiskal di tengah potensi pelebaran defisit APBN.
  • Subsidi energi dinilai perlu dipertahankan agar kenaikan harga minyak dunia tidak menekan daya beli masyarakat dan memicu inflasi tinggi.
  • Pelebaran defisit berisiko meningkatkan kebutuhan pembiayaan utang, sehingga pemerintah harus berhati-hati karena kondisi pasar global belum sepenuhnya mendukung.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pemerintah diminta melakukan realokasi serta prioritas ulang anggaran program untuk menjaga kesehatan fiskal di tengah potensi pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akibat kenaikan harga minyak dunia dan meningkatnya tensi geopolitik yang berdampak pada perekonomian domestik.

Policy and Program Director Prasasti Center for Policy Studies, Piter Abdullah mengatakan, pelebaran defisit kemungkinan sulit dihindari. Namun, menurutnya, langkah tersebut harus dilakukan secara hati-hati dengan meninjau kembali seluruh pos anggaran pemerintah.

“Kalau defisit harus melebar, itu harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Pemerintah perlu meninjau kembali semua anggaran, melakukan efisiensi secara maksimal, serta memprioritaskan program yang benar-benar mendesak,” ujar Piter di Jakarta, Kamis (12/3/2026).

1. Porgram yang tidak mendesak bisa diundur terlebih dahulu

SPPG Tambolaka ini kita memanfaatkan petani lokal, peternak, dan pengusaha-pengusaha lokal yang ada di Kabupaten Sumba Barat Daya untuk program MBG. (Dok. Tim Komunikasi Prabowo)

Ia menilai, program yang belum mendesak sebaiknya ditunda untuk sementara waktu agar ruang fiskal dapat difokuskan pada kebijakan yang berdampak langsung terhadap stabilitas ekonomi. Salah satu anggaran yang dinilai perlu diprioritaskan adalah subsidi energi.

Menurut Piter, kenaikan harga minyak dunia berpotensi ditransmisikan ke harga bahan bakar minyak (BBM) domestik dan memicu lonjakan inflasi. Jika harga BBM domestik naik tajam, kondisi tersebut berisiko menekan daya beli masyarakat, meningkatkan inflasi, serta berdampak pada perlambatan pertumbuhan ekonomi dan kenaikan pengangguran.

“Subsidi energi menjadi penting karena jika harga minyak dunia sepenuhnya diteruskan ke harga BBM domestik, dampaknya terhadap inflasi dan daya beli masyarakat bisa sangat besar,” kata dia.

2. Perlu segera lakukan rasionalisasi program

Makanan MBG di salah satu sekolah di Bulukumba, Sulawesi Selatan (Sulsel), diduga berbau busuk, Jumat (23/5/2025)/Istimewa

Di sisi lain, Piter juga menilai, pemerintah perlu mengevaluasi skala sejumlah program belanja. Salah satunya adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dapat ditinjau kembali cakupan dan target penerimanya agar pelaksanaannya lebih efektif.

Ia menilai, rasionalisasi program diperlukan agar perhitungan fiskal dalam APBN tetap terjaga di tengah tekanan ekonomi global.

"Memprioritaskan yang memang harus diprioritaskan. Kalau program-program tersebut (MBG) bisa ditunda, mbok ya ditunda dulu. Utamakan yang paling perlu diutamakan misalnya yang subsidi itu perlu diutamakan," ujarnya.

3. Jika defiist melebar maka kebutuhan pembiayaan dari penarikan utang akan terganggu

Ilustrasi APBN (IDN Times/Arief Rahmat)

Selain itu, pemerintah juga perlu mengantisipasi tantangan pembiayaan anggaran apabila defisit melebar. Defisit yang lebih besar berarti kebutuhan pembiayaan melalui penerbitan surat utang negara (SUN) juga meningkat, namun kondisi pasar keuangan global dinilai tidak sepenuhnya mendukung.

Ketidakpastian akibat konflik geopolitik berpotensi menekan minat investor global terhadap aset berisiko, termasuk surat utang negara dari negara berkembang.

"Di sisi lain, Indonesia juga menghadapi tantangan dari sisi domestik, termasuk outlook lembaga pemeringkat internasional yang masih menjadi perhatian pasar," ujarnya.

Menurut Piter, kombinasi faktor global dan domestik tersebut dapat mempengaruhi minat investor terhadap SUN, sehingga pemerintah perlu lebih berhati-hati dalam memperlebar defisit.

“Karena itu efisiensi dan pemilihan program yang benar-benar prioritas menjadi penting. Sebab meskipun defisit diperbolehkan melebar, tantangan pembiayaannya tetap tidak mudah,” ujarnya.

Editorial Team